Candi Gedong Songo: Situs Sejarah Tempat Pembauran Dua Kepercayaan

INFORMASI.COM, Jakarta – Kalau kamu liburan ke Semarang, Jawa Tengah, jangan lupa untuk mampir ke Candi Gedong Songo. Candi tersebut merupakan peninggalan umat Hindu pada abad ke-8 Masehi.
Dikutip dari buku Pusaka Nenek Moyang di Lereng Selatan Gunung Ungaran karya Tri Hatmadji, Sabtu (11/1/2025), Candi Gedong Songo ini berarti sembilan bangunan. Candi Gedong Songo diduga ada sembilan bangunan. Namun, kini hanya tersisa lima gedung.
Candi Gedong Songo terletak di Desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Ungaran, Semarang, Jawa Tengah.
Profil Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang Tertarik kepada Candi BorobudurKompleks percandian di lereng Gunung Ungaran ini, menurut Hatmadji, pertama kali ditemukan oleh Loten pada 1740. Enam dekade kemudian, tepatnya pada 1804, kompleks cagar budaya ini dicatat oleh Thomas Stamford Raffles dengan nama "Gedoeng Pitoe" karena hanya ditemukan tujuh bangunan candi.
Kompleks candi ini dibangun berderet dari bawah hingga puncak perbukitan di lereng Gunung Ungaran. Hal ini, menurut Hatmadji, menunjukkan karakter sangat khas yaitu perpaduan antara dua religi yang bersifat lokal dan global.
Gunung adalah tempat persembahan kepada roh nenek moyang. Kepercayaan ini merupakan tradisi masyarakat lokal pra-Hindu.
Selain itu, gunung juga merupakan tempat bersemayam para dewa menurut tradisi Hindu. Kedua aliran kepercayaan ini pun berbaur di selatan Semarang.

Perhatian berikutnya terhadap Gedong Songo, tulis Hatmadji, diberikan oleh Van Braam dengan publikasinya pada 1825, dilanjutkan oleh Friedrich dan Hoopermans dengan sebuah artikel pada 1865. Abad berikutnya, tepatnya pada 1908, muncul Van Sten Callenfels yang melakukan penelitian terhadap kompleks peribadatan umat Hindu Jawa tempo dulu ini.
Akhirnya pada 1910-1911, Knebel melakukan inventarisasi temuan-temuan di sini. Penelitian oleh Dinas Purbakala Belanda baru dilakukan kemudian di tahun 1916.
Hilangnya sejumlah gedung candi ini mengingatkan pada kisah serupa di Salatiga. Menurut De Graaf dalam De Verdwenen Tjandi te Salatiga, (1958), di kota yang dijuluki de schoonste stad van Midden-Java alias kota terindah di Jawa Tengah, dulu sempat ada candi. Itu dilaporkan oleh Rijcklof van Goens dalam memoar perjalanannya pada pertengahan 1650-an.
Sejarah Hari Ini: 33 Tahun yang Lalu Candi Borobudur dan Candi Prambanan Diakui UNESCOKini, candi hanya tinggal nama saja di Salatiga. Dugaannya, kata De Graaf, batu-batuan candi itu dirampok oleh pemerintah Belanda untuk membuat benteng pertahanan di sekitar lereng Gunung Ungaran yang dibangun pada dekade 1740-an untuk meredam perlawanan rakyat Jawa.
Menurut Hatmadji, Candi Gedong Songo bukan hanya sebuah situs sejarah, melainkan juga menjadi destinasi wisata yang menawarkan berbagai fasilitas seperti area perkemahan, wisata berkuda, dan spot foto yang menarik.
Di sekitar kawasan candi, terdapat hutan pinus yang asri sehingga menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sembari memelajari peninggalan peradaban Jawa kuno.
Untuk mencapai lokasi candi, jelas Hatmadji, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar 90 menit dari Kota Semarang dan 30 menit dari Kota Salatiga. Selain itu, tak jauh dari lokasi candi, sekitar juga terdapat obyek wisata Bandungan yang menawarkan penginapan, wisata alam dan pemandian air panas.
(Penulis: Dhia Oktoriza Sativa)
Komentar (0)
Login to comment on this news