Iran akan Terus Lawan AS meski Krisis Ekonomi Makin Menjepit

Iran akan Terus Lawan AS meski Krisis Ekonomi Makin Menjepit
Pasukan militer Iran (IRGC). Foto: Getty
Ikhtisar
  • Pemerintah Iran menegaskan tengah menjalankan strategi kemandirian ekonomi untuk menghadapi tekanan sanksi AS yang semakin berat di tengah perang kedua negara.
  • Teheran mengandalkan cadangan barang pokok, mata uang asing, emas, serta peningkatan produksi dalam negeri untuk menjaga ekonomi tetap berjalan.
  • Di balik klaim ketahanan ekonomi, Iran menghadapi inflasi tinggi, penurunan daya beli, kekurangan energi, serta kenaikan harga pangan dan obat-obatan.

INFORMASI.COM, Jakarta - Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyerah menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat. Teheran memilih memperkuat strategi kemandirian nasional dengan mengandalkan kapasitas domestik untuk menjaga roda ekonomi tetap bergerak meski tekanan eksternal semakin besar.

Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Washington disebut menggunakan tekanan ekonomi sebagai upaya memaksa Teheran mengubah sikap dalam konflik yang telah berlangsung selama enam bulan antara kedua negara.

Namun, pemerintah Iran menyatakan telah menyiapkan langkah untuk menghadapi situasi tersebut. Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah memiliki rencana bertahan selama dua tahun menghadapi tekanan ekonomi.

“Kami memiliki alat kami sendiri dan kami juga memahami permainan ini,” kata Madanizadeh dalam wawancara televisi pemerintah Iran, merujuk pada pengalaman panjang negaranya menghadapi sanksi internasional.

Menurut dia, Iran bahkan memiliki peluang mengambil langkah ofensif dalam situasi dunia yang tidak lagi sepenuhnya didominasi Amerika Serikat. Madanizadeh juga meyakini sejumlah negara tidak akan sepenuhnya mengikuti tekanan Presiden AS Donald Trump untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran.

Thumbnail Di Iran, Harga Tomat 4 Kg Kini Tembus 2 Juta Rial, Kok Bisa?
i

Baca Juga

Di Iran, Harga Tomat 4 Kg Kini Tembus 2 Juta Rial, Kok Bisa?

Internasional

Iran Simpan Cadangan, Tapi Ekonomi Tetap Tertekan

Salah satu strategi utama pemerintah Iran adalah memperbesar cadangan kebutuhan pokok, valuta asing, dan emas. Pemerintah juga mulai menerapkan pembatasan penggunaan energi meskipun Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan sumber daya alam terbesar di dunia.

Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan ekspor minyak, yang menjadi sumber utama pemasukan valuta asing negara tersebut, hampir sepenuhnya berhenti akibat tekanan ekonomi.

Meski demikian, Hemmati menyatakan pemerintah masih memiliki cadangan mata uang asing untuk memenuhi kebutuhan penting.

“Kami memiliki cadangan uang tunai di tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau Amerika Serikat,” ujar Hemmati dalam pertemuan dengan sejumlah pelaku usaha.

Ia mengakui Iran menghadapi persoalan serius seperti inflasi yang tidak terkendali dan penurunan daya beli masyarakat. Namun, ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan keruntuhan ekonomi.

“Menanggung kesulitan sangat berbeda dengan mengalami kehancuran dan itulah yang diinginkan Amerika Serikat,” katanya.

Pemerintah Iran juga mengingatkan masyarakat bahwa kondisi ekonomi kemungkinan belum akan membaik dalam waktu dekat. Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan warga tidak boleh berharap perubahan besar dalam satu tahun mendatang.

Pada saat yang sama, nilai mata uang rial kembali mencatat rekor terendah. Rial sempat jatuh hingga 2,05 juta per dolar AS di pasar terbuka pada Selasa sebelum sedikit menguat pada hari berikutnya.

Thumbnail Mata Uang Iran Terjun Bebas, 1 Dolar AS sama Dengan 1,47 Juta Rial, Kok Bisa?
i

Baca Juga

Mata Uang Iran Terjun Bebas, 1 Dolar AS sama Dengan 1,47 Juta Rial, Kok Bisa?

Internasional

Kemandirian Pangan Jadi Strategi Bertahan Iran

Selain sektor keuangan, pemerintah Iran mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Kepala keamanan baru Iran, Mohsen Rezaei, menyerukan generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dengan memproduksi barang yang dibutuhkan masyarakat.

“Masuklah ke dalam ekonomi dan mulai memproduksi barang yang dibutuhkan rumah tangga dan komunitas kalian,” ujar Rezaei dalam wawancara televisi pemerintah.

