- • Donald Trump mengusulkan nama Selat Hormuz diubah menjadi “Trump Strait.”
- • Ia mengklaim pemerintah AS sudah menguasai jalur strategis tersebut.
- • Trump kemudian mengatakan rencana tersebut hanya “dilemparkan” dan belum tentu benar-benar akan dijalankan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial mengenai Selat Hormuz. Setelah pemerintahannya mengklaim Amerika Serikat kini menguasai jalur pelayaran strategis tersebut, Trump melontarkan gagasan untuk mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Trump Strait” atau “Selat Trump”.
Trump menyampaikan usulan itu melalui unggahan di media sosial pada Rabu, kurang dari sehari setelah militer AS menyerang sejumlah sasaran di Iran.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP???” tulis Trump.
“Seperti Amerika sendiri, wilayah itu akan menjadi ‘lebih panas’ dari sebelumnya!” lanjutnya.
Usulan tersebut muncul ketika Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perang AS-Israel dengan Iran. Jalur laut yang berada di antara Iran dan Oman itu menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dunia.
Namun, beberapa jam setelah mengunggah usulan tersebut, Trump memberikan sinyal bahwa dirinya belum tentu serius untuk mengubah nama selat.
Ketika wartawan bertanya di Gedung Putih apakah ia benar-benar bermaksud mengganti nama Selat Hormuz, Trump menjawab singkat.
“Tidak, tidak... itu hanya dilemparkan begitu saja,” kata Trump.
Baca Juga
Trump akan Kirim Serangan Terbesar ke Iran, AS Sedang Bombardir IRGC Dekat Selat Hormuz
Internasional
Trump Sebelumnya Ubah Nama Teluk Meksiko
Gagasan mengenai “Selat Trump” muncul setelah Trump sebelumnya mengambil sejumlah langkah untuk mengubah nama geografis yang sudah digunakan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Kurang dari sepekan sebelum usulan mengenai Selat Hormuz, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi “Lake America”.
Perintah tersebut menginstruksikan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum dan departemennya memperbarui nama tersebut dalam Geographic Names Information System.
Kanada menolak perubahan itu karena Danau Ontario berada di perbatasan kedua negara. Meski demikian, Google dan Apple belakangan memperbarui nama tersebut dalam layanan peta mereka.
Pada awal masa jabatan keduanya, Trump juga menyatakan mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Gulf of America” atau Teluk Amerika. Meksiko dan sejumlah pihak internasional menolak penggunaan nama baru tersebut.
Berbeda dengan Danau Ontario dan Teluk Meksiko yang memiliki hubungan geografis langsung dengan Amerika Serikat, Selat Hormuz tidak berada di dekat wilayah AS. Karena itu, belum jelas mekanisme apa yang dapat digunakan Washington untuk mengubah nama selat internasional tersebut.
Baca Juga
Donald Trump: Iran Negara Gagal dan Sudah Mati, Inflasi 350 Persen
Internasional
Muncul Setelah Serangan AS ke Iran
Pernyataan Trump mengenai nama Selat Hormuz juga muncul setelah serangan terbaru militer AS terhadap Iran.
Kurang dari 24 jam sebelum Trump mengusulkan nama “Trump Strait”, pasukan AS menyerang sejumlah sasaran di Iran. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk dua anak, dalam sebuah pesta pernikahan di kota Sirik, Iran selatan.
Di tengah serangan dan ketegangan militer yang terus berlangsung, pemerintahan Trump berulang kali menyatakan Iran telah kehilangan kendali atas Selat Hormuz.
Selat tersebut memiliki arti strategis bagi perdagangan energi global. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melewati jalur itu setiap hari.
Angka tersebut setara dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Namun, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kini masih jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelum perang. Pelacak kapal juga mencatat penurunan lebih lanjut dalam beberapa hari terakhir setelah serangkaian serangan militer kembali berlangsung usai jeda selama beberapa pekan.
Baca Juga
Trump Ancam Serang Iran Lagi, Korban Tewas Tembus 18 Orang Termasuk Anak 4 Tahun
Internasional
AS Klaim Arus Minyak Tetap Tinggi
Pemerintahan Trump menyatakan ekspor minyak dari kawasan tersebut secara keseluruhan justru lebih tinggi dibandingkan sebelum perang jika penghitungan memasukkan minyak yang dikirim melalui jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang melewati Selat Hormuz.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin.
Menurut Wright, angka tersebut menjadi rekor tertinggi selama perang.
“Lebih dari 17 juta barel” minyak melewati selat pada hari tersebut, kata Wright kepada CNBC, sebagaimana dikutip dalam bahan tersebut.
Meski angka itu mendekati volume sebelum perang, jumlahnya masih berada di bawah sekitar 20 juta barel per hari yang tercatat sebelum konflik pecah.
Situasi tersebut membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu pusat ketegangan dalam perang Iran. Di satu sisi, Washington menyatakan telah mengambil kendali atas jalur tersebut. Di sisi lain, aktivitas pelayaran masih terganggu dan serangan terhadap kapal di kawasan itu terus menjadi persoalan.
Di tengah kondisi tersebut, Trump memilih melontarkan kemungkinan perubahan nama selat menjadi “Trump Strait”, meski beberapa jam kemudian ia mengatakan gagasan itu hanya sekadar usulan yang dilemparkan dan belum menunjukkan keputusan resmi untuk mengubah nama Selat Hormuz.
Baca Juga
Serangan AS Tewaskan Anak-anak di Acara Nikahan, Ketua Parlemen Iran: AS Setan!
Internasional