Fenomena Film Agak Laen dan Ngeri-Ngeri Sedap: Mengapa Film Berlatar Budaya Batak Kuasai Bioskop Indonesia?

Fenomena Film Agak Laen dan Ngeri-Ngeri Sedap: Mengapa Film Berlatar Budaya Batak Kuasai Bioskop Indonesia?
Gala Premier Film Agak Laen 2: Menyala Pantiku, sumber: awwe182
Ikhtisar
  • • Kesuksesan Ngeri-Ngeri Sedap, Agak Laen, dan Agak Laen: Menyala Pantiku! menegaskan bahwa film berlatar budaya Batak kini mampu mendominasi pasar bioskop Indonesia.
  • • Pencapaian 9,1 juta penonton untuk Agak Laen, 11 juta penonton untuk sekuelnya, dan lebih dari 2,8 juta penonton untuk Ngeri-Ngeri Sedap menunjukkan penerimaan luas masyarakat terhadap cerita berbasis lokalitas.
  • • Fenomena ini dipahami sebagai respons sosiologis terhadap kerinduan akan kehangatan komunal, solidaritas keluarga, serta identitas budaya di tengah kehidupan urban yang individualistis.

INFORMASI.COM, Jakarta - Dunia perfilman Indonesia pada beberapa waktu terakhir dikejutkan oleh pencapaian luar biasa dari film-film dengan tema dan nuansa budaya dan daerah, terkhususnya budaya Batak.

Seperti dua franchise film Agak Laen yang berhasil dengan jutaan penonton, yakni Agak Laen (2024) yang menembus lebih dari 9 juta penonton, serta Agak Laen 2: Menyala Pantiku (2026) yang secara mengejutkan menjadi film terlaris di Indonesia dengan jumlah 11 juta penonton.

Rekam jejak perjalanan film-film bertemakan budaya dan daerah Batak dibuka melalui salah satu film karya Bene Dion Rajaguguk yakni Ngeri-Ngeri Sedap (2022) yang meraih 2,8 juta penonton sekaligus menjadi perwakilan Indonesia di ajang Best International Feature Film Academy Awards, menandai sebuah pergeseran kultural yang masif dalam industri sinema tanah air. 

Selama puluhan tahun, layar lebar Indonesia didominasi oleh narasi Jakarta-sentris atau romantisasi kehidupan urban yang elit. Namun, meledaknya film-film bertema “kesukuan” khususnya Batak menjadi anomali yang menuntut penjelasan lebih dalam.

Sebagai fenomena sosial, pergeseran selera penonton secara masif ini bukan sekadar tren pasar yang kebetulan. Menggunakan pisau analisis keilmuan sosiologi, kita dapat membedah realitas empiris mengapa representasi lokalitas kini justru menjadi komoditas paling universal di Indonesia.

Thumbnail Film Indonesia Menuju Oscar 2027, Apa yang Membuat Empat Musim Pertiwi Layak Diperhatikan?
i

Baca Juga

Film Indonesia Menuju Oscar 2027, Apa yang Membuat Empat Musim Pertiwi Layak Diperhatikan?

Hiburan

Dekonstruksi Jakarta-Sentrisme dan Representasi Kultural

Selama ini, masyarakat di luar Jakarta mengalami sebuah pengasingan atau alienasi kultural; mereka menonton film Indonesia tetapi tidak melihat realitas kehidupan mereka di layar. Kesuksesan film bertema Batak adalah bentuk resistensi dan dekonstruksi terhadap hegemoni budaya populer ibu kota.

Dalam teori Representasi dari sosiolog Stuart Hall, media berfungsi memproduksi makna. Ngeri-Ngeri Sedap dan Agak Laen memberikan representasi yang otentik tentang masyarakat daerah. Penonton yang berasal dari kelas pekerja, kaum perantau, dan masyarakat non-metropolitan akhirnya menemukan "cermin" identitas mereka. Sentimen kedaerahan ini diamplikasikan secara kolektif yang mendorong penonton berbondong-bondong ke bioskop, menciptakan rasa kebanggaan komunal (pride) yang selama ini terpinggirkan.

Thumbnail Agak Laen 2 Sentuh 10,8 Juta Penonton, Siap Salip Avengers: Endgame?
i

Baca Juga

Agak Laen 2 Sentuh 10,8 Juta Penonton, Siap Salip Avengers: Endgame?

Hiburan

Kerinduan pada Gemeinschaft di Tengah Keterasingan Gesellschaft

Ferdinand Tönnies, ilmuwan sosiologi Jerman, membagi masyarakat menjadi dua kelas yakni Gemeinschaft (paguyuban/komunitas tradisional yang intim) dan Gesellschaft (patembayan/masyarakat modern yang individualis).

Mayoritas penonton bioskop adalah masyarakat urban yang sehari-hari hidup dalam realitas Gesellschaft yang kaku, rasional, dan penuh tekanan.

Film-film berlatar Batak menyajikan sebuah kebaharuan realitas Gemeinschaft yang sangat kental. Ada konsep Marga, kumpulan di lapo (kedai), keluarga besar yang cerewet namun peduli, serta tradisi adat yang mengikat. Penonton apa pun suku aslinya, yang secara psikologis merindukan kehangatan komunal tersebut.

Dinamika keluarga Pak Domu dalam Ngeri-Ngeri Sedap atau solidaritas empat sekawan dalam Agak Laen menawarkan katarsis sosiologis bagi masyarakat modern yang terasing dari akar sosialnya.

Thumbnail Di Balik Layar Film G30S/PKI: Siapa Saja yang Terlibat?
i

Baca Juga

Di Balik Layar Film G30S/PKI: Siapa Saja yang Terlibat?

Nasional

Solidaritas Kaum Perantau

Konsep tradisi merantau sangat melekat pada banyak suku di Indonesia, terutama Batak dan Minang. Ngeri-Ngeri Sedap secara brilian menangkap fenomena sosiologis ini. Menurut Emile Durkheim, sosiolog asal Prancis, masyarakat tradisional diikat oleh "Solidaritas Mekanik" (kesamaan nilai dan kepercayaan).

Ketika anak-anak Batak merantau ke kota besar, mereka dipaksa masuk ke dalam "Solidaritas Organik" (pembagian kerja yang kompleks dan nilai yang beragam).

Benturan dua solidaritas inilah yang menjadi daya tarik utama. Penonton yang mayoritas adalah perantau merasakan kedekatan empiris dengan dilema karakter di film: tuntutan untuk sukses secara ekonomi di kota besar (rasionalitas), namun tetap diwajibkan mematuhi tuntutan adat dan ekspektasi orang tua di kampung halaman (tradisi).

Melonjaknya popularitas film-film bertema kesukuan seperti Agak Laen dan Ngeri-Ngeri Sedap membuktikan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengalami kematangan konsumsi kultural.

Dari kacamata sosial, film-film ini berhasil memotret realitas sosial yang empiris: benturan modernitas dan tradisi, kerinduan pada ikatan komunal, dan dinamika keluarga patriarki.

Sinekomedi berbalut lokalitas kini bukan lagi tontonan pinggiran, melainkan pusat baru dari pop culture Indonesia yang plural, logis, dan relevan dengan kegelisahan sosial masyarakatnya saat ini.

Thumbnail Film “Meong!” Karya Mahasiswa ITB Raih Penghargaan Internasional
i

Baca Juga

Film “Meong!” Karya Mahasiswa ITB Raih Penghargaan Internasional

Hiburan

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.