- • Bintang sepak bola Prancis Kylian Mbappé memicu kontroversi besar di Tiongkok setelah menyebut Mao Zedong sebagai “diktator Tiongkok” dalam sebuah wawancara, hingga sejumlah merek Tiongkok memutus kerja sama dengannya.
- • Mao Zedong adalah pendiri Republik Rakyat Tiongkok pada 1949 dan tetap menjadi figur yang sangat dihormati di Tiongkok, meskipun kebijakannya seperti Lompatan Besar dan Revolusi Kebudayaan menimbulkan kontroversi historis.
- • Dalam konteks Indonesia, nama Mao tidak dapat dilepaskan dari relasi eratnya dengan D.N. Aidit dan Soekarno pada era 1950–1960-an, ketika Jakarta dan Beijing membangun kemitraan politik dan ideologis yang kuat.apnews
INFORMASI.COM, Jakarta - Sebuah candaan ringan dari bintang sepak bola dunia Kylian Mbappé berubah menjadi badai diplomatik dan komersial di Tiongkok. Dalam sebuah wawancara, pemain Real Madrid itu menyebut Mao Zedong yang merupakan seorang pendiri Republik Rakyat Tiongkok, sebagai “diktator Tiongkok”, sebuah ucapan yang langsung memicu kemarahan luas di media sosial Tiongkok. Akibatnya, setidaknya tiga perusahaan besar Tiongkok memutus kerja sama dengannya, sementara televisi negara menangguhkan siaran laga yang menampilkan sang pemain.
Kontroversi ini bukan sekadar urusan sepak bola atau selebritas. Ia menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam: siapa Mao Zedong bagi Tiongkok, mengapa menyebutnya “diktator” dianggap sebagai penghinaan nasional, dan bagaimana nama Mao terjalin dengan sejarah Indonesia melalui sosok D.N. Aidit dan Soekarno.
Baca Juga
Sebut Mao Zedong Diktator, Kylian Mbappé Kehilangan Sponsor Tiongkok hingga Bikin LaLiga Turun Tangan
Sportivo
Siapa Mao Zedong?
Mao Zedong adalah revolusioner komunis yang memimpin Partai Komunis Tiongkok dalam perang saudara melawan Kuomintang, lalu mendirikan Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Ia memerintah Tiongkok hingga wafatnya pada 1976, dan hingga kini tetap dihormati sebagai “bapak pendiri Tiongkok modern”.
Namun, warisan Mao tidak sederhana. Kebijakan seperti Lompatan Besar (Great Leap Forward) dan Revolusi Kebudayaan (Cultural Revolution) dipercaya sejumlah sejarawan telah menimbulkan kelaparan massal dan kematian puluhan juta orang. Meski demikian, di Tiongkok, kritik terbuka terhadap Mao tetap menjadi tabu politik, dan satire terhadapnya dianggap sangat tidak hormat.
Mengapa Komentar Mbappé Begitu Sensitif?
🚨 Kylian Mbappé: "My favorite Mbappé meme? The one where they put my face on a Chinese dictator (Mao Zedong). That really makes me laugh, I use it with my friends all the time." https://t.co/oKmH8xksLy
— Madrid Zone (@theMadridZone) October 26, 2026
Dalam video yang beredar, Mbappé menjawab pertanyaan tentang meme favoritnya dengan menyebut gambar yang menampilkan wajahnya ditempelkan pada sosok “seseorang, yang saya pikir dia diktator Tiongkok”. Meskipun ia tidak menyebut nama Mao secara langsung, gambar yang ditampilkan jelas merujuk pada sang pemimpin.
Bagi masyarakat Tiongkok, menyebut Mao sebagai “diktator” bukan sekadar salah pilih kata, melainkan bentuk penghinaan terhadap figur pendiri negara. Reaksi pun cepat: merek minuman Dongpeng, produsen susu Mengniu, dan produsen keju Milkground memutus kerja sama, sementara China Media Group menangguhkan siaran La Liga dan menghapus iklan yang menampilkan Mbappé. Mbappé kemudian meminta maaf dalam tiga bahasa; Prancis, Mandarin, dan Inggris dan mengakui bahwa ucapannya “tidak dipertimbangkan dengan baik”.
Mao, Aidit, dan Soekarno: Benang Merah Indonesia dan Tiongkok
Bagi pembaca Indonesia, nama Mao tidak dapat dilepaskan dari sejarah hubungan Jakarta dan Beijing pada era 1950–1960-an. Pada masa itu, Presiden Soekarno membangun kemitraan erat dengan Tiongkok, sementara Ketua Umum PKI D.N. Aidit menjalin hubungan ideologis yang sangat dekat dengan Partai Komunis Tiongkok.
Aidit sering dikaitkan dengan garis politik Maois, dan PKI menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar blok sosialis. Soekarno, dengan politik luar negeri “berdikari” dan keanggotaannya dalam Gerakan Non-Blok, memposisikan Indonesia sebagai jembatan antara dunia Barat dan dunia sosialis, termasuk Tiongkok di bawah Mao. Relasi ini menjadikan Jakarta dan Beijing sebagai sekutu strategis pada masanya, sebelum hubungan itu memburuk pasca-1965.
Analisis: Nasionalisme, Memori, dan Kuasa Simbolik
Kontroversi Mbappé dapat dibaca melalui teori memori kolektif (collective memory) dan nasionalisme simbolik. Bagi Tiongkok, Mao bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan fondasi identitas nasional modern. Menyebutnya “diktator” sama saja dengan menyentuh inti dari narasi kebanggaan nasional yang dibangun negara.
Dari perspektif teori representasi Stuart Hall, media dan selebritas memiliki kekuatan besar dalam memproduksi makna. Ketika figur global seperti Mbappé menyentuh simbol sakral seperti Mao, reaksi negara dan masyarakat menjadi sangat cepat dan keras. Ini menunjukkan bahwa dalam era globalisasi, batas antara hiburan, politik, dan diplomasi semakin kabur.
Ketika Candaan Menjadi Isu Negara
Kasus Mbappé menunjukkan bahwa dalam dunia yang terhubung secara digital, satu kalimat dari selebritas dapat memicu reaksi geopolitik dan ekonomi yang besar. Bagi Tiongkok, Mao Zedong bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol kedaulatan dan identitas nasional yang tidak boleh digurau.
Bagi Indonesia, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa nama Mao, Aidit, dan Soekarno pernah terjalin dalam satu babak sejarah yang kompleks dimana babak yang hingga kini masih membentuk cara Indonesia memandang relasinya dengan Tiongkok. Pada akhirnya, kontroversi ini bukan sekadar urusan sepak bola, melainkan pengingat bahwa sejarah, memori, dan identitas nasional selalu memiliki kekuatan yang jauh melampaui lapangan hijau.
Baca Juga
Agama Kedua Bernama Sepak Bola: Mengupas Popularitas dan Fanatismenya di Indonesia
Sportivo