- • Gelombang demonstrasi di Eropa meluas hingga Swiss dan Jerman setelah sebelumnya terjadi aksi besar di Prancis.
- • Bentrokan antara demonstran dan aparat terjadi di sejumlah kota, termasuk Zurich, Basel, Frankfurt, Cologne, dan Berlin.
- • Kenaikan biaya hidup, mahalnya harga rumah, serta persoalan pendidikan dan layanan publik menjadi sejumlah pemicu demonstrasi.
INFORMASI.COM, Jakarta – Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah negara Eropa semakin meluas. Setelah sebelumnya aksi massa terjadi di Prancis, demonstrasi yang melibatkan kelompok anak muda kini turut berlangsung di Swiss dan Jerman.
Aksi yang berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, tersebut awalnya diwarnai demonstrasi untuk menyuarakan keresahan masyarakat terhadap kenaikan biaya hidup, mahalnya harga perumahan, hingga memburuknya kualitas layanan publik.
Namun, sejumlah aksi di beberapa kota berakhir ricuh setelah kelompok demonstran terlibat bentrokan dengan aparat keamanan. Polisi di sejumlah wilayah bahkan harus menggunakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk membubarkan massa.
Demonstrasi di Prancis Diikuti Ratusan Ribu Orang
Prancis menjadi salah satu negara yang mengalami gelombang demonstrasi terbesar. Pada 31 Oktober 2026, sekitar 320.000 orang turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan terkait biaya hidup dan persoalan pendidikan.
Jumlah tersebut berdasarkan perkiraan pemerintah Prancis. Aksi demonstrasi kali ini merupakan gelombang ketiga dalam tiga pekan berturut-turut.
Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai. Namun, situasi berubah setelah sejumlah kelompok bertopeng melakukan kerusuhan di beberapa kota, termasuk Paris, Marseille, Grenoble, Bordeaux, Lyon, dan Toulouse.
Di Paris, sejumlah orang melemparkan bom molotov ke arah aparat keamanan. Insiden tersebut menyebabkan tiga petugas mengalami luka-luka.
Pihak kejaksaan Paris kemudian membuka penyelidikan atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap petugas yang sedang menjalankan tugas. Secara keseluruhan, lebih dari 770 orang dilaporkan ditangkap dalam rangkaian demonstrasi tersebut.
Baca Juga
Gelombang Protes Gen Z di Serbia, Prancis, dan Indonesia: Apa yang Memicu Kemarahan Anak Muda?
Nasional
Kerusuhan Meluas ke Jerman, Ratusan Polisi Terluka
Setelah Prancis, Jerman turut menghadapi gelombang demonstrasi yang melibatkan ribuan anak muda di berbagai wilayah.
Lebih dari 100.000 orang dilaporkan mengikuti aksi di lebih dari 30 kota. Demonstrasi tersebut digerakkan oleh kelompok bernama Gen Z regelt yang menyuarakan tuntutan peningkatan anggaran pendidikan dan penanganan persoalan biaya hidup.
Namun, situasi berubah menjadi ricuh di sejumlah wilayah, terutama Frankfurt.
Sejumlah perusuh dilaporkan merusak dan menjarah toko-toko, melemparkan benda keras, serta menyerang aparat menggunakan bom molotov. Akibatnya, lebih dari 100 petugas kepolisian mengalami luka-luka.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hessen, Roman Poseck, menyebut sebanyak 17 toko mengalami kerusakan. Lima di antaranya menjadi sasaran penjarahan.
Sementara itu, polisi menangkap 54 orang yang berusia antara 13 hingga 29 tahun. Kerusuhan juga terjadi di Cologne dan Berlin, sehingga aparat menggunakan meriam air untuk mengendalikan situasi.
Kelompok penyelenggara Gen Z regelt menyatakan tidak mendukung tindakan kekerasan yang terjadi setelah demonstrasi.
Swiss Ikut Diguncang Bentrokan di Zurich dan Basel
Situasi serupa juga terjadi di Swiss. Ratusan orang berkumpul di Zurich dan Basel untuk mengikuti demonstrasi tanpa izin pada Sabtu malam.
Aksi tersebut menggunakan slogan "We’ve had enough in Switzerland, too" atau yang berarti masyarakat Swiss juga sudah merasa muak.
Di Zurich, bentrokan pecah ketika sejumlah demonstran menyerang aparat menggunakan kembang api, botol, dan batu. Polisi kemudian mengerahkan meriam air, gas air mata, serta peluru karet untuk membubarkan massa.
Sebuah mobil patroli polisi dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah tempat sampah dan sepeda listrik juga dibakar dalam kerusuhan tersebut.
Sementara di Basel, sekitar 150 orang berkumpul di pusat kota pada pukul 21.00 waktu setempat. Sejumlah jendela toko dirusak, dinding bangunan dipenuhi grafiti, serta tempat sampah dan sepeda dibakar.
Insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Jenewa.
Biaya Hidup dan Persoalan Pendidikan Jadi Pemicu
Gelombang demonstrasi yang terjadi di sejumlah negara Eropa dipicu oleh berbagai persoalan sosial dan ekonomi.
Kenaikan biaya hidup, sulitnya mendapatkan hunian dengan harga terjangkau, memburuknya layanan publik, serta persoalan sistem pendidikan menjadi sejumlah tuntutan yang disuarakan masyarakat.
Kelompok anak muda juga menyoroti semakin terbatasnya kesempatan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
Rangkaian demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa keresahan terhadap persoalan ekonomi dan layanan publik tidak hanya terjadi di satu negara.
Meski demikian, tidak seluruh aksi berlangsung ricuh. Sebagian besar demonstrasi di Eropa tetap berjalan damai, sementara bentrokan dan tindakan perusakan terjadi di sejumlah lokasi setelah kelompok tertentu terlibat dalam aksi kekerasan.
Baca Juga
Dari Bastille hingga Jalanan Paris: Membaca Kerusuhan Prancis 2026 sebagai Gerakan Sosial
Internasional