- • Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menolak ajakan perdamaian dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung.
- • Dalam pidato penutupan Kongres Partai Buruh, Kamis (26/2), Kim mengatakan pihaknya sama sekali tidak akan berurusan dengan Korsel.
- • Kementerian Unifikasi Korsel kecewa atas pernyataan Pyongyang yang dianggap menutup pintu dialog dua negara.
INFORMASI.COM, Jakarta - Suasana di ruang sidang Kongres Partai Buruh Korea Utara mendadak mencekam saat pemimpin tertingginya naik ke podium. Kim Jong Un, dengan nada tinggi dan penuh penekanan, menyampaikan pesan yang tegas: Pyongyang menolak mentah-mentah ajakan damai dari Seoul.
Dalam pidato penutupan kongres yang berlangsung Kamis (26/2/2026), Kim secara eksplisit menyebut Korea Selatan sebagai entitas paling bermusuhan yang tidak pantas diajak berunding. Pernyataan ini merupakan respons dingin atas ajakan Presiden Korsel Lee Jae Myung yang sebelumnya menyatakan ingin menciptakan hubungan damai dan hidup berdampingan dengan tetangganya di utara.
“ Korea Utara tidak akan berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan. (Korea Utara) akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara. ”
— Kim Jong Un, Pemimpin Korut, dikutip dari KCNA via Yonhap.
Pemimpin berusia 42 tahun itu bahkan memberikan nasihat sinis kepada pemerintah di Seoul. Ia menyarankan agar Korea Selatan membiarkan Korea Utara hidup sendiri tanpa gangguan dan melupakan unifikasi Korea.
“ Selama Korea Selatan tak bisa menghindari kondisi geopolitik, karena berbatasan dengan kami (Korea Utara), satu-satunya cara untuk hidup aman adalah dengan melepaskan semua hal yang berkaitan dengan kami (Unifikasi) dan membiarkan kami sendiri. ”
— Kim mengungkapkan.
Baca Juga
Kim Jong Un Jadi Sekjen Partai Buruh, Kembali Pimpin Korut dan Janji Tingkatkan Ekonomi
Internasional
Reaksi Sedih dari Seoul
Di seberang perbatasan, Kementerian Unifikasi Korea Selatan langsung merespons pernyataan keras Kim. Juru bicara kementerian menyampaikan rasa penyesalan mendalam atas sikap Pyongyang yang dianggap menutup semua celah dialog.
Pernyataan Kim ini menjadi pukulan telak bagi upaya Presiden Lee Jae Myung yang sejak awal masa jabatannya mencoba merangkul Korea Utara. Lee bahkan sempat menyatakan kesiapannya meminta maaf jika diperlukan demi membuka kembali komunikasi kedua negara.
Ketegangan kedua negara sebenarnya sudah mencapai titik nadir sejak era Presiden Yoon Suk Yeol. Pada 2024, insiden pengiriman drone Korea Selatan memicu kemarahan Pyongyang. Sejumlah pesawat nirawak itu menyebarkan pamflet propaganda anti-Korea Utara ke wilayah udara negara komunis tersebut.
Tindakan Seoul saat itu dianggap Pyongyang sebagai provokasi tak termaafkan. Meskipun Lee Jae Myung telah berupaya memperbaiki kerusakan hubungan dengan pendekatan berbeda dibanding pendahulunya, pernyataan terbaru Kim menunjukkan bahwa luka lama masih terlalu dalam untuk disembuhkan.
Dengan deklarasi ini, Korea Utara secara resmi mengubur harapan rekonsiliasi dengan tetangganya yang secara teknis masih dalam status perang sejak konflik Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Baca Juga
Korea Utara Uji Rudal Hipersonik, Kim Jong Un: Krisis Geopolitik Makin Rumit
Internasional