Gagasan kemandirian ekonomi sebenarnya telah menjadi bagian dari strategi Iran selama beberapa dekade. Pemerintah terus mendorong pembangunan berbasis produksi domestik meski membutuhkan biaya besar.

Dalam sektor pertanian, pemerintah Iran mengklaim mampu memenuhi sekitar 85 persen kebutuhan produknya dari produksi dalam negeri. Menteri Pertanian Iran Gholam-Reza Nouri mengatakan pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 90 persen dalam waktu dekat.

“Kami ingin meningkatkan kemandirian pangan dalam jangka pendek hingga 90 persen, sebelum akhirnya mampu memproduksi seluruh kebutuhan pangan utama di dalam negeri,” kata Nouri.

Namun, Iran masih bergantung pada impor sejumlah komoditas penting seperti gandum, jagung, beras, dan minyak nabati. Uni Emirat Arab serta Arab Saudi menjadi pemasok utama beberapa produk pangan melalui jalur perdagangan ulang, sementara Rusia dan negara-negara Asia Tengah memasok sebagian kebutuhan gandum melalui Laut Kaspia.

Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sebelumnya memperingatkan kenaikan biaya impor, gangguan logistik, dan kebijakan pembatasan perdagangan telah mempercepat inflasi pangan Iran.

Data Pusat Statistik Iran menunjukkan harga pangan pada Juli meningkat lebih dari 128 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat uang masyarakat membeli jauh lebih sedikit dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Thumbnail Trump Dilaporkan Sepakat Cabut Sanksi Ekonomi dan Bayar Kompensasi kepada Iran
i

Baca Juga

Trump Dilaporkan Sepakat Cabut Sanksi Ekonomi dan Bayar Kompensasi kepada Iran

Internasional

Harga Obat Naik, Energi Mengalami Gangguan

Tekanan ekonomi juga terasa dalam sektor kesehatan. Pemerintah Iran menyatakan sekitar 97 persen kebutuhan obat diproduksi di dalam negeri, tetapi obat impor masih memiliki kontribusi besar terhadap total pengeluaran farmasi.

Juru bicara Komite Kesehatan Parlemen Iran Salman Eshaghi mengatakan Iran mengalami tingkat kekurangan pada hampir 1.000 jenis obat.

Harga obat juga meningkat setelah pemerintah mulai mengurangi pemberian mata uang murah untuk sejumlah kebutuhan impor.

Selain pangan dan kesehatan, sektor energi menghadapi tekanan besar setelah perang merusak sejumlah fasilitas minyak, gas, dan utilitas Iran.

Pemadaman listrik masih terjadi di rumah tangga dan kawasan industri di Teheran serta sejumlah kota lain. Kekurangan gas alam juga diperkirakan meningkat ketika musim dingin datang dan kebutuhan energi melonjak.

Gangguan distribusi bahan bakar turut terjadi. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Teheran, Mashhad, Karaj, dan beberapa kota lain sempat kehabisan stok yang dialokasikan pemerintah sehingga menyebabkan antrean panjang.

Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani memastikan harga bahan bakar dan kuota energi tidak berubah hingga akhir tahun kalender Iran pada 22 September. Namun, pemerintah sebelumnya telah mengurangi kuota bahan bakar kendaraan pribadi.

Perusahaan Penyulingan dan Distribusi Minyak Iran menyatakan dua kilang baru di wilayah selatan yang dijadwalkan beroperasi sebelum akhir Maret akan menambah kapasitas produksi sekitar 12 juta liter per hari untuk membantu mengurangi tekanan pasokan.

Thumbnail Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Siapkan Jalur Diplomasi demi Kesepakatan Hormuz
i

Baca Juga

Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Siapkan Jalur Diplomasi demi Kesepakatan Hormuz

Internasional

Reformasi Ekonomi Jadi Pilihan Sulit

Di tengah tekanan tersebut, ekonom Iran Sadegh Alhosseini memperingatkan pemerintah mungkin harus melakukan reformasi yang tidak populer, termasuk menaikkan harga bahan bakar.

Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk mencegah krisis sosial yang lebih besar.

“Jika Iran menuju kekacauan besar, antrean bensin sepanjang kilometer dan menjadi seperti Venezuela, sesuatu yang jauh lebih buruk akan terjadi dan lebih sulit untuk ditangani,” kata Alhosseini.

Namun, kenaikan harga bahan bakar juga berpotensi kembali meningkatkan inflasi karena biaya transportasi akan ikut naik. Situasi itu menjadi tantangan besar bagi masyarakat yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah Iran masih berusaha menunjukkan kemampuan bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Namun, kombinasi perang, sanksi, inflasi, dan penurunan daya beli membuat ruang gerak ekonomi Teheran semakin terbatas.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.