Bocoran Isi Proposal Damai Donald Trump Berisi 15 Poin dan Syarat dari Iran, Apa Betul Iran Minta Damai?

Bocoran Isi Proposal Damai Donald Trump Berisi 15 Poin dan Syarat dari Iran, Apa Betul Iran Minta Damai?
Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT
Ikhtisar
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim Iran sangat ingin bernegosiasi.
  • Sejumlah media di Israel melaporkan proposal damai berisi 15 poin versi AS dan lima syarat balasan yang diajukan Teheran.
  • Iran hingga kini masih membantah adanya kesepakatan untuk bernegosiasi formal dengan AS.

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Selasa (24/3/2026), mengatakan Iran sangat menginginkan negosiasi dengan pihak AS untuk meredakan perang.

Ia bahkan menyebut para juru runding Iran telah memberikan sebuah “hadiah yang sangat signifikan” kepada Amerika Serikat. Hadiah itu terkait minyak, gas, dan Selat Hormuz.

Namun, Trump tidak menjelaskan lebih rinci bentuk “hadiah” yang dimaksud. Klaim itu kemudian muncul di tengah spekulasi mengenai jalur diplomasi yang mulai dibuka di tengah eskalasi perang.

Di sisi lain, Teheran justru menolak narasi bahwa pembicaraan resmi sedang berlangsung. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka membantah adanya negosiasi dengan Washington dan menuduh kabar tersebut digunakan untuk memengaruhi pasar energi dan keuangan.

“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan yang menjebak AS dan Israel,” tulis Ghalibaf di media sosial X, beberapa waktu lalu.t

Thumbnail Trump: Iran Minta Damai tapi Malu, Saya Diminta Jadi Pemimpin Iran
i

Baca Juga

Trump: Iran Minta Damai tapi Malu, Saya Diminta Jadi Pemimpin Iran

Video

Perbedaan pernyataan dari kedua pihak memperlihatkan bahwa yang sedang berjalan saat ini tampaknya bukan negosiasi formal, melainkan pertukaran pesan secara tidak langsung.

Saluran komunikasi itu disebut berlangsung melalui sejumlah negara perantara, termasuk Pakistan, yang memiliki hubungan baik dengan Washington maupun Teheran.

Dalam konteks diplomasi konflik, pola seperti ini lazim dipakai untuk menguji posisi lawan tanpa harus mengakui adanya perundingan resmi. Karena itu, bantahan dari pejabat Iran tidak otomatis menutup kemungkinan adanya kontak.

Kemungkinan kontak tetap ada, tetapi bentuknya belum sampai pada perundingan terbuka yang menghasilkan kesepakatan. Jarak antara komunikasi tidak langsung dan perdamaian nyata, untuk saat ini, masih terlihat cukup jauh.

Di sisi lain, sejumlah media, terutama di Israel, mengklaim mendapat salinan proposal perdamaian yang diajukan AS dan Israel, sekutunya, kepada Iran.

Thumbnail Menlu Iran: Tak Ada Negosiasi, AS-Israel Harus Mendapat Pelajaran
i

Baca Juga

Menlu Iran: Tak Ada Negosiasi, AS-Israel Harus Mendapat Pelajaran

Video

Isi Proposal Damai 15 Poin Versi Trump

Perdebatan soal negosiasi itu semakin menguat setelah muncul laporan mengenai 15 butir rencana damai yang disebut digagas pemerintahan Trump untuk mengakhiri perang. Rencana itu pertama kali dipublikasikan media Israel, Channel 12, lalu disebut telah dikonfirmasi oleh pejabat AS dalam sejumlah laporan media. Namun, Gedung Putih tidak secara penuh membenarkan seluruh detailnya.

Secara garis besar, proposal itu meminta Iran untuk membuat komitmen permanen agar tidak pernah mewujudkan senjata nuklir. Iran juga diminta membongkar fasilitas nuklirnya dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada IAEA, badan pengawas nuklir di bawah PBB.

Selain isu nuklir, proposal tersebut juga menyasar kekuatan militer dan pengaruh regional Iran. Teheran diminta menerima pembatasan program rudal, baik dari sisi jangkauan maupun jumlah. Iran juga dituntut menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah, termasuk Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.

Thumbnail Trump Klaim Iran Siap Memberi Hadiah terkait Minyak dan Gas untuk Kemenangan AS
i

Baca Juga

Trump Klaim Iran Siap Memberi Hadiah terkait Minyak dan Gas untuk Kemenangan AS

Video

Salah satu poin paling sensitif dalam proposal itu menyangkut Selat Hormuz. Iran diminta membuka kembali jalur tersebut agar berfungsi sebagai koridor maritim bebas. Tuntutan ini sangat krusial karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama bagi kapal-kapal pembawa sebagian besar pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan atau gangguan di wilayah ini telah memicu lonjakan harga energi dan kekhawatiran resesi global.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat disebut akan membantu pengembangan proyek nuklir sipil di Bushehr untuk pasokan listrik, serta membuka jalan bagi pencabutan seluruh sanksi internasional terhadap Iran. Dalam bahan disebutkan, sanksi penuh kembali diberlakukan pada November lalu setelah Iran menangguhkan inspeksi fasilitas nuklirnya menyusul pengeboman sejumlah lokasi nuklir dan pangkalan militer oleh AS dan Israel.

