- • Konser musisi internasional seperti Coldplay, Maroon 5, Green Day, Linkin Park, dan Ye memperkuat posisi Jakarta sebagai pasar pertunjukan musik global.
- • Penelitian LPEM FEB UI memperkirakan konser Coldplay di Jakarta pada 2023 menghasilkan output ekonomi sekitar US$53,34 juta atau setara ratusan miliar rupiah.
- • Kapitalisasi konser tidak hanya berasal dari penjualan tiket, tetapi juga dari hotel, transportasi, kuliner, merchandise, tenaga kerja, dan kunjungan wisata.
INFORMASI.COM, Jakarta — Konser musisi internasional membuka peluang perputaran uang dalam jumlah besar bagi Jakarta. Selain menjual tiket pertunjukan, acara musik berskala besar menggerakkan pengeluaran penonton untuk hotel, transportasi, makanan, merchandise, dan berbagai aktivitas wisata. Ketika penggemar datang dari luar kota atau luar negeri, dampak ekonominya berpotensi menjangkau lebih banyak sektor daripada industri hiburan semata.
Jakarta telah menjadi tempat penyelenggaraan berbagai konser internasional, mulai dari Coldplay, Maroon 5, Green Day, Linkin Park, SEVENTEEN, YOASOBI, hingga Ye atau Kanye West. Kehadiran musisi dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang menunjukkan luasnya pasar penonton yang dapat dijangkau oleh industri pertunjukan di ibu kota.
Namun, nilai ekonomi setiap konser tidak selalu sama. Jumlah penonton, harga tiket, lama penyelenggaraan, asal pengunjung, serta besarnya pengeluaran selama perjalanan menentukan seberapa besar uang yang berputar di sekitar acara.
Coldplay hingga Ye, Konser Internasional yang Menggerakkan Jakarta
Salah satu contoh yang dapat digunakan untuk melihat potensi ekonomi konser adalah penampilan Coldplay di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada November 2023. Penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan konser tersebut menghasilkan output ekonomi sekitar US$53,34 juta.
Studi yang menggunakan pendekatan tabel input-output itu turut memperkirakan kontribusi nilai tambah sebesar US$26,94 juta, peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar US$9,50 juta, serta penciptaan sekitar 4.498 lapangan kerja. Angka tersebut merupakan hasil pemodelan dampak ekonomi, bukan sekadar pendapatan dari penjualan tiket.
Setelah Coldplay, Jakarta kembali menjadi panggung bagi berbagai musisi internasional. Pada 2025, sejumlah nama besar tampil di ibu kota, antara lain Maroon 5, Green Day, Linkin Park, SEVENTEEN, YOASOBI, Cigarettes After Sex, NCT 127, dan Keshi. Konser mereka menghadirkan peluang transaksi bagi promotor, pengelola venue, penyedia akomodasi, transportasi, dan pelaku usaha di sekitar lokasi acara.
Pada Oktober 2026, kalender konser Jakarta kembali diramaikan oleh NCT 127, Avenged Sevenfold, BABYMONSTER, The Rose, dan Ye. Duo pop-rock asal Amerika Serikat, LANY, juga dijadwalkan tampil pada 29–30 Oktober 2026 di Indonesia Arena. Ragam genre tersebut menunjukkan bahwa pasar konser Jakarta tidak hanya bertumpu pada satu segmen penggemar.
Konser Ye pada 24 Oktober 2026 di Stadion Utama GBK menjadi salah satu contoh terbaru dari peluang tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung acara itu sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai destinasi wisata musik internasional.
Baca Juga
Konser Ye dan Jakarta Running Festival Hasilkan Rp625 Miliar, Siapa yang Paling Diuntungkan?
Urban
Tabel Kapitalisasi Konser Internasional di Jakarta
Kapitalisasi konser dapat dilihat melalui dua jenis angka: estimasi dampak ekonomi yang dihitung menggunakan metode tertentu dan potensi belanja yang belum memiliki penghitungan khusus. Pembedaan ini penting agar nilai ekonomi tidak dibesar-besarkan hanya berdasarkan popularitas artis atau kapasitas venue.
