- • Gelombang demonstrasi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan generasi muda di Serbia, Prancis, serta Indonesia dipicu oleh persoalan berbeda, mulai dari dugaan korupsi hingga kualitas pendidikan dan kebijakan pemerintah.
- • Di Serbia, gerakan mahasiswa berkembang menjadi kekuatan politik yang menantang pemerintahan setelah tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada 2024.
- • Di Prancis dan Indonesia, aksi anak muda menyoroti persoalan pendidikan, penanganan aparat, lingkungan, serta tuntutan agar pemerintah lebih bertanggung jawab terhadap kebutuhan masyarakat.
INFORMASI.COM, Jakarta – Gelombang demonstrasi yang melibatkan generasi muda di berbagai negara kembali memperlihatkan besarnya peran pelajar dan mahasiswa dalam menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Dari Serbia di kawasan Balkan, Prancis di Eropa Barat, hingga Indonesia di Asia Tenggara, anak muda turun ke jalan membawa tuntutan yang berangkat dari persoalan berbeda, tetapi memiliki benang merah berupa keinginan terhadap perubahan.
Aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi di ruang publik. Di sejumlah negara, gerakan mahasiswa berkembang menjadi tekanan politik yang lebih luas, mendorong pemerintah menjelaskan kebijakannya, memperbaiki layanan publik, hingga mempertanggungjawabkan persoalan yang menjadi pemicu kemarahan masyarakat.
Serbia menjadi salah satu contoh paling menonjol. Gerakan mahasiswa yang awalnya menuntut keadilan atas tragedi infrastruktur berkembang menjadi gerakan antikorupsi dan kekuatan politik. Sementara di Prancis, pelajar memprotes kondisi pendidikan dan tindakan aparat. Di Indonesia, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil mengangkat persoalan lingkungan, ekonomi, serta kinerja pemerintah.
Meski sama-sama melibatkan generasi muda, penyebab dan arah gerakan di ketiga negara tersebut tidak sepenuhnya sama. Perbedaan itu menunjukkan bahwa protes anak muda tumbuh dari persoalan konkret yang mereka hadapi di lingkungan masing-masing.
Serbia: Tragedi Infrastruktur Berubah Menjadi Gerakan Antikorupsi
Gerakan mahasiswa Serbia bermula setelah runtuhnya kanopi di stasiun kereta api Novi Sad pada November 2024. Tragedi tersebut menewaskan 16 orang dan memicu pertanyaan mengenai tanggung jawab pihak terkait, kualitas pembangunan, serta dugaan korupsi dalam proyek infrastruktur.
Mahasiswa kemudian menggelar aksi dan blokade kampus untuk menuntut transparansi serta pertanggungjawaban. Gerakan yang pada awalnya berpusat pada tuntutan keadilan itu berkembang menjadi demonstrasi besar yang menyoroti dugaan korupsi dan persoalan demokrasi di bawah kepemimpinan Aleksandar Vučić.
Dukungan masyarakat terhadap gerakan tersebut semakin meluas. Mahasiswa tidak hanya mengandalkan demonstrasi, tetapi juga membangun jaringan dukungan dan mengembangkan gerakan menjadi kekuatan politik yang lebih terorganisasi.
Perkembangan penting terjadi pada 25 Oktober 2026, ketika Vučić mengakui kekalahan dalam pemilihan parlemen dari daftar kandidat yang didukung gerakan mahasiswa. Hasil tersebut menandai perubahan besar dalam politik Serbia setelah hampir dua tahun demonstrasi yang dipimpin mahasiswa.
Kemenangan tersebut memperlihatkan bagaimana gerakan yang bermula dari tuntutan pertanggungjawaban atas sebuah tragedi dapat berkembang menjadi kekuatan yang menantang kekuasaan politik.
Namun, keberhasilan dalam pemilu bukanlah akhir dari perjuangan. Gerakan mahasiswa Serbia masih menghadapi tantangan untuk menerjemahkan tuntutan antikorupsi dan reformasi institusi menjadi kebijakan yang nyata.
Baca Juga
Gerakan Mahasiswa Menangi Pemilu Serbia, Akhiri 14 Tahun Kekuasaan Partai SNS Aleksandar Vucic
Internasional
Prancis: Pelajar Menuntut Pendidikan yang Lebih Layak
Situasi berbeda terlihat di Prancis. Sejak pertengahan September 2026, demonstrasi pelajar sekolah menengah menyebar dari wilayah sekitar Paris ke berbagai kota lain.
