- • Wang Xingxing, pendiri Unitree Robotics, memperkirakan robot humanoid bisa menguasai 80 persen tugas manusia dalam satu hingga dua tahun.
- • Apalagi, kata Wang, model AI GPT-7 makin pintar dan berpotensi mengatasi hambatan utama kecerdasan buatan yang terhubung dengan robot fisik.
- • Saat ini, Wang mengatakan Unitree telah menguji robot di pabrik otomotif dan lingkungan rumah.
INFORMASI.COM, Jakarta - Robot humanoid berpotensi memasuki titik balik perkembangan dalam satu hingga dua tahun ke depan. Robot humanoid diperkirakan bisa menguasai 80 persen tugas manusia dalam waktu dekat.
Wang Xingxing, pendiri sekaligus Bos Unitree Robotics, perusahaan robot humanoid asal Hangzhou, China, memperkirakan kecerdasan buatan yang terhubung dengan robot fisik akan berkembang lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.
Wang menyampaikan prediksi tersebut dalam pembukaan Pameran Industri Internasional China ke-26 di Shanghai, beberapa waktu lalu. Iamenilai perkembangan model kecerdasan buatan, termasuk GPT-6, dapat mempercepat kemampuan robot memahami instruksi dan menjalankan tugas di dunia nyata.
“Dengan terobosan pada model seperti GPT-6, titik balik itu bisa datang dalam satu atau dua tahun,” kata Wang.
Ia bahkan menilai GPT-7, yang menurut bahan tersebut dijadwalkan meluncur tahun depan, berpotensi mengatasi hambatan yang selama ini membatasi perkembangan kecerdasan buatan terwujud atau embodied intelligence.
Prediksi itu menandai perubahan pandangan Wang. Dalam konferensi robot dunia di Beijing pada Agustus 2026, ia memperkirakan titik balik industri tersebut bisa terjadi dalam dua hingga tiga tahun, atau paling lambat lima hingga sepuluh tahun.
Baca Juga
China Pamer Robot Penjaga Unitree H2-X yang Bisa Kungfu, Mobil pun Bisa Dihantam
Teknologi
Robot Mampu Menyelesaikan 80 Persen Tugas
Bagi Wang, kemajuan kecerdasan buatan pada robot tidak cukup diukur dari kemampuan berbicara atau menjawab pertanyaan. Robot harus mampu menerjemahkan instruksi menjadi tindakan fisik secara konsisten, termasuk ketika menghadapi situasi yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Ia menetapkan tolok ukur yang cukup jelas untuk menandai datangnya “momen ChatGPT” pada robot humanoid. Robot harus mampu menyelesaikan sekitar 80 persen tugas di 80 persen lingkungan yang belum dikenal, berdasarkan instruksi suara atau teks.
Tolok ukur tersebut menunjukkan tantangan yang berbeda antara AI berbasis perangkat lunak dan AI yang mengendalikan mesin fisik. Model bahasa dapat menghasilkan jawaban berdasarkan instruksi, sedangkan robot harus memahami lingkungan, menentukan tindakan, lalu menjalankannya dengan tepat.
Wang mengatakan perkembangan AI global berlangsung sangat cepat, dengan pembaruan besar setiap satu atau dua bulan. Ia menilai kemajuan model terbaru telah meningkatkan kemampuan pemahaman yang dibutuhkan dalam pengembangan robot.
“Kami memasangnya pada berbagai jenis robot untuk menguji beragam tugas, dan hasilnya ternyata sangat baik,” kata Wang, sebagaimana dikutip Shanghai Securities News.
Unitree bersama sejumlah perusahaan robotika lainnya kini menjalankan program percontohan di pabrik. Namun, Wang mengakui penerapan secara luas masih membutuhkan peningkatan kemampuan generalisasi—kemampuan menjalankan tugas di berbagai situasi—serta efisiensi.
Baca Juga
Google Luncurkan Gemini 4 Argon, AI Baru untuk Coding hingga Robotika
Teknologi
Unitree Sudah Uji Robot di Pabrik, tetapi Belum Massal
Unitree telah menempatkan robotnya di lingkungan pabrik otomotif untuk menguji penggunaan dalam kondisi kerja nyata. Sementara itu, tim AI perusahaan juga menguji kemampuan robot dalam lingkungan rumah tangga.
