INFORMASI.COM, Jakarta – Teknologi open source yang selama ini menjadi fundamental dasar internet modern mulai terkikis oleh kepentingan kapitalis.
Sejumlah perangkat lunak open source populer yang menjadi tulang punggung infrastruktur digital beralih haluan ke lisensi atau model pengembangan tertutup demi alasan komersial.
Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas teknologi global tentang masa depan kolaborasi terbuka serta keberlangsungan inovasi yang selama ini didorong oleh komunitas.
Fenomena perusahaan merilisensikan ulang (relicense) proyek open source mereka kian marak dalam beberapa tahun terakhir. Contoh menonjol adalah Redis, basis data in-memory yang sangat populer.
Pada Maret 2024, Redis Lab mengumumkan perubahan lisensi Redis dari yang semula BSD 3-Clause, lisensi open source permisif, menjadi model lisensi ganda yang lebih restriktif, yakni Server Side Public License (SSPL) dan Redis Source Available License (RSAL).
Langkah ini membuat Redis tidak lagi sepenuhnya open source sesuai definisi Open Source Initiative (OSI), sekaligus menyebabkan kebingungan di kalangan komunitas pengguna global.
Para pengelola Redis beralasan perubahan diperlukan untuk mencegah penyedia layanan cloud memanfaatkan Redis tanpa kontribusi balik.
“ Seperti kehilangan roda dari kendaraan yang biasa kita kendarai. ”
— Kyle Davis, mantan kontributor Redis, menggambarkan kekecewaan komunitas.
Baca Juga
Mengenal Antigravity, Asisten AI Cerdas Google Untuk Programmer
Teknologi
Ramai-ramai Ikut Tren Bisnis Berlisensi
Kasus serupa terjadi pada CockroachDB, sistem basis data SQL terdistribusi. Cockroach Labs selaku pengembang pada 2019 mengganti lisensi CockroachDB dari Apache 2.0 (open source) menjadi Business Source License (BSL), sebuah lisensi sumber terbuka, dengan pembatasan penggunaan komersial.
Kemudian pada Agustus 2024, CockroachDB kembali dialihkan ke lisensi yang sepenuhnya proprietari (tertutup). Artinya, edisi gratis “Core” dihentikan dan semua pengguna self-hosted diwajibkan menggunakan lisensi Enterprise milik perusahaan, meski disediakan tier gratis terbatas untuk startup kecil.
Langkah-langkah relicense ini tidak berdiri sendiri. Perusahaan lain seperti HashiCorp pada 2023 juga mengubah lisensi proyek-proyek populernya, termasuk Terraform, Vault, dan Consul, dari open source menjadi BSL non-OSS (non-open-source).
Kebijakan HashiCorp tersebut sontak mendorong komunitas membuat fork alternatif seperti OpenTofu (fork Terraform) dan OpenBao (fork Vault) di bawah naungan Linux Foundation.
Sebelumnya, pada 2021 Elastic NV merilisensikan Elasticsearch dan Kibana dari Apache 2.0 ke lisensi ganda berbasiskan SSPL, yang tidak diakui OSI sebagai open source), disusul MongoDB yang lebih awal beralih ke SSPL pada 2018.
Gelombang relisensi oleh vendor-vendor ini memperlihatkan tren “open source ditarik ke sisi tertutup” demi melindungi model bisnis mereka.
Baca Juga
Sudah Masuk 2026, Teknologi 5G di Indonesia Masih Numpang 4G LTE
Teknologi
MinIO Hanya Mode Perawatan, Komunitas pun Terdampak
Tidak hanya melalui perubahan lisensi, model pengembangan sejumlah proyek open source kritikal juga mengalami pergeseran.
MinIO, platform penyimpanan objek kompatibel S3 yang banyak diandalkan di lingkungan cloud dan Kubernetes, baru-baru ini masuk ke tahap “maintenance mode” (mode perawatan) untuk edisi komunitasnya.
Menurut pembaruan README di repositori GitHub MinIO, mulai Desember 2025 tidak ada fitur baru atau peningkatan yang akan diterima di MinIO versi open source. Yang ada hanya perbaikan keamanan kritis, yang ditinjau secara selektif Pull request dan kontribusi komunitas tidak lagi aktif diproses. Sementara itu, pengguna didorong bermigrasi ke MinIO Enterprise yang berlisensi tertutup.
Perubahan mendadak MinIO ini praktis mengakhiri era MinIO sebagai engine S3 open source andalan.
“ Sebuah pembaruan README sunyi mengakhiri era MinIO sebagai mesin S3 open source default... tanpa pengumuman, tanpa panduan migrasi, langsung dimatikan. ”
— Mangla Ram Choudhary, seorang insinyur software, menggambarkan rug-pull yang dirasakan komunitas.