Aksi tersebut dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kondisi pendidikan, termasuk kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang kurang memadai, dan beban pembelajaran yang dinilai memberatkan.
Bagi para pelajar, persoalan tersebut berkaitan langsung dengan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak dan masa depan mereka. Sekolah yang kekurangan guru maupun fasilitas dianggap menghambat proses belajar dan memperbesar ketimpangan kesempatan antarsiswa.
Demonstrasi kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Guru, mahasiswa, dan serikat pekerja turut bergabung menyuarakan tuntutan peningkatan pendanaan pendidikan serta perbaikan kondisi belajar.
Pada 6 Oktober 2026, lebih dari 266.000 orang dilaporkan mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis menurut perkiraan Kementerian Dalam Negeri negara tersebut. Aksi juga diwarnai ketegangan dengan aparat keamanan, termasuk penggunaan gas air mata dan penangkapan sejumlah demonstran.
Penanganan demonstrasi kemudian menjadi persoalan tersendiri. Rekaman tindakan aparat terhadap pelajar memunculkan kritik dari kelompok masyarakat dan organisasi hak asasi manusia yang mempertanyakan proporsionalitas penggunaan kekuatan.
Meski demikian, tidak semua peserta aksi merupakan Gen Z dan tidak seluruh demonstrasi hanya berfokus pada pendidikan. Keterlibatan guru, mahasiswa, serikat pekerja, serta kelompok masyarakat lainnya memperlihatkan bahwa tuntutan pelajar telah berkembang menjadi persoalan publik yang lebih luas.
Baca Juga
Dari Bastille hingga Jalanan Paris: Membaca Kerusuhan Prancis 2026 sebagai Gerakan Sosial
Internasional
Indonesia: Mahasiswa Soroti Karhutla dan Kebijakan Pemerintah
Di Indonesia, demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai mendesak. Isu yang diangkat mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, tekanan ekonomi, hingga tuntutan pertanggungjawaban pemerintah.
Salah satu isu yang memicu aksi adalah memburuknya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Ribuan mahasiswa dilaporkan menggelar demonstrasi di sejumlah kota untuk mendesak pemerintah memperkuat penanganan kebakaran, meminta pertanggungjawaban pihak terkait, dan mempertimbangkan penetapan status darurat nasional.
Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan. Kabut asap juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas sekolah, dan kehidupan ekonomi di wilayah terdampak.
Dalam konteks ini, demonstrasi menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menekan pemerintah agar mengambil langkah yang dinilai lebih tegas. Tuntutan terhadap penegakan hukum, pencegahan kebakaran berulang, serta perlindungan masyarakat menjadi bagian penting dari aspirasi yang disuarakan.
Selain persoalan lingkungan, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil juga mengangkat kritik terhadap kebijakan pemerintah serta berbagai persoalan sosial-ekonomi. Namun, setiap aksi memiliki latar belakang dan komposisi peserta yang berbeda sehingga tidak tepat jika seluruh demonstrasi tersebut dianggap sebagai satu gerakan Gen Z yang seragam.
Keterlibatan anak muda tetap menjadi bagian penting dalam dinamika politik Indonesia. Kampus dan organisasi mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai ruang pembentukan sikap kritis serta pengorganisasian gerakan sosial.
Baca Juga
BEM UI Rencanakan Aksi Lanjutan, Apa yang Berbeda dari Demonstrasi 20 Oktober?
Nasional
Mengapa Anak Muda Memilih Turun ke Jalan?
Meski berlangsung di negara berbeda, demonstrasi yang melibatkan generasi muda memiliki sejumlah kesamaan. Salah satunya adalah tuntutan agar institusi publik lebih bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Di Serbia, kemarahan publik menguat setelah tragedi infrastruktur yang menewaskan 16 orang. Peristiwa tersebut menjadi simbol persoalan yang lebih luas, termasuk tuntutan transparansi dan pemberantasan korupsi.
Di Prancis, pelajar mempersoalkan kualitas pendidikan yang mereka terima dan respons aparat terhadap aksi protes. Sementara di Indonesia, persoalan lingkungan dan dampak kebijakan pemerintah mendorong mahasiswa menyuarakan tuntutan atas perlindungan masyarakat serta pertanggungjawaban pejabat publik.
