- • Mantan penyiar Fox News, Tucker Carlson, menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus menekan Donald Trump untuk menyerang Iran.
- • Tak tanggung-tanggung, Netanyahu minta AS agar melancarkan serangan nuklir terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran di Gunung Pickax.
- • Carlson mengklaim Trump berpotensi mengambil keputusan penggunaan senjata nuklir pada 7 November 2026.
INFORMASI.COM, Jakarta - Ancaman perang besar antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian. Baru-baru ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan meminta Donad Trump menggunakan senjata nuklir untuk menghancurkan fasilitas nuklir Teheran.
Sosok yang melontarkan tudingan tersebut adalah Tucker Carlson, mantan penyiar Fox News yang dikenal vokal mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahan Amerika Serikat.
Melalui akun X miliknya, Senin (2/11/2026), Carlson menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump berpotensi melancarkan serangan nuklir terhadap Iran dalam hitungan hari. Ia bahkan menunjuk Gunung Pickax di Iran bagian tengah sebagai lokasi yang diduga menjadi sasaran operasi tersebut.
Menurut Carlson, Netanyahu terus mendesak Trump agar mengambil langkah militer ekstrem itu. Ia juga mengklaim Perdana Menteri Israel tersebut hampir setiap hari menghubungi presiden AS untuk membicarakan serangan terhadap Iran.
"Atas tekanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pemerintahan Trump mungkin hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum melancarkan serangan nuklir terhadap Iran," tulis Carlson.
Meski demikian, Carlson tidak menyertakan bukti independen yang mengonfirmasi adanya keputusan atau rencana resmi penggunaan senjata nuklir oleh pemerintahan Trump.
Gunung Pickax Disebut Jadi Target
Dalam unggahannya, Carlson menyebut Gunung Pickax sebagai lokasi yang diduga menyimpan fasilitas pengayaan uranium Iran.
Ia mengklaim intelijen Israel meyakini pemerintah Iran telah kembali menjalankan program pengayaan nuklir di lokasi tersebut. Fasilitas itu disebut berada di dalam terowongan yang terlindungi lapisan granit setebal sekitar 91 meter.
Carlson berpendapat persenjataan konvensional Amerika Serikat tidak memiliki kemampuan menembus lapisan batuan tersebut untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah yang dimaksud.
Karena itu, ia mengklaim serangan nuklir menjadi satu-satunya pilihan militer yang tersedia bagi Washington.
"Netanyahu telah berulang kali mendesak agar serangan tersebut dilakukan. Seorang pengamat yang mengetahui persoalan ini mengatakan, 'Bibi menelepon Trump tentang hal itu setiap hari'," tulis Carlson.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian paling kontroversial dari unggahan Carlson. Sebab, tudingan mengenai dorongan penggunaan senjata nuklir tidak sekadar menyangkut kelanjutan perang, tetapi juga membuka kemungkinan eskalasi konflik dengan konsekuensi yang jauh lebih luas.
Baca Juga
AS Serang Lagi Iran, Serangan Diam-diam Kali Ini Sasar Pulau Qeshm, Perang Besar Lagi?
Internasional
Netanyahu Disebut Terdesak Politik dan Membutuhkan Perang
Carlson kemudian menghubungkan dugaan tekanan Netanyahu terhadap Trump dengan persoalan politik dalam negeri Israel.
Ia menilai Netanyahu sedang berada dalam posisi sulit setelah hasil pemilu pekan sebelumnya. Menurut Carlson, Netanyahu kesulitan membentuk pemerintahan tanpa campur tangan langsung Trump untuk membantu merundingkan kesepakatan dengan partai-partai politik lain.
Carlson menyebut Netanyahu membutuhkan dukungan sedikitnya 61 kursi di Knesset atau parlemen Israel agar dapat mempertahankan kekuasaan.
