Trump Sebut Iran Kembangkan Senjata Nuklir, Kemenlu Iran: Trump Bohong Besar

Trump Sebut Iran Kembangkan Senjata Nuklir, Kemenlu Iran: Trump Bohong Besar
Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT
Ikhtisar
  • Iran secara resmi membantah keras pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam pidato di acara State of the Union.
  • Dalam pidatonya, Trump menuduh Teheran mengembangkan misil antarbenua dan membangun kembali program senjata nuklirnya.
  • Ucapan Trump memanaskan situasi saat kedua negara akan melakukan negosiasi putaran ketiga di Jenewa, Kamis (26/2).

INFORMASI.COM, Jakarta - Suasana politik Timur Tengah kembali memanas menjelang putaran ketiga negosiasi nuklir Iran-AS di Jenewa. Kementerian Luar Negeri Iran, Rabu (25/2/2026), melontarkan respons keras terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disampaikan dalam pidato State of the Union sehari sebelumnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dengan tegas menolak seluruh tuduhan yang dilayangkan Trump. Melalui akun di platform X, Baghaei menyebut pernyataan presiden AS itu tidak lebih dari pengulangan kebohongan lama.

Apapun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, misil balistik Iran, dan jumlah korban selama kerusuhan bulan Januari, hanyalah pengulangan dari 'kebohongan besar'.

— Esmaeil Baghaei, Jubir Kemenlu Iran, Rabu.

Trump Tuding Iran di Hadapan Kongres AS

Dalam pidatonya di hadapan Kongres, Selasa malam waktu AS, Trump melontarkan tuduhan serius. Ia mengklaim Iran tengah mengembangkan misil jarak jauh yang suatu saat dapat mencapai wilayah Amerika Serikat.

Mereka telah mengembangkan misil yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan-pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membangun misil yang akan segera mencapai Amerika Serikat.

— Trump berujar di hadapan Kongres. 

Laporan intelijen AS memang menyebut Iran tengah mengembangkan misil semacam itu. Namun, menurut pemberitaan media-media Amerika, Teheran diperkirakan masih membutuhkan setidaknya satu dekade lagi untuk mewujudkannya.

Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), dalam laporan Januari lalu, bahkan menyatakan Iran saat ini belum memiliki misil balistik antarbenua.

Trump juga menuduh Iran membangun kembali program nuklirnya setelah fasilitas utama Teheran dihancurkan dalam serangan AS-Israel pada Juni 2025. Ia menyebut upaya Teheran sebagai "ambisi nuklir jahat".

Iran selama ini konsisten membantah tengah mengembangkan senjata nuklir dan menegaskan haknya memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Polemik Angka Korban Tewas Protes

Pernyataan Trump yang paling kontroversial adalah klaimnya mengenai jumlah korban tewas dalam protes yang dimulai Desember lalu dan memuncak pada 8-9 Januari. Trump menyebut rezim Iran telah membunuh 32.000 orang.

Pemerintah Iran sebelumnya mengumumkan pada 21 Januari bahwa 3.117 orang tewas selama kerusuhan, termasuk warga sipil dan aparat keamanan. Pejabat Iran menyalahkan kematian tersebut pada "aksi terorisme" yang dipicu oleh AS dan Israel.

Sementara itu, lembaga aktivis hak asasi manusia berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency, telah memverifikasi lebih dari 7.000 kematian dan masih menyelidiki hampir 12.000 kasus lainnya. Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di Iran, Mai Sato, menyebut angka warga sipil yang tewas mungkin melebihi 20.000 orang.

Diplomasi AS-Iran di Atas Gelombang Ancaman Militer

Pernyataan Trump dan bantahan Iran ini muncul hanya beberapa jam sebelum negosiasi putaran ketiga yang dimediasi Oman dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Kamis (26/2). Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan bertemu dengan pejabat Iran.

Kami sedang dalam negosiasi dengan mereka. Mereka ingin mencapai kesepakatan, tapi kami belum mendengar kata-kata rahasia itu: 'Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.'

— Trump menerangkan.

Thumbnail Iran Gelar Latihan Militer IRGC di Selat Hormuz Jelang Dialog dengan Amerika Serikat
i

Baca Juga

Iran Gelar Latihan Militer IRGC di Selat Hormuz Jelang Dialog dengan Amerika Serikat

Internasional

Washington juga menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium dan ingin Teheran mengatasi program misil balistik serta dukungannya terhadap kelompok militan di kawasan. Iran telah menolak tuntutan tersebut.

Di tengah upaya diplomasi yang berlangsung, Trump justru mengerahkan dua gugus tempur kapal induk, puluhan kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar ke Timur Tengah.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons pengerahan militer ini dengan peringatan keras. Dalam pernyataannya, Rabu, ia menegaskan Iran tetap berkomitmen pada negosiasi namun siap membalas jika Washington mengambil jalur militer.

"Jika kalian (AS) memilih jalur diplomasi, jalur di mana martabat Iran dan kepentingan bersama dihormati, kami akan tetap berada di meja perundingan," ujar Ghalibaf.

"Jika keputusan kalian adalah mengulangi apa yang terjadi sebelumnya... dan membombardir meja perundingan sementara Iran menempuh jalur diplomasi dalam kondisi seperti ini, maka kalian sekali lagi akan merasakan pukulan keras dari bangsa Iran dan kekuatan pertahanan kami." 

Thumbnail Perundingan Nuklir Iran-AS di Jenewa Capai Titik Terang, Kedua Negara Bertemu 2 Pekan Lagi
i

Baca Juga

Perundingan Nuklir Iran-AS di Jenewa Capai Titik Terang, Kedua Negara Bertemu 2 Pekan Lagi

Internasional

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.