Perbedaan pemicu itu menunjukkan bahwa generasi muda tidak bergerak karena satu alasan
tunggal. Mereka merespons persoalan yang dianggap memengaruhi kehidupan sehari-hari, kesempatan di masa depan, dan kepercayaan terhadap institusi yang mengatur masyarakat.
Media sosial juga dapat mempercepat penyebaran informasi mengenai suatu peristiwa dan membantu menghubungkan orang-orang dengan keresahan serupa. Di Prancis, misalnya, rekaman demonstrasi yang beredar di media sosial ikut mendorong perhatian terhadap aksi pelajar di berbagai wilayah.
Namun, teknologi bukan satu-satunya penentu. Besarnya dukungan masyarakat, kemampuan mengorganisasi gerakan, kejelasan tuntutan, serta respons pemerintah turut memengaruhi keberlanjutan demonstrasi.
Baca Juga
Bukan Sekadar Hiburan, Musik dan Tren Internet Jadi Bahasa Keresahan Anak Muda
Nasional
Apakah Ini Menandai Kebangkitan Politik Gen Z?
Meningkatnya keterlibatan pelajar dan mahasiswa dalam demonstrasi memunculkan pertanyaan mengenai posisi generasi muda dalam politik. Selama ini, anak muda kerap dianggap kurang tertarik terhadap proses politik formal. Perkembangan di Serbia memperlihatkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu tepat.
Gerakan mahasiswa Serbia berhasil mengubah tekanan di jalanan menjadi kekuatan elektoral. Perkembangan ini menunjukkan bahwa gerakan sosial dapat berkembang lebih jauh ketika memiliki organisasi, dukungan masyarakat, dan jalur untuk memperjuangkan tuntutannya melalui institusi politik.
Di Prancis, aksi pelajar memperlihatkan bahwa kelompok muda dapat membawa persoalan pendidikan ke pusat perdebatan publik. Sementara di Indonesia, demonstrasi mahasiswa tetap menjadi salah satu saluran untuk mengawasi kebijakan pemerintah dan menyuarakan persoalan masyarakat.
Meski demikian, penting untuk tidak menyamakan seluruh pelajar dan mahasiswa dengan Gen Z atau menganggap semua aksi sebagai gerakan yang terkoordinasi secara internasional. Kesamaan waktu dan penggunaan media sosial tidak otomatis membuktikan adanya satu gerakan global dengan kepemimpinan maupun agenda yang sama.
Yang lebih jelas terlihat adalah meningkatnya perhatian terhadap suara generasi muda dalam sejumlah persoalan publik. Mereka tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi dalam beberapa kasus juga berupaya membangun dukungan untuk mendorong perubahan kebijakan.
Dari Demonstrasi Menuju Perubahan Nyata
Turunnya anak muda ke jalan merupakan salah satu bentuk partisipasi politik, tetapi dampak jangka panjangnya bergantung pada apa yang terjadi setelah demonstrasi berlangsung.
Di Serbia, tantangan gerakan mahasiswa adalah membuktikan bahwa keberhasilan politik dapat diikuti perbaikan tata kelola dan pemberantasan korupsi. Di Prancis, tuntutan pelajar membutuhkan respons nyata terkait pendanaan, fasilitas, dan kualitas pendidikan. Sementara di
Indonesia, tekanan publik terhadap penanganan karhutla perlu diikuti upaya pencegahan, penegakan hukum, dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Pemerintah di setiap negara menghadapi tantangan untuk mendengarkan tuntutan demonstran tanpa mengabaikan ketertiban umum dan hak masyarakat lainnya. Penanganan aksi juga perlu memperhatikan kebebasan berekspresi serta prinsip proporsionalitas dalam penggunaan kekuatan oleh aparat.
Pada akhirnya, gelombang demonstrasi yang melibatkan generasi muda di Serbia, Prancis, dan Indonesia memperlihatkan bahwa persoalan yang dianggap tidak terselesaikan dapat berkembang menjadi tekanan publik yang besar.
Bagi anak muda, demonstrasi menjadi salah satu cara untuk menuntut perubahan ketika mereka merasa aspirasi tidak cukup didengar melalui jalur biasa. Bagi pemerintah, aksi tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik perlu dijaga melalui transparansi, kebijakan yang responsif, dan pertanggungjawaban yang nyata.