Langkah sepihak tersebut memicu risiko non-compliance keamanan bagi perusahaan yang terikat standar (SOC2/ISO/PCI/HIPAA) dan memaksa mereka memilih antara pindah ke lisensi komersial MinIO Enterprise atau beralih ke platform lain.
Insiden MinIO ini disebut sebagai “peristiwa besar dalam infrastruktur open source, bukan sekadar kabar proyek biasa,” karena dampaknya yang meluas di banyak tumpukan teknologi.
Kasus MinIO semakin menguatkan pandangan bahwa proyek open source milik satu vendor rentan mengalami penarikan mendadak ketika arah bisnis perusahaan berubah.
Alexey Minin, pengamat teknologi dan DevOps engineer, menilai era sekarang membutuhkan model open governance yang lebih kuat, bukan sekadar deklarasi open source.
“ ‘Open source’ saja tidak cukup. Kita perlu open governance. Proyek yang diurus yayasan (CNCF, Apache, Linux Foundation) kebal terhadap rug-pull semacam ini; proyek milik satu vendor tidak demikian. ”
— Alexey Minin berkata.
Dengan kata lain, proyek yang berada di bawah payung organisasi nirlaba cenderung lebih menjamin keberlangsungan kode tetap terbuka, dibanding proyek yang sepenuhnya dikendalikan perusahaan privat.
Baca Juga
Banyak Kejahatan Keuangan Lewat SMS OTP, Berharap OJK Benahi Aturan
Teknologi
Komunitas Merespon: Fork dan Open Source Alternatif Bermunculan
Meski dirundung kabar kurang menyenangkan, komunitas open source global menunjukkan daya tahan dengan meluncurkan proyek-proyek alternatif.
Tak lama setelah Redis diumumkan beralih lisensi, para mantan maintainer Redis berkolaborasi dengan Linux Foundation untuk membuat Valkey, sebuah fork Redis yang sepenuhnya open source berlisensi BSD.
Proyek Valkey diperkenalkan pada Maret 2024 dengan dukungan sejumlah raksasa industri seperti Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, Oracle, Microsoft, hingga Alibaba.
Luar biasanya, kurang dari sebulan sejak Redis “menutup diri”, Valkey telah merilis versi General Availability (GA) yang kompatibel penuh sebagai drop-in replacement Redis.
Hal ini memberi jalan bagi pengguna Redis untuk bermigrasi tanpa gangguan berarti, mengingat Valkey mempertahankan protokol dan API Redis sepenuhnya kompatibel.
Respon komunitas terhadap Valkey pun sangat positif. Sebuah laporan survei oleh Percona mengungkapkan 75% pengguna Redis yang disurvei sudah mempertimbangkan atau mulai beralih ke Valkey pasca perubahan lisensi Redis.
Valkey dipandang sebagai kandidat utama pengganti Redis di masa depan, mengalahkan opsi alternatif lain seperti DragonflyDB, KeyDB, maupun Skytable.
Dukungan luas dari banyak perusahaan besar serta payung Linux Foundation memberi Valkey kredibilitas tinggi sebagai proyek berumur panjang. Bahkan, distribusi Linux terkemuka (seperti Fedora, AlmaLinux, Alpine) bergerak cepat mengemas Valkey menggantikan Redis demi memastikan sistem mereka tetap 100% open source.
Di ranah lain, komunitas juga menghadirkan penerus bagi proyek yang “ditinggal” vendornya. Contohnya, setelah MinIO menghentikan pengembangan aktif, perhatian beralih ke proyek penyimpanan objek open source lain.
Kandidat seperti SeaweedFS, RustFS, hingga Garage disebut-sebut sebagai pengganti potensial untuk mengambil “mahkota” solusi storage S3 kompatibel open source.
Seorang kontributor di forum Hacker News berpendapat bahwa ditutupnya MinIO sebagai proyek open source memang mengguncang komunitas, namun hal itu dapat dimaklumi.
“ Karena pada akhirnya, setiap proyek open source butuh jalur monetisasi. Dengan MinIO mundur dari perlombaan OSS, saya jagokan RustFS untuk memimpin. ”
— Pernyataan kontributor dalam forum Hacker News.
Baca Juga
10 Pekerjaan Ini Bisa Digantikan Artificial Intelligence di Masa Depan
Teknologi
Pada gilirannya, perkembangan ini menunjukkan bahwa gerakan open source terus hidup dan adaptif. Ketika satu pintu ditutup oleh kepentingan komersial, komunitas mencari jalan lain untuk menjaga prinsip kebebasan software.
Proyek-proyek fork di bawah naungan yayasan netral semakin menjamur, menandakan upaya menjaga infrastruktur internet tetap bertumpu pada kode sumber terbuka yang dapat diakses dan dikembangkan siapa saja.
Fundamental dasar internet yang dibangun di atas open source pun terbilang masih kuat, selama komunitas global sigap berinovasi dan saling mendukung. Nilai-nilai keterbukaan itu akan terus terpelihara di tengah arus kapitalisasi teknologi.