- • IHSG sudah turun 34,74% dalam enam bulan tahun ini.
- • Net sell asing mencapai Rp73,61 triliun.
- • SMMA dan DSSA jadi saham paling berkontribusi atas pergerakan IHSG.
INFORMASI.COM, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan semester pertama 2026 di level 5.643,194 atau merosot 34,74% secara year-to-date (YTD), mencerminkan tekanan besar yang melanda pasar saham domestik sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Pada perdagangan terakhir semester I, Selasa (30/6/2026), IHSG bahkan terkoreksi 3,05% dalam sehari.
Pada sesi perdagangan 30 Juni, IHSG bergerak di rentang 5.638,574 hingga 5.811,669 sebelum ditutup di level 5.643,194. Posisi tersebut sekaligus menegaskan lemahnya sentimen pasar menjelang penutupan paruh pertama tahun ini.
Sepanjang tahun ini hingga 30 Juni, IHSG punya level tertinggi penutupan 9.133,87. Sementara level terendahnya adalah 5.342,14.
Tekanan jual investor asing turut menjadi salah satu faktor yang membebani pasar. Sepanjang semester I 2026, investor asing membukukan net sell sebesar Rp73,61 triliun.
Baca Juga
IHSG Jatuh ke Level di Bawah 6.000, Bakal Mirip Zaman Pandemi Covid 19?
Ekonomi
Dari sisi sektoral, sektor keuangan menjadi penahan laju pelemahan IHSG dengan penurunan paling terbatas, yakni 17,53% secara YTD. Selain itu, sektor transportasi dan logistik turun 18,69%, sementara sektor barang konsumsi primer (consumer non-cyclicals) terkoreksi 19,48%. Kinerja yang relatif lebih baik dari sektor-sektor tersebut membantu meredam tekanan yang lebih dalam terhadap indeks acuan.
Sebaliknya, sektor energi menjadi pemberat terbesar dengan penurunan mencapai 42,17% sepanjang semester I. Pelemahan juga terjadi pada sektor properti dan real estat yang turun 40,15%, infrastruktur 37,00%, teknologi 34,39%, industri 34,10%, serta bahan baku yang terkoreksi 32,24%.
Berdasarkan kontribusinya terhadap pergerakan IHSG sepanjang tahun berjalan, saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menjadi pendorong terbesar indeks dengan kontribusi positif 51,39 poin. Di belakangnya terdapat CASA yang menyumbang 9,97 poin, ADRO 8,55 poin, MEGA 7,12 poin, MAPI 6,57 poin, serta MDKA 3,67 poin.
Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama IHSG selama semester I. Saham DSSA menjadi laggard terbesar dengan kontribusi negatif 286,57 poin terhadap indeks, disusul BREN yang memangkas 244,39 poin, BBCA sebesar 238,27 poin, BBRI 145,96 poin, TLKM 118,30 poin, BRPT 113,76 poin, TPIA 110,66 poin, dan AMMN 100,95 poin.
Dari sisi kinerja harga saham, SMMA juga menjadi salah satu saham dengan performa terbaik pada semester I setelah melonjak 50,86%. Kenaikan signifikan juga dibukukan BDMN yang menguat 51,82%, BHAT 38,28%, BOGA 34,53%, MAPI 30,90%, dan ADRO 24,86%.
Baca Juga
IPO Saham Masih Sepi, Kapan Lagi Ada Pencatatan di BEI?
Ekonomi
Sebaliknya, saham dengan performa terburuk yang paling membebani indeks antara lain FILM yang anjlok 89,28%, DSSA turun 80,32%, TPIA merosot 76,36%, BREN melemah 68,14%, BRPT turun 60,70%, serta AMMN yang terkoreksi 51,75% sepanjang semester I 2026.
Secara regional, kinerja IHSG termasuk yang terburuk di kawasan ASEAN. Saat IHSG turun 34,74% sejak awal tahun, indeks Thailand justru menguat 26,32%, Singapura naik 11,29%, dan Vietnam bertambah 3,95%.
Dengan tekanan jual asing yang masih besar, pelemahan saham-saham berkapitalisasi jumbo, serta mayoritas sektor yang berada di zona merah, semester pertama 2026 menjadi salah satu periode paling menantang bagi pasar saham Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.