- • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegask tidak akan menyerang negara itu sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November 2026.
- • Trump mengaku sedang melakukan pembicaraan produktif dengan Iran.
- • Trump disebut tengah mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas nuklir, infrastruktur energi, dan target strategis Iran sebelum pemilu.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November 2026.
Trump mengatakan pemerintahannya sedang menjalin komunikasi dengan Teheran untuk membahas penyelesaian konflik. Ia juga menegaskan bahwa blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran masih berlaku, sementara pengiriman minyak tetap berlangsung melalui Selat Hormuz.
"Kami sedang melakukan pembicaraan produktif dengan Republik Islam Iran," tulis Trump melalui media sosial pada Kamis.
Dalam pernyataan yang sama, Trump menyampaikan batas waktu terkait kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.
"Kami tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu paruh waktu yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November," kata Trump.
Pernyataan tersebut memberikan sinyal bahwa Washington masih membuka jalur diplomasi di tengah konflik yang telah melibatkan serangan militer AS dan Israel terhadap Iran sejak Februari 2026.
Namun, pernyataan itu muncul ketika Gedung Putih tidak menutup kemungkinan serangan militer baru, sementara laporan media AS menyebut Washington tengah mempertimbangkan sejumlah target strategis di Iran.
Gedung Putih Tak Menutup Opsi Serangan Sebelum Pemilu
Ketidakpastian muncul setelah The Atlantic melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan rencana serangan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu November.
Ketika dimintai tanggapan oleh NewsNation mengenai laporan tersebut, seorang pejabat Gedung Putih tidak membenarkan ataupun membantah adanya rencana itu. Pejabat tersebut justru menegaskan bahwa presiden tetap memiliki berbagai pilihan tindakan militer.
"Panglima Tertinggi memiliki semua opsi yang tersedia kapan saja," kata pejabat Gedung Putih itu.
Ia juga mengklaim bahwa posisi Amerika Serikat dalam konflik tersebut sangat kuat, terutama karena Washington mengendalikan Selat Hormuz dan perekonomian Iran disebut sedang mengalami keruntuhan.
"Iran telah dihancurkan, dan situasinya akan berjalan melalui salah satu dari dua cara: cara mudah atau cara sulit. Presiden Trump memegang semua kartu dan akan melakukan apa pun yang terbaik bagi Amerika Serikat," ujar pejabat tersebut.
Sementara itu, Axios melaporkan pada Rabu bahwa kemungkinan serangan AS dapat menyasar fasilitas nuklir Iran, infrastruktur energi, serta sejumlah elemen strategis lainnya.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa opsi militer masih menjadi bagian dari pertimbangan Washington meskipun Trump secara terbuka menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu. Namun, laporan mengenai persiapan serangan itu belum menjadi konfirmasi bahwa keputusan untuk melancarkan operasi militer telah diambil.
Baca Juga
Trump Siapkan Lagi Opsi Serangan Besar ke Iran Jelang Pemilu Sela AS, tapi Persediaan Senjata Jadi Kendala
Internasional
Negosiasi AS-Iran Mandek, Tawaran Teheran Ditolak Trump
Pertimbangan mengenai kemungkinan serangan baru muncul ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang belum mencapai kesepakatan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat dan Iran telah bertukar proposal untuk menghentikan konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.
Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran. Sementara itu, pejabat Iran masih menyatakan kesediaan untuk menempuh jalur diplomasi.
Menurut laporan Axios, mediator Qatar masih menunggu jawaban Iran atas proposal balasan Amerika Serikat. Usulan Washington tersebut mencakup sejumlah konsesi terkait program nuklir Iran.
Belum adanya kesepakatan membuat kedua negara masih menghadapi jalan panjang untuk mengakhiri konflik. Di satu sisi, Trump mengklaim Amerika Serikat memiliki posisi tawar yang kuat. Di sisi lain, pemerintahannya masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam konflik ini karena jalur tersebut berperan besar dalam pengiriman minyak dan energi global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat memengaruhi pasokan serta harga energi internasional.
Perang Iran Jadi Beban Politik Partai Republik
Selain persoalan militer dan diplomasi, konflik Iran juga menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu.
Biaya perang diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS per bulan atau sekitar Rp52,5 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS. Besarnya pengeluaran tersebut menjadi salah satu isu yang diperdebatkan selama kampanye pemilihan anggota Kongres.
Harga bahan bakar yang tinggi juga membebani kandidat Partai Republik. Kondisi itu berpotensi mengancam dominasi partai tersebut di Kongres karena biaya energi menjadi persoalan yang langsung dirasakan masyarakat Amerika Serikat.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa harga minyak akan turun tajam setelah pemilu. Namun, perang yang belum berakhir dan tingginya harga bensin tetap menjadi tantangan bagi kandidat Partai Republik yang berupaya mempertahankan dukungan pemilih.
Pernyataan Trump untuk tidak menyerang Iran sebelum 3 November karena itu muncul dalam situasi ketika pemerintahannya menghadapi dua persoalan sekaligus: mencari jalan keluar dari konflik dan mengurangi tekanan politik akibat biaya perang serta harga energi.
Meski demikian, belum ada kepastian bahwa negosiasi akan menghasilkan kesepakatan sebelum pemilu. Trump telah menolak tawaran terbaru Iran, sedangkan Teheran masih menyatakan terbuka terhadap diplomasi.
Dengan Gedung Putih yang tetap mempertahankan seluruh opsi militer, perkembangan negosiasi dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu arah konflik. Untuk saat ini, Trump menjanjikan tidak ada serangan sebelum pemilu, tetapi pemerintahannya belum menutup kemungkinan mengambil tindakan militer pada waktu lain.
Baca Juga
Trump Siapkan Opsi Serangan Baru, AS Kerahkan 3 Kapal Induk dan Ribuan Marinir Dekati Iran
Internasional