Desa Penglipuran Bali Curi Perhatian Dunia, Masuk Daftar 53 Kota Kecil Terindah 2026

Desa Penglipuran Bali Curi Perhatian Dunia, Masuk Daftar 53 Kota Kecil Terindah 2026
Upacara adat di Desa Penglipuran Bangli, Bali Indonesia. Sumber: Istimewa
Ikhtisar
  • • Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, masuk dalam daftar 53 kota kecil terindah di dunia versi Condé Nast Traveller yang diterbitkan pada 31 Maret 2026.
  • • Desa ini menarik perhatian melalui tata ruang tradisional Bali, lingkungan yang tertata rapi, serta keberadaan hutan bambu yang menjadi salah satu daya tariknya.
  • • Pengakuan tersebut memperkuat posisi Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya Indonesia yang menawarkan pengalaman berbeda dari wisata pantai di Bali.

INFORMASI.COM, Jakarta - Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, kembali menarik perhatian dunia setelah masuk dalam daftar The 53 Most Beautiful Small Towns in the World yang diterbitkan majalah perjalanan Condé Nast Traveller pada 31 Maret 2026.

Daftar tersebut menyoroti kota-kota kecil di berbagai negara yang memiliki karakter visual, daya tarik budaya, dan keunikan lingkungan. Penglipuran menjadi salah satu destinasi dari Indonesia yang masuk dalam pilihan tersebut.

Pengakuan ini menambah sorotan internasional terhadap desa tradisional Bali yang dikenal dengan tata ruangnya, deretan rumah berarsitektur khas Bali, serta lingkungan yang terjaga. Penglipuran juga menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari kawasan pantai, pusat hiburan, dan destinasi komersial yang lebih dahulu populer di Pulau Dewata.

Meski menggunakan istilah small towns, daftar Condé Nast Traveller tersebut tidak secara khusus merupakan pemeringkatan desa berdasarkan urutan juara. Karena itu, masuknya Penglipuran dalam daftar ini lebih tepat dipahami sebagai pengakuan terhadap daya tariknya sebagai salah satu destinasi pilihan.

Desa Penglipuran Masuk Daftar Destinasi Terindah Dunia

Condé Nast Traveller memasukkan Desa Penglipuran dalam daftar 53 kota kecil terindah di dunia pada 2026. Media perjalanan tersebut menyoroti karakter desa tradisional Bali dan keberadaan hutan bambu yang menjadi bagian penting dari daya tarik kawasan ini.

Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, Bali. Desa tersebut dikenal karena suasana lingkungannya yang tertata dan tata ruang permukiman yang mempertahankan karakter tradisional.

Bagi wisatawan, daya tarik Penglipuran tidak hanya terletak pada pemandangan yang menarik untuk diabadikan melalui kamera. Desa ini juga memperlihatkan bagaimana lingkungan permukiman, arsitektur, dan tradisi lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Pengakuan dari media perjalanan internasional tersebut memberi perhatian lebih luas kepada destinasi budaya Indonesia. Namun, masuknya sebuah tempat dalam daftar pilihan tidak otomatis berarti destinasi tersebut menempati peringkat pertama atau memperoleh gelar sebagai desa paling indah di dunia secara mutlak.

Thumbnail Data BMKG: Kabut Asap Bikin Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan Sangat Berbahaya dan Tidak Sehat
i

Baca Juga

Data BMKG: Kabut Asap Bikin Kualitas Udara di Sumatra dan Kalimantan Sangat Berbahaya dan Tidak Sehat

Nasional

Tata Ruang Tradisional dan Arsitektur Khas Bali

Salah satu hal yang membuat Penglipuran menarik adalah tata ruang permukimannya yang mempertahankan karakter tradisional Bali. Deretan rumah dan pintu gerbang khas Bali membentuk tampilan kawasan yang mudah dikenali pengunjung.

Jalur utama desa menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Pengunjung dapat berjalan menyusuri kawasan permukiman sambil melihat bentuk bangunan, gerbang rumah, serta lingkungan yang dirawat oleh masyarakat setempat.

