INFORMASI.COM, Jakarta - Nilai tukar mata uang rial Iran terjun bebas sejak awal Januari 2026. Menurut data yang dikutip oleh Iran International, 6 Januari 2026, 1 dolar AS diperdagangkan sekitar 1,47 juta rial di pasar gelap Iran.
Namun, sejumlah media menyebut ada penguatan sedikit rial Iran hingga pertengahan bulan Januari. Satu dolar kini bernilai 1,065 juta rial.
Untuk diketahui, nilai 1 rial Iran memang tidak dipakai dalam perdagangan barang di Iran, sebab nilainya sangat rendah. Pecahan mata uang Iran paling rendah yang biasa menjadi alat tukar perdagangan di Iran yakni 1.000 rial.
Meski demikian, krisis nilai tukar uang Iran memang tengah terjadi. Salah satunya ya gara-gara inflasi tinggi yang terus menggerus daya beli masyarakat.
Laporan dari Investing.com menyebutkan inflasi tahunan Iran kini berada di atas 40 persen. Harga makanan pokok dan barang kebutuhan harian melonjak jauh lebih tinggi dibanding bulan tahun lalu.
Baca Juga
Starlink vs Iran: Ketika Perusahaan Teknologi Mencoba Runtuhkan Negara
Internasional
Faktor Penyebab Ekonomi Iran Turun
Pelemahan tajam rial dan inflasi kronis bukan terjadi secara mendadak. Ekonomi di Iran anjlok akibat kombinasi beberapa faktor struktural dan eksternal, di antaranya:
- •Sanksi internasional, terutama sanksi Amerika Serikat, yang memutus ekspor minyak Iran dan akses Iran terhadap ke pasar keuangan global.
- •Iran masih tergantung pada impor barang pokok, sehingga pelemahan mata uang berdampak langsung pada biaya pangan dan obat-obatan.
- •Manajemen moneter yang lemah dan kebijakan fiskal yang membuat pemerintah tergantung pada pencetakan uang untuk memenuhi defisit mempercepat inflasi.
Kondisi ini memperparah gejolak di pasar dan mempercepat depresi ekonomi Iran, yang juga sempat mengalami kontraksi pertumbuhan, meskipun produksi minyak sedikit meningkat.
Menurut laporan Iran International per 28 Desember 2025, ekonomi Iran menyusut 0,6 persen, sementara harga minyak mentah Iran susut 0,8 persen.
Baca Juga
Trump Berubah, Sebut Iran Tidak Lagi Bunuh Pendemo
Video
Protes Besar dan Tuntutan Perubahan Politik
Financial Times melaporkan, krisis ekonomi itu telah merembet menjadi gelombang protes nasional yang luas dan menantang legitimasi pemerintah.
Demonstrasi pertama kali pecah pada 28 Desember 2025 di Teheran dan kota-kota besar lain dipicu oleh frustrasi pedagang terhadap dampak depresiasi mata uang dan kenaikan harga barang pokok.
Para pedagang di Grand Bazaar Teheran memainkan peran penting dalam gelombang protes ini. Mereka dikabarkan menutup toko-toko sebagai bentuk protes terhadap keadaan ekonomi yang semakin tidak terkendali.
Pemberontakan ini kemudian meluas hingga mencakup tuntutan yang lebih politis, termasuk seruan untuk perubahan rezim.
Unjuk rasa yang berlarut-larut itu kemudian berubah jadi kerusuhan. Belum ada kabar pasti siapa yang menyulut kerusuhan dalam unjuk rasa yang awalnya damai itu. Akibatnya, ratusan orang dikabarkan tewas akibat kerusuhan tersebut.
Bahkan, media-media Amerika Serikat dan Eropa melaporkan lebih dari 2.500 orang tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Namun, Pemerintah Iran membantah angka itu.
Pemerintah Iran menyebut warga sipil yang menjadi korban kerusuhan 'hanya' ratusan orang. Selain itu, petugas keamanan pun ikut terkena dampak dengan lebih dari 100 aparat tewas.
Baca Juga
Trump: Warga Iran Teruslah Demo dan Gulingkan Pemerintah
Video
Bantuan untuk Meredam Amarah Warga Iran
Untuk meredam kemarahan rakyat, pemerintah Iran dikabarkan mengumumkan kebijakan bantuan tunai senilai sekitar 10 juta rial (sekitar US$7,70) per bulan kepada sekitar 80 juta warga. Menurut New York Post, sejumlah demonstran menganggap uang itu tidak akan cukup di tengah biaya hidup yang melonjak.
Sebelumnya, Reuters melaporkan, pemerintah Iran juga telah mengambil langkah dengan mengganti pejabat tinggi bank sentral pada akhir Desember 2025. Pergantian itu terutama dilakukan sebagai bagian dari usaha stabilisasi mata uang setelah nilai tukar rial Iran mencapai titik terendah dalam sejarah.
Namun, ketidakpastian politik tetap tinggi. Tekanan bukan cuma dari pengunjuk rasa melainkan keterlibatan kelompok oposisi Iran, terlebih yang berada di luar negeri, termasuk Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang dulu digulingkan Ayatullah Khomeini. Ditambah, Amerika Serikat dan Israel terus menyulut amarah pengunjuk rasa agar bisa menggulingkan pemerintahan Republik Islam.
Baca Juga
China Tolak Tarif AS terhadap Mitra Iran 25 Persen
Internasional