Gencatan Senjata AS-Iran Diabaikan: Israel Gempur Lebanon, 254 Tewas, Iran Ancam Balas

Gencatan Senjata AS-Iran Diabaikan: Israel Gempur Lebanon, 254 Tewas, Iran Ancam Balas
Militer Israel membombardir Lebanon selatan saat AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata, Rabu (8/4/2026). Foto: AFP
Ikhtisar
  • Militer Israel melancarkan serangan udara masif ke Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, dan desa-desa selatan, pada Rabu (8/4/2026).
  • Korban tewas mencapai 254 orang, dan 1.165 orang alami luka-luka hanya dalam beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan.
  • PM Israel, Benjamin Netanyahu, berkilah Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran, meskipun Pakistan yang menjadi mediator menyatakan sebaliknya.

INFORMASI.COM, Jakarta - Darah masih menggenang di jalanan Beirut dan kota-kota sekitarnya pada Kamis (9/4/2026). Lebanon kini berkabung setelah gelombang serangan udara Israel merenggut sedikitnya 254 nyawa dan melukai lebih dari 1.165 orang dalam hitungan jam.

Yang mengejutkan, serangan ini terjadi hanya beberapa saat setelah dunia mendengar kabar gembira tentang gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera meluruskan: Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan itu.

"Kami akan terus menyerang Lebanon," ujar Netanyahu dalam konferensi pers, menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak berlaku bagi Hizbullah.

Pernyataan Netanyahu itu langsung berbenturan dengan klaim mediator utama perundingan AS-Iran, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Sebelumnya, Sharif mengumumkan bahwa AS dan Iran beserta sekutu-sekutunya "telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lainnya."

Thumbnail Bengalnya Netanyahu! Dukung Gencatan Senjata AS dengan Iran, tapi Tetap Mau Perang di Lebanon
i

Baca Juga

Bengalnya Netanyahu! Dukung Gencatan Senjata AS dengan Iran, tapi Tetap Mau Perang di Lebanon

Internasional

Saat Gencatan Senjata Diumumkan, Bom Justru Berjatuhan

Berita tentang gencatan senjata AS-Iran menyebar cepat pada Rabu (8/4/2026). Masyarakat Lebanon sempat menarik napas lega. Namun, harapan itu sirna ketika sirene dan ledakan justru mengguncang pemukiman padat penduduk.

Militer Israel menyatakan bahwa serangan ini merupakan serangan gabungan terbesar mereka terhadap Lebanon sejak dimulainya operasi militer baru pada 2 Maret lalu. Sasaran mereka, menurut pernyataan tertulis militer Israel, adalah "lebih dari 100 pusat komando Hizbullah dan lokasi militer."

Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Rumah-rumah warga di kawasan Chyah, Beirut, rata dengan tanah. Video yang beredar memperlihatkan tim penyelamat dan relawan mencari korban di tengah puing-puing dengan senter, diiringi teriakan warga yang kehilangan keluarga.

Reaksi Lebanon: Kejahatan Perang Skala Penuh

Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, tidak menahan amarahnya. Ia menyebut serangan terhadap daerah padat penduduk itu sebagai "kejahatan perang skala penuh."

"Kejahatan hari ini, yang bertepatan dengan perjanjian gencatan senjata yang diumumkan di kawasan, sebuah perjanjian yang gagal ditegakkan oleh Israel dan aparatus politik serta keamanannya, adalah ujian serius bagi komunitas internasional dan sebuah tantangan terang-terangan terhadap semua hukum, norma, dan konvensi internasional, yang setiap hari dilanggar Israel melalui kampanye pembunuhan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern," ujar Berri.

Ia juga menyerukan seluruh elemen Lebanon, termasuk pemimpin politik, agama, dan masyarakat sipil, untuk bersatu dalam solidaritas.

"Semoga Tuhan merahmati para syuhada, memberikan kesembuhan cepat bagi yang terluka, dan melindungi Lebanon," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Persatuan Dokter Lebanon, Elias Chlela, mengeluarkan panggilan darurat. Ia meminta "semua dokter dari semua spesialisasi" untuk segera menuju rumah sakit mana pun yang bisa mereka bantu. Salah satu rumah sakit terbesar di Beirut bahkan mengumumkan kebutuhan donor darah untuk semua golongan.

Hizbullah: Darah Para Syuhada tak akan Sia-sia

Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, langsung merespons dengan pernyataan tegas. Mereka menegaskan memiliki "hak" untuk membalas serangan tersebut.

"Kami menegaskan bahwa darah para syuhada dan yang terluka tidak akan ditumpahkan dengan sia-sia, dan bahwa pembantaian hari ini, seperti semua tindakan agresi dan kejahatan biadab, menegaskan hak alami dan hukum kami untuk melawan pendudukan dan merespons agresinya," demikian pernyataan resmi Hizbullah.

Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menyampaikan kepada kantor berita Reuters bahwa serangan Israel itu merupakan "pelanggaran berat terhadap gencatan senjata." Ia memperingatkan akan ada "dampak bagi seluruh perjanjian" jika serangan terus berlanjut.

Iran: Keputusan Kini Berada di Tangan AS

Tidak hanya Hizbullah, Iran pun angkat bicara dengan nada mengancam. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam unggahan di X, menegaskan bahwa syarat gencatan senjata sudah "jelas dan eksplisit: AS harus memilih, gencatan senjata atau perang yang dilanjutkan melalui Israel. Amerika tidak bisa memiliki keduanya."

"Dunia melihat pembantaian di Lebanon. Bola kini berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah Amerika akan bertindak sesuai komitmennya," tulis Araghchi.

Peringatan lebih keras datang dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Melalui pernyataan yang disiarkan TV negara Iran, IRGC menyatakan akan membalas jika Zionis terus menyerang Lebanon.

"Kami mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutu Zionisnya, algojonya: jika agresi terhadap Lebanon yang tercinta tidak segera dihentikan, kami akan memenuhi tugas kami dan memberikan respons."

Posisi AS: Lebanon "Pertempuran Terpisah"

Di tengah kontradiksi yang membingungkan, Presiden AS Donald Trump memberikan klarifikasi kepada PBS. Ia mengatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran karena keberadaan Hizbullah.

"Itu akan ditangani juga," kata Trump kepada PBS.

"Itu pertempuran terpisah," katanya.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut adanya "kesalahpahaman yang sah" mengenai posisi Iran tentang dimasukkannya Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata.

Namun, pernyataan Vance ini secara langsung bertentangan dengan klaim Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang menjadi kunci mediasi dalam perundingan AS-Iran.

Thumbnail Ini 10 Syarat Iran untuk Gencatan Senjata dengan AS yang Disepakati Donald Trump
i

Baca Juga

Ini 10 Syarat Iran untuk Gencatan Senjata dengan AS yang Disepakati Donald Trump

Internasional

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.