- • Pemerintah Inggris mengajak masyarakat menyiapkan persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi gangguan darurat selama tiga hari.
- • Jepang menyarankan rumah tangga menyimpan persediaan makanan minimal tiga hari, idealnya hingga satu minggu.
- • Kedua negara memiliki panduan kesiapsiagaan dengan latar belakang dan cakupan yang berbeda.
INFORMASI.COM, Jakarta – Pemerintah Inggris dan Jepang mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok di rumah. Imbauan ini menjadi perhatian karena kedua negara menekankan pentingnya kesiapsiagaan ketika terjadi keadaan darurat yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Inggris meluncurkan kampanye kesiapsiagaan bertajuk Be Ready pada Oktober 2026. Melalui kampanye tersebut, masyarakat diajak mempersiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi gangguan layanan penting, seperti listrik, air, telepon, dan internet.
Sementara itu, Jepang telah memiliki panduan penyimpanan makanan rumah tangga yang disusun berdasarkan pengalaman menghadapi bencana alam dan gangguan distribusi. Meski sama-sama mendorong masyarakat menyimpan persediaan di rumah, terdapat perbedaan konteks dalam penerapan panduan kedua negara tersebut.
Inggris Minta Warga Siapkan Persediaan untuk Tiga Hari
Pemerintah Inggris melalui kampanye Be Ready menganjurkan rumah tangga menyiapkan makanan tahan lama dan air minum untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari. Masyarakat juga disarankan menyediakan obat-obatan penting, senter, baterai, radio portabel, serta uang tunai.
Menteri Keamanan Inggris, Dan Jarvis, menyampaikan dalam pengumuman resmi pemerintah:
“Those who can follow this advice should follow this advice.”
Pernyataan tersebut berarti masyarakat yang mampu mengikuti anjuran kesiapsiagaan sebaiknya melakukannya. Jarvis juga menjelaskan bahwa persiapan sederhana untuk menghadapi keadaan darurat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap layanan darurat, sehingga bantuan bisa diprioritaskan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Kampanye tersebut mencakup sejumlah risiko, seperti cuaca ekstrem, banjir, kebakaran hutan, pemadaman listrik, dan insiden siber. Gangguan semacam itu dapat memengaruhi layanan yang digunakan masyarakat setiap hari, termasuk akses komunikasi dan informasi.
Pemerintah Inggris juga menekankan bahwa persiapan tidak harus dilakukan sekaligus. Warga dapat memeriksa kebutuhan yang sudah tersedia di rumah, kemudian melengkapi kekurangannya secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.
Selain menyiapkan barang kebutuhan, masyarakat dianjurkan mencatat nomor telepon penting dan memperhatikan kondisi tetangga, terutama lansia atau orang yang mungkin membutuhkan bantuan tambahan saat keadaan darurat.
Jepang Sarankan Persediaan Makanan hingga Satu Minggu
Di Jepang, penyimpanan makanan merupakan bagian dari panduan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menyarankan masyarakat memiliki persediaan makanan minimal tiga hari dan, jika memungkinkan, hingga satu minggu.
Dalam panduan resminya, kementerian tersebut menyatakan:
“Be sure to always keep emergency food supplies comprising staples (carbohydrates) and main dishes (protein) to last at least three days and preferably a week.”
Artinya, masyarakat dianjurkan menyediakan makanan pokok yang mengandung karbohidrat serta lauk sebagai sumber protein untuk memenuhi kebutuhan selama sedikitnya tiga hari, dan idealnya satu minggu.
Panduan ini berkaitan dengan risiko bencana yang dapat mengganggu pasokan listrik, air bersih, dan distribusi barang. Jepang merupakan negara yang menghadapi risiko gempa bumi dan tsunami, sehingga kesiapan rumah tangga menjadi salah satu bagian dari upaya mengurangi dampak bencana.
Kementerian tersebut menjelaskan bahwa ketika distribusi logistik terhenti, makanan dapat sulit diperoleh di supermarket maupun toko serba ada. Dalam kondisi seperti itu, persediaan di rumah dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan sebelum pasokan kembali normal.
Jepang juga menganjurkan metode rolling stock, yakni membeli sedikit lebih banyak bahan pangan sehari-hari, menggunakannya secara bergantian, lalu mengganti barang yang telah dikonsumsi. Metode ini memungkinkan rumah tangga menjaga persediaan tanpa harus membeli seluruh kebutuhan darurat sekaligus.
Apa Saja yang Dianjurkan untuk Disimpan?
Persediaan darurat yang dianjurkan kedua negara mencakup kebutuhan dasar yang dapat digunakan ketika aktivitas sehari-hari terganggu. Makanan tahan lama, air minum, dan obat-obatan menjadi bagian penting dari persiapan tersebut.
Di Jepang, pilihan makanan yang dianjurkan antara lain beras, makanan kaleng, mi kering, makanan siap saji, dan bahan pangan lain yang relatif mudah disimpan. Persediaan juga perlu disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, kebutuhan gizi, serta kondisi khusus, seperti makanan untuk bayi atau orang yang memiliki alergi.
Sementara itu, panduan Inggris tidak hanya berfokus pada makanan. Perlengkapan penerangan, baterai cadangan, alat komunikasi, dan informasi kontak penting juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan rumah tangga.
Kedua panduan tersebut mendorong masyarakat menyiapkan kebutuhan secara realistis. Persediaan perlu diperiksa secara berkala agar makanan tidak kedaluwarsa dan barang yang
digunakan dapat segera diganti.
Kesiapsiagaan di Tengah Perhatian terhadap Keamanan Global
Imbauan untuk menyimpan makanan muncul ketika isu keamanan dan ketahanan nasional menjadi perhatian di berbagai negara. Namun, panduan persediaan rumah tangga di Inggris dan Jepang memiliki cakupan yang lebih luas daripada persiapan menghadapi konflik bersenjata.
Di Inggris, kampanye Be Ready secara khusus mengajak masyarakat menghadapi gangguan layanan penting akibat berbagai keadaan darurat. Adapun panduan Jepang menekankan kesiapan pangan ketika bencana menghambat distribusi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, informasi mengenai imbauan tersebut perlu dipahami sesuai konteks kebijakan masing-masing negara. Persediaan makanan merupakan salah satu unsur kesiapsiagaan rumah tangga, bersama dengan kebutuhan air, obat-obatan, perlengkapan darurat, dan akses terhadap informasi.
Pemerintah kedua negara mendorong masyarakat membangun kebiasaan bersiap menghadapi kemungkinan gangguan secara bertahap. Dengan persediaan yang sesuai kebutuhan, rumah tangga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar ketika layanan dan distribusi barang tidak berjalan seperti biasa.
Baca Juga
Dari Bastille hingga Jalanan Paris: Membaca Kerusuhan Prancis 2026 sebagai Gerakan Sosial
Internasional