- • Otoritas Iran menyatakan kesiapan penuh untuk mempertahankan negara di tengah ancaman serangan militer dari Amerika Serikat.
- • Amerika Serikat terus mengerahkan armada militernya di sekitar perairan Iran, dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln.
- • Iran mengintensifkan diplomasi regional, termasuk pertemuan tingkat tinggi di Turkiye, sembari menegaskan fokus pada pertahanan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah Iran mengirimkan sinyal kesiapan pertahanan di tengah meningkatnya ancaman serangan militer dari Amerika Serikat. Namun, Iran juga terus mengupayakan diplomasi regional untuk mencegah pecahnya konflik baru di kawasan.
Teranyar, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan menggelar pembicaraan tingkat tinggi di Turkiye, Jumat (30/1/2026). Informasi itu disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Baghaei menyatakan bahwa Teheran berupaya memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga berdasarkan kepentingan bersama. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari kebijakan luar negeri Iran di tengah tekanan geopolitik yang meningkat.
Kunjungan Araghchi berlangsung di tengah maraknya pertemuan diplomatik tingkat tinggi di kawasan. Para pemimpin regional disebut berupaya meyakinkan Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan, sekaligus mendorong kedua pihak mencari bentuk kompromi.
Di saat yang sama, Amerika Serikat terus memosisikan kekuatan militernya di sekitar perairan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu menyebut pengerahan tersebut sebagai sebuah “armada”. Armada itu dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln.
Baca Juga
Trump Ancam Iran dengan Opsi Militer, Waktu Habis untuk Kesepakatan Nuklir
Internasional
Iran Siapkan Perlawanan
Di dalam negeri, para pejabat politik, militer, dan yudisial Iran menyampaikan pesan yang seragam, yakni menegaskan sikap perlawanan dan kesiapan pertahanan. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa fokus Iran saat ini bukan pada perundingan.
“ Prioritas Teheran saat ini bukan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat, tetapi untuk memiliki kesiapan 200 persen guna mempertahankan negara kami. ”
— Kazem Gharibabadi, anggota senior tim perunding Iran, seperti dikutip media pemerintah pada Rabu (28/1).
Gharibabadi menyatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir telah terjadi pertukaran pesan antara Iran dan Amerika Serikat melalui perantara. Namun, ia menegaskan bahwa sekalipun kondisi memungkinkan untuk perundingan, Iran tetap berada dalam posisi siap membela diri.
Ia juga mengingatkan bahwa Iran sebelumnya pernah diserang oleh Israel dan Amerika Serikat, Juni 2025, tepat ketika proses negosiasi akan dimulai.
Baca Juga
Trump Ingin Serang Iran, Pentagon Ajukan Skenario Serang Fasilitas Nuklir Secara Diam-diam
Internasional
Iran Kerahkan Latihan Militer
Dalam beberapa hari terakhir, Iran menonjolkan kekuatan militernya menyusul serangkaian latihan militer yang digelar sejak perang selama 12 hari pada Juni. Dalam konflik tersebut, sejumlah pejabat tinggi militer Iran dilaporkan tewas dan beberapa fasilitas nuklir menjadi sasaran serangan.
Angkatan Darat Iran pada Kamis mengumumkan bahwa sebanyak 1.000 drone “strategis” baru telah bergabung dengan kekuatan militernya. Drone-drone tersebut mencakup drone bunuh diri satu arah, pesawat tempur tanpa awak, drone pengintai, serta wahana udara yang memiliki kemampuan perang siber.
Menurut pernyataan angkatan darat Iran, drone tersebut dirancang untuk menyerang target tetap maupun bergerak di darat, laut, dan udara.
Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran siap meluncurkan rudal balistik serta rudal jelajah ke Israel dan aset Amerika Serikat di kawasan, jika diperlukan.
“ Sejalan dengan ancaman yang kami hadapi, agenda angkatan darat mencakup menjaga dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat dan respons yang tegas terhadap setiap agresi. ”
— Amir Hamati, Panglima Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan singkat, Kamis.
Baca Juga
Trump: Jika Berani Coba Bunuh Saya, Saya Hancurkan Iran
Video