| Musisi | Periode konser di Jakarta | Lokasi | Indikator kapitalisasi ekonomi |
| Coldplay | November 2023 | Stadion Utama GBK | Studi LPEM FEB UI memperkirakan output ekonomi US$53,34 juta, nilai tambah US$26,94 juta, dan sekitar 4.498 lapangan kerja |
| Maroon 5 | Februari 2025 | Jakarta International Stadium | Potensi pendapatan dari tiket, akomodasi, transportasi, kuliner, dan belanja penggemar; estimasi dampak ekonomi khusus konser tidak dicantumkan |
| Green Day | Februari 2025 | Kawasan Ancol | Potensi belanja penonton dan aktivitas usaha di sekitar lokasi; nilai dampak ekonomi khusus belum tersedia dalam data yang digunakan |
| Linkin Park | Februari 2025 | Stadion Madya GBK | Potensi transaksi dari tiket, merchandise, transportasi, makanan, dan akomodasi |
| SEVENTEEN | Februari 2025 | Jakarta International Stadium | Potensi belanja penggemar lintas kota dan negara serta transaksi sektor pendukung konser |
| YOASOBI | Februari 2025 | Istora Senayan | Potensi pengeluaran untuk tiket, perjalanan, kuliner, dan merchandise |
| NCT 127 | Februari 2025 | Indonesia Arena | Potensi belanja penggemar serta kegiatan ekonomi di kawasan Senayan |
| Ye | Oktober 2026 | Stadion Utama GBK | Pemerintah menyebut konser sebagai momentum pengembangan wisata musik; estimasi ekonomi perlu dibedakan menurut sumber dan metode penghitungan |
| Avenged Sevenfold | Oktober 2026 | Jakarta International Stadium | Potensi belanja penonton, transportasi, kuliner, merchandise, dan akomodasi |
| BABYMONSTER | Oktober 2026 | Indonesia Arena | Potensi belanja penggemar dan aktivitas usaha di sekitar kawasan acara |
| The Rose | Oktober 2026 | The Kasablanka Hall | Potensi transaksi tiket, kuliner, transportasi, dan belanja penggemar |
| LANY | 29–30 Oktober 2026 | Indonesia Arena | Potensi aktivitas ekonomi dari konser dua hari; angka dampak aktual belum tersedia |
Catatan: Tabel ini memetakan konser dan jalur kapitalisasi ekonominya. Angka US$53,34 juta untuk Coldplay berasal dari studi LPEM FEB UI. Untuk konser lain, potensi sektor pendapatan tidak berarti nilai dampak ekonominya telah dihitung atau terbukti mencapai angka tertentu.
Baca Juga
LANY Konser di Jakarta 29–30 Oktober 2026, Lagu Apa yang Paling Dinantikan Penggemar?
Urban
Dari Penjualan Tiket hingga Belanja Wisatawan
Penjualan tiket menjadi sumber penerimaan langsung yang paling mudah terlihat dalam penyelenggaraan konser. Namun, kapitalisasi ekonomi yang lebih luas terjadi ketika penonton membelanjakan uang di luar arena pertunjukan.
Penonton dari luar Jakarta membutuhkan transportasi menuju ibu kota, akomodasi, makanan, serta layanan lain selama berada di kota. Penggemar yang datang dari luar negeri juga berpotensi mengunjungi destinasi wisata, pusat perbelanjaan, museum, dan kawasan kuliner.
Aktivitas tersebut membuka peluang pendapatan bagi hotel, restoran, pengemudi transportasi, penyedia jasa perjalanan, pedagang merchandise, hingga UMKM. Penyelenggaraan konser juga membutuhkan tenaga kerja untuk produksi panggung, keamanan, kebersihan, logistik, dan operasional acara.
Meski demikian, manfaatnya tidak otomatis tersebar merata. Dampak ekonomi bergantung pada berapa banyak penonton yang datang dari luar daerah, berapa lama mereka tinggal, dan seberapa besar pengeluaran mereka masuk ke usaha lokal. Konser dengan jumlah penonton besar belum tentu menghasilkan dampak pariwisata yang sama jika sebagian besar penontonnya merupakan warga yang tinggal di Jakarta.
Mengukur Peluang Ekonomi Konser
Agar kapitalisasi konser dapat dinilai secara lebih akurat, pemerintah dan promotor perlu mengukur sejumlah indikator utama. Data tersebut dapat membantu membedakan pendapatan penyelenggara dari manfaat ekonomi yang diterima sektor lain.
| Indikator | Hal yang diukur | Manfaat bagi analisis ekonomi |
| Penjualan tiket | Jumlah tiket terjual dan nilai transaksi | Mengukur penerimaan langsung dari acara |
| Asal penonton | Proporsi penonton lokal, luar Jakarta, dan mancanegara | Menilai kemampuan konser menarik pengunjung baru |
| Lama tinggal | Jumlah malam wisatawan menginap | Mengukur potensi tambahan pendapatan akomodasi |
| Pengeluaran wisatawan | Belanja untuk hotel, transportasi, makanan, dan wisata | Menghitung perputaran uang di luar penjualan tiket |
| Transaksi UMKM | Nilai penjualan usaha lokal selama acara | Menilai keterlibatan bisnis kecil dalam rantai ekonomi konser |
| Tenaga kerja | Jumlah pekerja dan pendapatan yang diterima | Mengukur manfaat terhadap kesempatan kerja |
| Dampak ekonomi tidak langsung | Aktivitas pemasok dan sektor pendukung | Mengestimasi efek berantai dari pengeluaran awal |
Penghitungan juga harus menghindari penghitungan ganda. Sebagai contoh, penjualan tiket merupakan pendapatan langsung penyelenggaraan, sedangkan belanja hotel menjadi transaksi sektor akomodasi. Keduanya dapat masuk dalam analisis ekonomi yang sama, tetapi harus diproses dengan metode yang konsisten agar hasil akhirnya tidak melebih-lebihkan dampak.
