- • Ketegangan Amerika Serikat-China menekan bisnis Nvidia di China setelah Donald Trump melarang penjualan chip AS di Tirai Bambu.
- • Pendapatan Nvidia dari China, termasuk Hong Kong, dilaporkan turun 45 persen secara tahunan.
- • Ancaman terbesar bagi Nvidia dinilai berasal dari kemungkinan tergantikannya platform perangkat lunak CUDA milik Nvidia oleh alternatif open source.
Bisnis Nvidia di China terus menghadapi hambatan geopolitik. Para analis barat menilai hal ini dapat memicu risiko persaingan jangka panjang bagi produsen chip bagi produk kecerdasan buatan.
Tekanan untuk Nvidia muncul seiring ketegangan antara Amerika Serikat dan China dalam teknologi. Presiden AS, Donald Trump, khawatir penjualan chip AS secara masif akan berdampak pada upaya China untuk melakukan praktik spionase yang merugikan pertahanan AS.
Pengetatan Trump itu mengganggu kinerja penjualan Nvidia di Tiongkok yang menjadi salah satu pasar terbesarnya.
Pada kuartal terbaru, pendapatan Nvidia dari China, termasuk Hong Kong, tercatat turun 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut catatan Bloomberg, Nvidia bisa kehilangan sekitar 3 miliar dolar AS.
Baca Juga
Krisis Chip Memori Global Bikin Pasokan GPU Nvidia RTX 50 Series Terganggu
Teknologi
Sebetulnya, pemerintahan Trump telah memberikan izin bagi Nvidia untuk menjual chip H200 ke China pada pekan lalu dengan ketentuan pajak sebesar 25 persen. Namun, Reuters melaporkan bahwa pemerintah China malah membatasi impor GPU dari luar dan hanya mengizinkan penggunaan GPU impor untuk kasus-kasus tertentu.
Meski akses ke pasar China menyempit sejak 2025, posisi Nvidia sebagai penguasa industri chip global sejauh ini belum menunjukkan pelemahan signifikan. Nvidia bahkan tercatat sebagai perusahaan pertama yang mencapai valuasi 5 triliun dolar AS pada musim gugur tahun lalu.
Pada saat yang sama, pendapatan keseluruhan Nvidia pada kuartal ketiga melonjak lebih dari 60 persen secara tahunan menjadi sekitar 57 miliar dolar AS, meskipun penjualan di China mengalami penurunan.
Baca Juga
Evolusi Tokenisasi RWA: Properti dan Komoditas Mulai Masuk Chain
Teknologi
Nvidia Bisa Digerus Teknologi asal China
Namun, para analis AS menyampaikan bahwa dalam jangka panjang penggunaan chip domestik oleh sektor komersial China berpotensi memperkecil keunggulan Nvidia di pasar global.
Para analis juga menyoroti bahwa dominasi Nvidia di sisi perangkat lunak kecerdasan buatan dapat terancam jika pengembang teknologi China mulai mencatatkan kemajuan pada alternatif open source.
“ Itulah skenario mimpi buruk yang sesungguhnya. ”
— Jay Goldberg, analis Seaport, mengungkapkan kepada Yahoo Finance, baru-baru ini.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap kepemimpinan Nvidia di sektor perangkat keras. Apalagi, selama ini, keunggulan kompetitif Nvidia banyak bertumpu pada tumpukan perangkat lunak yang dimilikinya.
Pengembang yang membangun sistem AI berbasis Nvidia bergantung pada platform CUDA, yakni pustaka alat proprietari yang dirancang untuk memprogram GPU secara efisien sekaligus memperkuat dominasi Nvidia di pasar chip.
Seiring semakin luasnya penggunaan CUDA, biaya peralihan ke platform perangkat lunak lain menjadi tidak ekonomis bagi pengembang.
Situasi tersebut mendorong pengembang untuk tetap menggunakan produk Nvidia, yang hanya dapat dioptimalkan melalui pemrograman pada GPU Nvidia.
Dengan demikian, ketergantungan pada perangkat lunak Nvidia menjadi faktor kunci dalam menjaga kepemimpinan perusahaan di sisi perangkat keras.
Baca Juga
AI Melanda Dunia, Nvidia Semakin Kaya
Teknologi
Di sisi lain, pemasok chip China mulai bermunculan, mulai dari perusahaan teknologi besar seperti Huawei dan Alibaba hingga emiten baru seperti Moore Threads dan MetaX.
Meski demikian, produk mereka masih tertinggal dari Nvidia dalam hal kinerja chip.
Namun, ada peluang bagi para produsen chip Tiongkok untuk naik kelas, terlebih setelah pemerintah RRC mewajibkan perusahaan teknologi dan AI menggunakan chip domestik.
Pengembangan Open Source Marak di China
Kini, kondisi di Tiongkok sangat fleksibel karena ramainya pengembangan perangkat lunak open source yang umumnya dirancang agar dapat berjalan di berbagai jenis chip.
Apabila perangkat lunak tersebut diadopsi secara luas di tingkat global, kondisi tersebut berpotensi mengikis keunggulan strategis Nvidia.
“ Ini semakin berkaitan dengan perangkat lunak dan model (bagi Nvidia). Kekhawatiran terbesar saya pada akhirnya di China adalah apakah CUDA akan tergantikan, lebih daripada chip itu sendiri. ”
— Bob O’Donnell, Kepala Analis TECHnalysis, berkata.
Selain itu, Goldberg juga menekankan skenario di mana alat open source asal China memperoleh relevansi yang lebih besar di pasar global.
“ Anda akan mulai melihat alat perangkat lunak open source yang muncul dari China yang tidak bergantung pada penghalang kompetitif utama Nvidia, CUDA. Dan, perusahaan di luar China akan mulai meliriknya dan menggunakannya. Itu menciptakan lubang besar dalam penghalang kompetitif Nvidia. ”
— Goldberg menambahkan.
Baca Juga
NVIDIA Siapkan Chip AI Baru untuk China, Lebih Kuat dari H20
Teknologi
Nvidia: China hanya Tertinggal Nanodetik dari AS
Terkait kebijakan pembatasan terhadap China berpendapat bahwa larangan perdagangan chip Nvidia penting bagi keamanan nasional AS, Nvidia sebetulnya agak menentangnya.
Perusahaan menilai kehilangan akses ke pasar China justru dapat melemahkan posisi kompetitif AS secara lebih luas.
Nvidia yakin pengembang China akan mencari cara baru untuk berinovasi meski sumber daya terbatas. Salah satu contohnya adalah kemajuan pengembangan AI chatbot DeepSeek.
“ Seperti yang telah lama saya katakan, China hanya tertinggal nanodetik dari Amerika dalam AI. Sangat penting bagi Amerika untuk menang dengan melaju lebih cepat dan memenangkan para pengembang di seluruh dunia. ”
— Jensen Huang, CEO Nvidia, yang diunggah di platform X pada November 2025.