- • China menolak sanksi sepihak AS terkait Iran dan ancaman tarif AS terhadap mitra dagang Iran.
- • Beijing menegaskan tidak ada pemenang dalam perang tarif dan perang dagang.
- • Sementara itu, harga minyak dunia naik gara-gara ketegangan Iran yang dicampuri AS.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah China mengkritik pendekatan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran. China memperingatkan akan adanya bahaya akibat tekanan sepihak AS di tengah meningkatnya ketegangan politik dan gelombang aksi protes di Iran.
Sikap itu disampaikan China usai Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor barang ke AS bagi para negara yang menjadi mitra dagang Iran.
“ China dengan tegas menentang segala bentuk sanksi sepihak yang melanggar hukum dan yurisdiksi internasional. ”
— Pernyataan Kedutaan Besar China untuk AS di Washington, Senin (12/1/2026).
Baca Juga
AS Ancam Tarif 25 Persen Bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran
Internasional
Di sisi lain, China menegaskan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Menurut China, kebijakan tersebut sebagai pendekatan koersif yang tidak menyelesaikan masalah.
“ Sikap China yang menentang pengenaan tarif tanpa pandang bulu konsisten dan jelas. Perang tarif dan perang dagang tidak memiliki pemenang, dan paksaan serta tekanan tidak dapat menyelesaikan masalah. ”
— Kedutaan Besar China untuk AS mengatakan.
Baca Juga
Amerika Serikat Minta Warganya Segera Keluar dari Iran
Internasional
Pernyataan Kementerian Luar Negeri China
Reaksi juga datang dari Kementerian Luar Negeri China. Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menyampaikan sikap Beijing yang kurang lebih sama.
Mao Ning mengatakan China akan terus melawan penetapan tarif dagang yang diberlakukan Amerika Serikat seperti beberapa waktu lalu saat Negeri Tirai Bambu dikenai tarif hingga 145 persen, yang kemudian dibalas dengan kebijakan retaliasi oleh Beijing.
“ Kami selalu percaya bahwa tidak ada pemenang dalam perang tarif, dan China akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingannya yang sah. ”
— Mao Ning saat berbicara kepada wartawan di Beijing, Selasa (13/1/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Mao Ning juga diminta tanggapan mengenai imbauan perjalanan bagi warga China yang hendak berkunjung ke Iran untuk tujuan wisata.
Ia menyatakan pemerintah China terus memantau situasi keamanan di negara tersebut, seraya menegaskan bahwa perlindungan warga negara menjadi prioritas utama pemerintah.
“ China memantau perkembangan situasi dengan saksama. Kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi keselamatan warga negara China. ”
— Mao Ning mengatakan.
Baca Juga
Donald Trump Siap Bantu Pendemo, Mau Gulingkan Pemerintah Iran?
Video
Iran dan AS Panas, Harga Minyak Naik
Di sisi lain, ketegangan politik antara Iran dan AS berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat melanjutkan penguatan seiring kekhawatiran bahwa eskalasi situasi dapat mengganggu pasokan global.
Sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak antara lain:
- •Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
- •Iran saat ini menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
- •Ancaman intervensi militer dari Presiden Donald Trump meningkatkan risiko geopolitik.
Analis dari Barclays menilai situasi tersebut telah menambah premi risiko pada harga minyak. Gejolak di Iran, dalam catatan Barclays, telah menaikkan sekitar 3-4 dolar AS per barel pada harga minyak.
Perkembangan politik di Iran menjadi perhatian utama pasar minyak global karena negara tersebut merupakan produsen besar yang berada di bawah sanksi internasional. Setiap eskalasi dinilai berpotensi mengganggu pasokan atau meningkatkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak dunia.
Baca Juga
Puluhan Ribu Warga Iran Pro Pemerintah Turun ke Jalan
Internasional