Karakter visual tersebut juga memperlihatkan hubungan antara ruang tempat tinggal dan identitas budaya masyarakat Bali. Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi menjadi bagian dari lingkungan sosial dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Keunikan ini membuat kunjungan ke Penglipuran berbeda dari perjalanan yang hanya berfokus pada panorama alam. Wisatawan dapat mengamati kehidupan desa dan mengenal unsur budaya yang masih terlihat dalam penataan kawasan.

Meski demikian, Penglipuran tetap merupakan lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Pengunjung perlu menghormati privasi warga, menjaga kebersihan, dan mengikuti ketentuan yang berlaku selama berada di kawasan desa.

Hutan Bambu Menjadi Daya Tarik Penglipuran

Selain permukiman tradisional, hutan bambu menjadi salah satu unsur yang menonjol dalam daya tarik Penglipuran. Kawasan hijau ini memberikan suasana berbeda dari jalur permukiman dan menjadi bagian dari karakter lingkungan desa.

Keberadaan bambu juga memperlihatkan bahwa daya tarik Penglipuran tidak hanya berasal dari bangunan tradisional. Lingkungan alam dan ruang hijau turut membentuk pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Bali, kawasan ini dapat menjadi pilihan untuk mengenal perpaduan antara lingkungan alam dan kehidupan masyarakat desa. Pengunjung dapat menikmati suasana yang lebih tenang sekaligus melihat bagaimana ruang hijau menjadi bagian dari identitas destinasi.

Namun, keberlanjutan daya tarik tersebut bergantung pada upaya menjaga kawasan, termasuk pengelolaan sampah, pelestarian lingkungan, dan pengaturan aktivitas wisata agar tidak mengganggu keseharian masyarakat.

Alternatif Wisata Budaya di Bali

Bali selama ini dikenal luas melalui pantai, kawasan resor, destinasi selancar, serta kehidupan malam di sejumlah wilayah. Namun, pulau ini juga memiliki desa-desa tradisional yang menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya dan kehidupan masyarakat.

Penglipuran menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan yang ingin mengenal karakter Bali di luar destinasi pantainya. Di tempat ini, pengalaman berkunjung tidak hanya berkaitan dengan pemandangan, tetapi juga dengan arsitektur, tata ruang, lingkungan, dan tradisi lokal.

Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, kunjungan ke desa tradisional dapat menjadi kesempatan untuk memahami sisi lain kehidupan masyarakat Bali. Pengalaman tersebut juga membuka ruang bagi pariwisata yang tidak hanya berpusat pada fasilitas hiburan, tetapi turut memperhatikan nilai budaya dan lingkungan.

Pengakuan Condé Nast Traveller pada 2026 dapat meningkatkan perhatian terhadap Penglipuran. Di sisi lain, meningkatnya kunjungan wisatawan perlu diimbangi dengan pengelolaan yang menjaga kenyamanan warga serta kelestarian kawasan.

Thumbnail Billy Syahputra Cekcok di Dreamland Bali, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
i

Baca Juga

Billy Syahputra Cekcok di Dreamland Bali, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Hiburan

Menjaga Identitas Desa di Tengah Perhatian Dunia

Pengakuan internasional dapat membawa peluang bagi desa wisata, mulai dari meningkatnya minat kunjungan hingga bertambahnya perhatian terhadap kebudayaan lokal. Namun, popularitas juga menghadirkan tantangan ketika jumlah pengunjung meningkat dan aktivitas wisata semakin berkembang.

Bagi Penglipuran, menjaga karakter tradisional dan lingkungan menjadi bagian penting dari keberlanjutan destinasi. Pengelolaan kunjungan perlu mempertimbangkan kehidupan masyarakat, kebersihan, kelestarian ruang hijau, serta penghormatan terhadap nilai budaya setempat.

Keunikan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh tampilan yang menarik bagi wisatawan. Tradisi yang terus dijalankan masyarakat, lingkungan yang terawat, dan kemampuan menjaga identitas lokal juga menjadi bagian dari daya tariknya.

Masuknya Penglipuran dalam daftar 53 kota kecil terindah dunia versi Condé Nast Traveller menambah pengakuan terhadap pesona desa tradisional Bali tersebut. Pengakuan itu sekaligus menempatkan pelestarian budaya dan lingkungan sebagai hal penting agar daya tarik Penglipuran tetap terjaga di tengah perhatian wisatawan dari berbagai negara.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.