- • Kasus ISPA di Kalimantan Barat mencapai 165.747 kasus dalam tujuh bulan hingga 25 Agustus 2026.
- • Sekitar 3,4 juta penduduk di tujuh provinsi terdampak Karhutla.
- • Gangguan kesehatan lain yang dialami sebagian masyarakat yakni asma, iritasi kulit, dan konjungtivitis.
INFORMASI.COM, Jakarta - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berkaitan dengan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus menjadi perhatian.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di daerah dengan dampak kesehatan paling tinggi agar penanganannya dapat dipercepat.
Yahya mengatakan pemerintah tidak seharusnya melihat peningkatan ISPA hanya dari jumlah kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan. Menurut dia, lonjakan kasus tersebut perlu dipandang sebagai persoalan kedaruratan kesehatan akibat paparan asap.
“Meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap Karhutla di sejumlah daerah harus ditangani sebagai kedaruratan kesehatan berbasis paparan, bukan hanya sebagai kenaikan kunjungan pasien di fasilitas kesehatan,” kata Yahya dalam keterangan tertulis yang dikutip dari situs DPR RI, Senin (31/8/2026).
Dorongan itu muncul setelah data Kementerian Kesehatan per 25 Agustus 2026 menunjukkan tingginya kasus ISPA di sejumlah wilayah yang terdampak Karhutla. Kalimantan Barat mencatat angka tertinggi dengan 165.747 kasus selama tujuh bulan.
Di Kalimantan Selatan, jumlah kasus mencapai sekitar 18.423 kasus. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat lebih dari 3.000 kasus dalam periode 10-16 Agustus. Riau juga mencatat 3.293 kasus ISPA secara kumulatif hingga akhir Agustus.
Baca Juga
BRIN Siap Kaji Teknologi Berbahan Singkong untuk Jadi Alat Pemadam Api Atasi Karhutla
Nasional
3,4 Juta Penduduk Terdampak Karhutla
Persoalan kesehatan akibat Karhutla tidak hanya terjadi pada penderita ISPA. Data yang sama mencatat sekitar 3,4 juta penduduk terdampak Karhutla di tujuh provinsi.
Wilayah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Paparan asap juga berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan lain, antara lain asma, iritasi kulit, dan konjungtivitis. Karena itu, Yahya meminta pemerintah menentukan respons berdasarkan tingkat paparan dan kondisi kesehatan masyarakat di masing-masing daerah.
Ia secara khusus meminta perlindungan diperkuat bagi kelompok yang rentan terhadap dampak kabut asap. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.
“Termasuk pembatasan aktivitas luar ruang, penyesuaian jam kerja dan pembelajaran, pengoperasian ruang aman udara bersih, serta pengerahan pelayanan kesehatan bergerak,” ujar Yahya.
Baca Juga
Mensesneg Bantah Kabar Prabowo Tunjuk Haji Isam Jadi Koordinator Penanganan Karhutla Kalimantan
Nasional
DPR Minta Layanan Kesehatan Disiapkan
Yahya juga meminta pemerintah memastikan fasilitas kesehatan di daerah terdampak memiliki kebutuhan medis yang memadai. Persediaan obat-obatan dan oksigen, serta masker yang mampu menyaring partikel halus, menurut dia, perlu tersedia bagi masyarakat dan petugas lapangan.
Selain memperkuat pelayanan, ia meminta pencatatan kasus dilakukan secara lebih rinci. Puskesmas dan rumah sakit diminta melaporkan kasus berdasarkan wilayah dan kelompok usia agar pemerintah dapat melihat pola dampak kesehatan di lapangan.
“Puskesmas dan rumah sakit harus melaporkan kasus ISPA, asma, pneumonia, iritasi mata, gangguan kulit, serta perburukan penyakit jantung dan paru berdasarkan kecamatan dan kelompok usia,” kata Yahya.
Menurut Yahya, penetapan KLB di daerah dengan dampak kesehatan tinggi dapat memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Status tersebut, kata dia, dapat menjadi dasar untuk mempercepat respons terhadap lonjakan masalah kesehatan akibat Karhutla.
“Penetapan KLB memungkinkan penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi,” tuturnya.
Baca Juga
BRIN Siap Kaji Teknologi Berbahan Singkong untuk Jadi Alat Pemadam Api Atasi Karhutla
Nasional
Petugas dan Relawan Juga Harus Dilindungi
Perhatian Yahya tidak hanya diarahkan kepada masyarakat yang terdampak. Ia meminta pemerintah memastikan keselamatan petugas dan relawan yang bekerja di lokasi Karhutla.
Paparan asap tebal, panas ekstrem, dan kondisi medan yang berat membuat para petugas menghadapi risiko kesehatan selama menjalankan tugas. Karena itu, perlindungan bagi mereka perlu menjadi bagian dari penanganan Karhutla.
“Maka perlindungan keamanan, keselamatan, dan kesehatan harus dilakukan dengan maksimal bagi para petugas dan relawan yang membantu penanganan Karhutla,” pungkas Yahya.