Mengapa Indonesia dan Malaysia Ribut Terus meski Saudara Jiran?

Mengapa Indonesia dan Malaysia Ribut Terus meski Saudara Jiran?
Peta Rumpun Melayu, sumber: Getty Images
Ikhtisar
  • • Perseteruan berulang antara Indonesia dan Malaysia berakar pada fenomena sosiologis narcissism of small differences (narsisisme perbedaan kecil) di antara dua bangsa serumpun.
  • • Rivalitas di lapangan hijau dan klaim budaya memicu teori identitas sosial, di mana masyarakat membangun batasan tegas antara "kelompok kita" (in-group) dan "kelompok mereka" (out-group).
  • • Ingatan kolektif historis dan konstruksi nasionalisme (imagined communities) terus direproduksi serta diamplifikasi oleh interaksi agresif di media sosial.

INFORMASI.COM, Jakarta -Mulai dari persaingan di lapangan sepak bola hingga perdebatan terkait makanan tradisional, hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia selalu diwarnai oleh dinamika pasang surut yang unik di ruang publik. Perseteruan kedua negara bertetangga ini muncul secara konsisten dalam berbagai medium sosial, mulai dari tensi tinggi sampai bisa menjadi rutinitas yang berkepanjangan.

Secara sosiologis, fenomena perselisihan tanpa henti ini dapat dibedah menggunakan konsep narsisisme perbedaan kecil (narcissism of small differences) oleh Sigmund Freud (1917). Konsep ini menjelaskan bahwa dua kelompok sosial yang memiliki kedekatan budaya, bahasa, dan geografis justru paling rentan terlibat dalam gesekan emosional. Label sebagai bangsa "serumpun" membuat batas identitas menjadi kabur, sehingga masyarakat dari kedua negara cenderung bereaksi agresif untuk mempertegas perbedaan identitas mereka masing-masing.

Teori etnosentrime in-group dan out-group oleh William Sumner (1906) juga turut mempertegas akar konflik kolektif tersebut. Masyarakat Indonesia secara alamiah membangun identitas "kelompok kita" (in-group) yang berhadapan langsung dengan Malaysia sebagai ancaman "kelompok luar" (out-group). Sentimen kelompok ini menebal dengan cepat ketika terjadi perebutan klaim warisan budaya atau persaingan harga diri di ajang olahraga. Sepak bola, dalam konteks sosial ini, tidak lagi berdiri sebagai sekadar olahraga hiburan. Lapangan hijau berubah fungsi menjadi arena pertarungan nasionalisme dan pembuktian supremasi kelompok.

Selain itu, jejak historis memainkan peran penting dalam memelihara konflik laten ini. Ingatan kolektif masyarakat Indonesia terhadap era Konfrontasi "Ganyang Malaysia" pada tahun 1960-an mewariskan sentimen bawah sadar terkait pembelaan kedaulatan negara. Saat ini, pesatnya perkembangan media sosial mempercepat reproduksi sentimen historis tersebut.

Nasionalisme kedua negara berfungsi sebagai komunitas terbayang (imagined communities) yang terus-menerus mencari musuh bersama untuk memperkuat solidaritas internal. Pada akhirnya, selama kedekatan budaya masih menimbulkan kecemasan akan hilangnya identitas otentik, rivalitas antara Indonesia dan Malaysia akan terus berlanjut sebagai mekanisme pertahanan sosial di tengah masyarakat modern.

Saling Ketergantungan

Namun, di balik riuhnya narasi permusuhan di media sosial, terdapat fakta sosial yang tak terbantahkan bahwa Indonesia dan Malaysia sebenarnya saling membutuhkan dan terikat dalam jaring-jaring ketergantungan ekonomi dan sosial yang sangat kuat. Perseteruan di tingkat wacana tidak pernah benar-benar merusak fondasi kerja sama riil di tingkat praktis.

Banyak Pekerja Migran Indonesia di MalaysiaMalaysia sangat bergantung pada Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk menopang sektor-sektor strategis perekonomian mereka, seperti perkebunan kelapa sawit, konstruksi, manufaktur, hingga jasa domestik. Menurut data BP2MI, Malaysia merupakan negara tujuan utama penempatan PMI, dengan jumlah kumulatif yang tercatat resmi mencapai jutaan jiwa. Di sisi lain, arus remitansi (pengiriman uang) dari PMI di Malaysia menjadi salah satu tulang punggung penopang ekonomi keluarga dan penggerak ekonomi daerah di berbagai penjuru Nusantara. 

Indonesia Tujuan Utama Wisata Warga MalaysiaBerdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), wisatawan asal Malaysia secara konsisten menduduki peringkat pertama atau jajaran teratas porsi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia (menyumbang sekitar 16–17% dari total wisman). Wisatawan Malaysia memadati destinasi utama seperti Jakarta, Bandung, Bali, hingga Medan untuk pelesiran dan belanja. Sebaliknya, warga Indonesia menjadikan Malaysia sebagai destinasi utama untuk pengobatan (seperti di Penang dan Kuala Lumpur), pendidikan tinggi, hingga wisata keluarga.

Ekspor Impor Jalan Terus

Data Kementerian Perdagangan RI memperlihatkan nilai total perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia terus mencatatkan angka yang signifikan, yakni berada di kisaran USD 21 hingga USD 24 miliar. Komoditas utama meliputi energi, bahan pangan, produk manufaktur, dan produk olahan kelapa sawit. Kedua negara bahkan berkolaborasi secara rapat di tingkat global melalui Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) untuk membela kepentingan pasar minyak sawit (CPO) bersama dari diskriminasi kebijakan internasional.

Pada akhirnya, rivalitas antara Indonesia dan Malaysia bukanlah tanda dari ketidakcocokan, melainkan dampak dari kedekatan yang sangat intensif. Selama kedekatan budaya masih menimbulkan kecemasan akan hilangnya identitas otentik, pertengkaran di panggung depan akan terus berulang sebagai mekanisme pertahanan sosial. Namun, selama kebutuhan ekonomi, tenaga kerja, dan mobilitas warga kedua negara saling melengkapi, Indonesia dan Malaysia akan terus melangkah bersama sebagai dua tetangga yang tak bisa dipisahkan.

Thumbnail Fenomena Film Agak Laen dan Ngeri-Ngeri Sedap: Mengapa Film Berlatar Budaya Batak Kuasai Bioskop Indonesia?
i

Baca Juga

Fenomena Film Agak Laen dan Ngeri-Ngeri Sedap: Mengapa Film Berlatar Budaya Batak Kuasai Bioskop Indonesia?

Hiburan

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.