Gedung Putih Akui Ada “Unsur Kebenaran”

Ketika ditanya mengenai kebocoran proposal 15 poin itu pada Rabu (25/3/2026), juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, tidak memberikan bantahan total. Ia justru menyebut laporan yang beredar bersifat spekulatif, tetapi mengakui ada bagian yang memang beririsan dengan pembicaraan yang sedang berjalan.

Leavitt menyebut laporan tersebut “bersifat spekulatif” dan menyatakan bahwa sebagian informasi yang dipublikasikan “tidak sepenuhnya akurat,” meskipun ia mengakui bahwa rencana itu “mengandung unsur kebenaran.”

Meski begitu, Leavitt menegaskan bahwa Gedung Putih tidak akan membahas rincian “kecil” dari komunikasi yang sedang berlangsung. Ia juga menolak menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke wilayah Iran, walaupun menyatakan langkah seperti itu tidak memerlukan otorisasi formal dari Kongres, sebagaimana termuat dalam bahan.

Pernyataan tersebut menunjukkan satu hal penting: Washington tampaknya memang sedang membuka ruang diplomasi, tetapi tetap menjaga tekanan militer dan psikologis secara bersamaan. Itulah sebabnya, meski perang masih berlangsung, pemerintah AS tetap membiarkan ruang spekulasi politik bergerak di ruang publik.

Thumbnail Leavitt: AS Menang Besar atas Iran, Gagalkan 90 Persen Rudal Iran, Apa Benar?
i

Baca Juga

Leavitt: AS Menang Besar atas Iran, Gagalkan 90 Persen Rudal Iran, Apa Benar?

Video

Iran Ajukan Lima Syarat Balasan

Di pihak Iran, penolakan terhadap proposal Trump pada awalnya disampaikan secara tegas. Namun, nada yang sedikit lebih lentur muncul sehari kemudian. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan sejumlah gagasan memang telah disampaikan kepada pejabat senior pemerintahan, meski ia menekankan Iran belum berniat masuk ke meja perundingan saat ini.

“Jika diperlukan sikap resmi terkait gagasan ini, sikap tersebut pasti akan ditentukan,” ujarnya.

Araghchi juga mengakui bahwa jalur komunikasi dengan Washington memang ada, tetapi tidak berlangsung secara langsung.

“Iran belum berniat untuk bernegosiasi saat ini... Pihak Amerika telah mulai mengirim berbagai pesan melalui beragam perantara,” kata Araghchi.

Sementara itu, media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa Teheran mengajukan lima syarat untuk mengakhiri perang. Mengutip seorang “pejabat senior politik-keamanan” yang tidak disebutkan namanya, laporan itu menyebut syarat-syarat tersebut berbeda tajam dari proposal Trump dan bahkan nyaris tidak memiliki titik temu substantif.

Thumbnail Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan AS di Tengah Klaim Kontroversial Trump
i

Baca Juga

Iran Tegaskan Tak Ada Negosiasi dengan AS di Tengah Klaim Kontroversial Trump

Internasional

Syarat pertama adalah penghentian total “agresi dan pembunuhan oleh musuh”. Tuntutan ini menjadi sangat sensitif karena sejak hari-hari awal perang, sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagaimana disebut dalam bahan.

Syarat berikutnya menyangkut jaminan keamanan jangka panjang. Iran menuntut adanya “mekanisme konkret untuk memastikan perang tidak diberlakukan kembali terhadap Republik Islam”. Namun, hingga kini belum jelas seperti apa bentuk jaminan itu, siapa yang akan mengawasi, dan negara mana saja yang dapat menjaminnya.

Di sektor ekonomi, Iran juga meminta pembayaran kerusakan perang dan ganti rugi. Selain itu, Teheran menuntut hak penuh untuk tetap menjadi satu-satunya pihak yang mengendalikan Selat Hormuz. Poin ini jelas berbenturan langsung dengan tuntutan Washington yang justru ingin selat tersebut dibuka sebagai jalur maritim bebas.

Poin paling politis dari proposal Iran menyasar Israel. Teheran menuntut agar Israel menghentikan serangan terhadap sekutu-sekutu Iran di kawasan, terutama setelah operasi militer Israel meningkat di Lebanon dan wilayah lain yang terhubung dengan poros sekutu Iran.

Thumbnail Trump Perpanjang Tenggat Negosiasi Nuklir untuk Iran Selama 10 Hari
i

Baca Juga

Trump Perpanjang Tenggat Negosiasi Nuklir untuk Iran Selama 10 Hari

Internasional

Titik Temu Masih Jauh

Jika kedua proposal itu diletakkan berdampingan, jarak posisi keduanya terlihat sangat lebar. Amerika Serikat ingin Iran melepas kemampuan strategisnya, mulai dari nuklir, rudal, jaringan proksi, hingga kendali efektif atas Selat Hormuz. Sebaliknya, Iran justru menuntut penghentian agresi, jaminan keamanan, kompensasi perang, dan pengakuan atas kontrol strategisnya di kawasan.

Karena itu, meskipun komunikasi tidak langsung sudah berjalan, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat masih tampak tipis. Yang terlihat saat ini bukan perdamaian yang sudah dekat, melainkan duel diplomasi di tengah perang, ketika masing-masing pihak masih berusaha memaksa lawannya menerima syarat yang paling menguntungkan posisi mereka.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.