Studi LPEM FEB UI tentang Coldplay menunjukkan bahwa pendekatan input-output dapat digunakan untuk memperkirakan dampak langsung, tidak langsung, dan dampak lanjutan dari pengeluaran konser. Pendekatan serupa dapat diterapkan pada acara lain, asalkan tersedia data yang memadai dan asumsi perhitungannya dijelaskan secara transparan.
Baca Juga
Setelah The Weeknd, Mengapa Jakarta Makin Menarik bagi Musisi Global?
Hiburan
Wisatawan Mancanegara Membawa Belanja Tambahan
Wisatawan mancanegara memiliki peran penting karena kedatangan mereka berpotensi menambah pengeluaran yang sebelumnya tidak terjadi di Jakarta. Penggemar asing umumnya perlu membeli tiket pesawat, memesan penginapan, menggunakan transportasi lokal, dan memenuhi kebutuhan makan selama kunjungan.
Pengeluaran tersebut berbeda dari belanja penonton yang sudah tinggal di Jakarta. Warga lokal mungkin mengeluarkan uang untuk tiket dan makanan, sedangkan penggemar dari luar negeri dapat menambahkan biaya penerbangan, hotel, transportasi bandara, serta perjalanan wisata.
Sebagai ilustrasi, wisatawan asing yang tinggal selama tiga malam akan membutuhkan akomodasi dan makanan setiap hari. Mereka juga berpotensi mengunjungi pusat perbelanjaan, kawasan Kota Tua, museum, tempat hiburan, atau destinasi kuliner di luar jadwal konser.
Meski demikian, besarnya pengeluaran tidak bisa diasumsikan sama untuk setiap pengunjung. Ada wisatawan yang menginap di hotel berbintang dan mengikuti beberapa kegiatan wisata, tetapi ada pula yang memilih penginapan berbiaya rendah atau hanya tinggal singkat. Karena itu, analisis ekonomi membutuhkan data asal penonton, lama tinggal, dan pengeluaran rata-rata per wisatawan.
Jakarta dan Peluang Menjadi Destinasi Wisata Musik
Jakarta memiliki modal untuk mengembangkan pariwisata berbasis acara. Kota ini mempunyai sejumlah venue besar, jaringan transportasi, hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas pendukung yang dapat menunjang kedatangan penonton.
Namun, persaingan memperebutkan konser internasional tidak hanya ditentukan oleh kapasitas stadion atau besarnya pasar penggemar. Kemudahan mobilitas, biaya perjalanan, kualitas layanan, keamanan, dan pengalaman wisata juga memengaruhi keputusan pengunjung.
Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai 53,85 persen pada Mei 2026. Pada bulan yang sama, perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta mencapai 8,82 juta perjalanan. Data ini menggambarkan besarnya aktivitas perjalanan di ibu kota, tetapi tidak dapat langsung dianggap sebagai dampak konser tertentu.
Pemerintah dan pelaku industri dapat menghubungkan kalender konser dengan paket wisata, promosi destinasi, serta kerja sama bersama hotel, restoran, dan UMKM. Pengunjung yang datang untuk menonton konser dapat diarahkan untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi destinasi lain di Jakarta.
Strategi ini juga membutuhkan perencanaan transportasi, pengelolaan keramaian, kebersihan, dan koordinasi antarinstansi. Tanpa pengelolaan yang baik, lonjakan pengunjung justru dapat menimbulkan kemacetan dan menambah beban fasilitas publik.
Kapitalisasi Konser Harus Berdampak pada Ekonomi Lokal
Deretan konser internasional membuktikan bahwa Jakarta memiliki daya tarik sebagai pasar pertunjukan musik. Namun, popularitas musisi dan besarnya jumlah penonton baru merupakan titik awal untuk membangun manfaat ekonomi yang lebih luas.
Kapitalisasi konser yang berkelanjutan membutuhkan data mengenai pengeluaran wisatawan, lama tinggal, transaksi UMKM, dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga perlu memastikan pelaku usaha lokal memperoleh akses untuk terlibat dalam rantai pasok acara.
Dengan pendekatan tersebut, konser internasional tidak hanya menjadi hiburan satu malam, tetapi juga bagian dari strategi pariwisata dan ekonomi kreatif Jakarta. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata stadion yang penuh, melainkan seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.
Baca Juga
LANY Konser di Jakarta 29–30 Oktober 2026, Lagu Apa yang Paling Dinantikan Penggemar?
Urban