- • Presiden AS Donald Trump menyatakan perang Amerika Serikat dengan Iran akan berakhir “sangat segera” dan harga energi akan turun tajam setelahnya.
- • Trump menegaskan Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir, sambil menuduh pemerintahan Barack Obama gagal mencegah pengembangan program nuklir Teheran.
- • Tapi, perundingan AS-Iran masih buntu karena perselisihan soal kapasitas pengayaan uranium, stok uranium yang sangat diperkaya, serta akses inspektor IAEA.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberi jaminan bahwa perang dengan Iran akan segera usai. Ia menyatakan harga energi akan turun tajam begitu konflik berakhir, di tengah tekanan pasar minyak dan pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026.
Trump menyebut pemerintah Iran sedang menunggu dengan cemas. Ia juga memperingatkan Teheran akan menerima “pelajaran yang keras”, sambil menegaskan kesabaran Washington telah habis.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir. Menurutnya, harga energi akan turun secara signifikan setelah perang berakhir.
"Perang Iran akan berakhir dalam waktu dekat… Segera, karena mereka memang menginginkannya berakhir," ujar Trump kepada para wartawan di Montana, AS.
"Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan harga minyak akan anjlok drastis," tambah Trump.
Baca Juga
Donald Trump Tegaskan Tak akan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela AS
Internasional
Trump: Iran Sudah Hancur
Sebelumnya, saat berpidato dalam sebuah rapat umum di Montana, Trump mengungkapkan ketidakpastian mengenai pejabat Iran mana yang sedang diajak bernegosiasi oleh AS, di tengah upaya Washington untuk mengakhiri konflik tersebut.
"Mereka tidak punya angkatan laut. Mereka tidak punya angkatan udara. Angkatan darat mereka telah hancur lebur. Para pemimpin mereka sudah tidak ada."
"Seharusnya saya membiarkan para pemimpin mereka tetap ada, karena sekarang saya tidak tahu dengan siapa sebenarnya kita bernegosiasi," ujarnya.
Presiden tersebut juga menggambarkan Iran sebagai negara yang dulunya merupakan kekuatan militer dominan di Timur Tengah, seraya menyatakan bahwa operasi militer AS telah melemahkan kemampuan mereka secara signifikan.
"Iran dulunya adalah pihak yang gemar menindas di Timur Tengah," katanya, seraya menambahkan bahwa negara itu kini tidak lagi sekuat sebelumnya.
Trump mengeklaim bahwa serangan AS telah menghancurkan armada angkatan laut Iran dan membuat pesawat militer mereka tidak dapat digunakan lagi.
Ia menyebutkan bahwa Iran memiliki 159 kapal dan menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang masih beroperasi. Ia juga mengeklaim bahwa pesawat-pesawat tempur Iran telah hancur di landasan pacu negara tersebut.
"Dulu mereka kuat. Sekarang tidak lagi... Saya katakan 'kita telah melumpuhkan mereka.' Mereka punya tepat 159 kapal. Berapa banyak kapal yang kini terbaring di dasar laut? Ya, 159 kapal. Mereka juga punya 274 pesawat tempur yang cukup bagus—meski tidak sebaik milik kita. Berapa banyak pesawat tempur yang bisa digunakan hari ini? Nol! Anda tahu di mana mereka sekarang? Semuanya berserakan di landasan-landasan pacu Iran yang indah itu. Semuanya hancur berkeping-keping dan tersebar di sepanjang landasan pacu," tambahnya.
Baca Juga
Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina, Harga Minyak Dunia Turun
Internasional
Obama Jadi Sasaran Kritik
Trump menyalahkan pemerintahan mantan Presiden Barack Obama atas keberlangsungan program nuklir Iran. Ia menyatakan Obama memberikan miliaran dolar kepada Iran dan seharusnya mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.
Sebelumnya, Trump menyebut Iran sebagai “negara gagal”. Ia mengklaim Iran tidak memiliki ekonomi dan tidak membayar gaji tentaranya.
Pernyataan Trump muncul saat perang AS-Iran memasuki bulan kedelapan. Kedua pihak belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konfrontasi, meski telah saling bertukar usulan dalam beberapa pekan terakhir.
Washington menuntut Iran menurunkan kapasitas pengayaan uranium. Sementara itu, upaya membuka kembali Selat Hormuz—jalur penting pasokan energi global—juga belum membuahkan hasil setelah gencatan senjata awal runtuh pada Juni.
Masalah nuklir tetap menjadi penghambat utama. Kedua pihak masih berselisih mengenai kapasitas pengayaan uranium Iran, stok uranium yang sangat diperkaya, lokasi penyimpanannya, serta pembatasan akses inspektor Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Baca Juga
Trump akan Ganti Nama Selat Hormuz Jadi ‘Selat Trump’, Klaim AS Sudah Kuasainya
Internasional
Minyak Mahal Tekan Pasar
Gangguan pasokan minyak akibat perang mendorong harga energi naik. Kontrak minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar US$106,58 per barel pada Rabu, di tengah kekhawatiran pasokan terganggu.
Trump mengaitkan berakhirnya perang dengan penurunan harga energi, menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS. Ia juga sempat mengancam Iran dengan “serangan yang sangat berat” pada awal Oktober.
Washington menegaskan tujuan utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, tanpa kesepakatan soal pengayaan uranium dan akses inspeksi, jalur menuju perdamaian masih belum terbuka.