Tanpa dukungan tersebut, Carlson menilai Netanyahu berisiko kehilangan jabatan perdana menteri dan menghadapi berbagai persoalan hukum.
"Netanyahu harus tetap dekat dengan Trump. Dia membutuhkan perang ini," tulis Carlson.
Ia juga menuding Netanyahu telah menggunakan pengaruhnya terhadap sejumlah pejabat pemerintahan Trump untuk mendorong dimulainya kembali operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Nama Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Komandan CENTCOM Brad Cooper termasuk pejabat yang disebut Carlson berada dalam lingkaran tersebut.
Carlson juga menyebut Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe mengikuti arah kebijakan Netanyahu.
Bahkan, ia mengklaim sejumlah tokoh Partai Demokrat ikut menentang kesepakatan damai dengan Iran. Carlson menyebut mantan Presiden Barack Obama dalam sebuah pertemuan baru-baru ini menyatakan penolakan terhadap rancangan kesepakatan damai Iran yang sedang disusun di Doha.
Seluruh klaim mengenai sikap dan keterlibatan para tokoh tersebut berasal dari unggahan Carlson dan belum disertai konfirmasi independen dalam bahan yang tersedia.
Negara Teluk Tolak Dorongan Israel, Ekonomi Global Terancam
Carlson juga menyoroti kekhawatiran negara-negara sekutu lama Amerika Serikat di Timur Tengah terhadap kemungkinan perang kembali membesar.
Ia mengklaim Netanyahu diam-diam terbang ke Abu Dhabi pada 27 September 2026 untuk meminta Uni Emirat Arab (UEA) mendukung upaya lobi Israel dalam melancarkan serangan terakhir terhadap Iran.
Namun, menurut Carlson, pemerintah UEA menolak permintaan tersebut.
Penolakan itu disebut berkaitan dengan besarnya dampak perang terhadap perekonomian kawasan Teluk. Setelah delapan bulan konflik, perekonomian negara-negara di kawasan tersebut diklaim semakin tertekan.
Dampaknya juga menjalar ke pasar energi dan pupuk dunia. Carlson memperingatkan pemulihan kedua sektor tersebut tidak akan berlangsung cepat apabila konflik kembali meningkat.
Ia turut mengangkat kerusakan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Menurut Carlson, dunia memiliki sekitar 850 kapal tanker superbesar yang digunakan untuk mengangkut minyak dari negara produsen ke berbagai belahan dunia.
Namun, selama Oktober saja, ia mengklaim 11 kapal tanker mengalami kerusakan berat di kawasan Hormuz.
Carlson memperingatkan bahwa serangan nuklir terhadap Iran akan memperburuk kerusakan ekonomi global.
Lebih jauh, ia menyebut ledakan nuklir di permukaan tanah di Gunung Pickax berpotensi menyebarkan material radioaktif ke kawasan Teluk Persia dan mencemari sumber air bagi sekitar 100 juta orang.
Baca Juga
Video AS Siapkan Skenario Hadapi 'Kiamat', Pangkalan Militer Siaga, Mau Perang Dunia III?
Video
Serangan Nuklir AS Bisa Memicu Perang Dunia III
Peringatan Carlson tidak berhenti pada dampak konflik di Timur Tengah. Ia menilai penggunaan senjata nuklir oleh Amerika Serikat terhadap Iran dapat menciptakan preseden berbahaya bagi negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya.
Selama ini, Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam peperangan, yakni ketika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.
Carlson memperingatkan keputusan Trump menggunakan senjata nuklir terhadap Iran dapat membuka jalan bagi negara lain untuk melakukan hal serupa.
Ia mengklaim Rusia telah menyampaikan kepada sedikitnya dua pemerintahan bahwa serangan nuklir Amerika Serikat terhadap Iran akan memberikan alasan bagi Moskow untuk menggunakan senjata nuklir terhadap Ukraina.