Pengujian tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan masukan model AI dengan tindakan robot. Menurut Wang, tantangan terbesarnya adalah memastikan sistem AI dapat menerjemahkan informasi yang diterima menjadi gerakan fisik yang sesuai.
Robot mungkin mampu menjalankan tugas tertentu dalam lingkungan yang sudah dipersiapkan. Namun, kemampuan itu belum otomatis membuatnya dapat bekerja dengan baik di tempat baru, menghadapi benda yang berbeda, atau menangani perubahan situasi secara mandiri.
Karena itu, Unitree belum menerapkan robotnya secara massal. Wang menyebut efisiensi dan fleksibilitas masih menjadi persoalan yang perlu diselesaikan sebelum teknologi tersebut dapat digunakan lebih luas.
Meski demikian, ia optimistis perusahaan-perusahaan robotika dapat mengatasi hambatan tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga
Robot Humanoid BYD Xiao Di Siap Muncul, Bakal Siap Jadi Sales Mobil?
Teknologi
Wang Mengaku Salah Meremehkan Perkembangan AI
Optimisme Wang juga muncul dari evaluasinya terhadap perkembangan teknologi selama satu dekade terakhir. Dalam pembukaan pameran industri di Shanghai, ia mengakui kesalahan terbesarnya adalah tidak cukup percaya pada perkembangan AI.
“Kesalahan terbesar saya selama sekitar satu dekade terakhir adalah tidak cukup percaya pada AI,” ujar Wang.
Istilah “momen ChatGPT” sendiri merujuk pada titik ketika sebuah teknologi beralih dari konsep atau penggunaan terbatas menjadi teknologi yang diadopsi secara luas dan mengubah industri. Istilah itu berkembang dari ungkapan “momen iPhone”, yang digunakan CEO Nvidia Jensen Huang pada 2023 ketika membandingkan dampak ChatGPT dengan perubahan yang dibawa iPhone.
Dalam konteks robot humanoid, momen tersebut akan tiba ketika robot tidak lagi hanya menjadi perangkat demonstrasi atau mesin untuk tugas tertentu, tetapi mampu menjalankan berbagai pekerjaan di lingkungan yang beragam dengan tingkat keberhasilan tinggi.
Wang sebelumnya menyampaikan perkiraan yang lebih berhati-hati pada Konferensi Robot Dunia 2026 di Beijing, 20 Agustus. Sehari sebelum pernyataan tersebut, Unitree mencatat debut di papan inovasi teknologi Bursa Efek Shanghai dan menutup perdagangan dengan kenaikan 460 persen.
Baca Juga
Elon Musk Ramal AI dan Robot Bikin Semua Orang Bisa Kaya
Teknologi
China Dorong AI Masuk ke Industri
Wakil Presiden Akademi Teknik China Chen Jie menilai AI akan terus mendorong perubahan dalam bidang rekayasa dan teknologi. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam pembukaan Pameran Industri Internasional China ke-26 pada 12 Oktober.
“AI, sebagai teknologi strategis yang memimpin gelombang baru transformasi teknologi dan industri, akan terus mendorong perkembangan rekayasa dan teknologi,” kata Chen.
Menurut Chen, pekerjaan rumah berikutnya adalah memperluas penerapan AI dalam berbagai situasi nyata, memperkuat inovasi orisinal, dan meningkatkan kolaborasi. Integrasi AI dengan rekayasa dan teknologi juga perlu diperdalam untuk mendukung industrialisasi generasi baru.
Pernyataan Wang dan Chen memperlihatkan dua sisi tantangan pengembangan robot humanoid: kemajuan model AI yang semakin cepat dan pekerjaan teknis yang masih diperlukan agar kemampuan tersebut dapat diandalkan di dunia nyata.
Prediksi bahwa titik balik itu bisa terjadi dalam satu hingga dua tahun masih merupakan perkiraan Wang, bukan kepastian bahwa robot humanoid akan segera digunakan secara massal. Unitree sendiri mengakui efisiensi dan kemampuan beradaptasi robotnya masih perlu ditingkatkan sebelum penerapan dalam skala besar dapat dilakukan.
Baca Juga
10 Pekerjaan Ini Bisa Digantikan Artificial Intelligence di Masa Depan
Teknologi