Selain Rusia, Carlson juga menyebut India dan Pakistan berpotensi terdorong menggunakan senjata nuklir dalam konflik di antara keduanya. Korea Utara juga disebut dapat mengambil langkah serupa terhadap Seoul, Korea Selatan.
"Setelah serangan nuklir pertama, Perang Dunia III tidak terhindarkan. Perang itu akan berlangsung singkat dan menjadi yang terakhir," tulis Carlson.
Pernyataan tersebut merupakan peringatan Carlson mengenai kemungkinan eskalasi global, bukan kepastian bahwa negara-negara tersebut telah mengambil keputusan untuk menggunakan senjata nuklir.
Trump Disebut Akan Putuskan Penggunaan Nuklir pada 7 November
Carlson kemudian mengungkap perkiraan waktu yang menurutnya menjadi momen penting bagi Trump untuk menentukan arah konflik dengan Iran.
Ia mengklaim sejumlah pengamat yang mengikuti perkembangan situasi memperkirakan Trump akan mengambil keputusan mengenai penggunaan senjata nuklir paling lambat akhir pekan berikutnya, yakni 7 November 2026.
Carlson juga menuding pemerintahan Trump sejak Februari telah mengubah doktrin nuklir Amerika Serikat secara diam-diam. Perubahan tersebut, menurut dia, membuat penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir medan perang menjadi lebih mudah dilakukan.
Ia menyayangkan tidak adanya penolakan berarti dari para politikus di Washington, baik Partai Republik maupun Partai Demokrat, terhadap perubahan yang dituduhkannya tersebut.
Meski demikian, Carlson mengakui Trump belum mengambil keputusan dan masih menunjukkan keraguan untuk melanjutkan eskalasi militer.
Ia menyebut Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus sekaligus sahabat Trump, Steve Witkoff, sedang berusaha meyakinkan presiden agar memilih jalur perundingan.
Keduanya disebut berpandangan bahwa kesepakatan dengan Iran masih bisa dicapai meskipun prosesnya tidak mudah.
Baca Juga
Inggris dan Jepang Imbau Warga Stok Makanan, Dunia Bersiap Hadapi Perang?
Internasional
JD Vance dan Steve Witkoff Disebut Dorong Kesepakatan dengan Iran
Carlson mengakui perundingan dengan Iran bukan perkara sederhana. Menurut dia, proses diplomasi selama ini kerap menghadapi kesulitan karena perbedaan pandangan dan dinamika politik internal Teheran.
Ia juga menyinggung perubahan politik Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya tewas pada Februari 2026.
Carlson menilai sejumlah kelompok dalam pemerintahan Iran menjadi lebih radikal setelah peristiwa tersebut. Kondisi itu, menurut dia, semakin menyulitkan komunikasi antara Teheran dan negara-negara Barat.
Ia bahkan menyebut sebagian pemimpin Iran yang relatif moderat masih kebingungan memahami bagaimana proses pengambilan keputusan di negara-negara Barat berlangsung.
Salah satu persoalan yang disinggung Carlson adalah adanya anggapan luas di Teheran bahwa pemerintah Amerika Serikat mengendalikan Israel.
Meski begitu, Carlson mengklaim sejumlah orang yang pernah berkomunikasi dengan pengambil keputusan di Iran melihat adanya kesamaan pandangan di kalangan elite Teheran bahwa perang lanjutan akan merugikan semua pihak.
Menurut dia, terdapat kesediaan di pihak Iran untuk mempertimbangkan kesepakatan guna mengakhiri konflik.
Di bagian akhir unggahannya, Carlson mengkritik minimnya keterlibatan masyarakat dunia dalam keputusan yang berpotensi menentukan masa depan konflik tersebut.
Ia menilai ratusan juta orang di berbagai negara ikut menanggung risiko apabila Trump benar-benar memutuskan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran.
Carlson menyerukan agar masyarakat internasional menyampaikan penolakan terhadap kemungkinan serangan tersebut sebelum keputusan diambil.