AS Tawarkan Hadiah Rp362 Miliar untuk Mata-matai dan Informasi Nuklir Iran

AS Tawarkan Hadiah Rp362 Miliar untuk Mata-matai dan Informasi Nuklir Iran
Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$20 juta atau sekitar Rp362,6 miliar, ditambah kemungkinan relokasi, bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai program nuklir Iran.
  • • Tawaran tersebut mencakup informasi tentang fasilitas nuklir, peralatan, hingga ilmuwan dan personel yang terlibat dalam program tersebut.
  • • Padahal, sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

INFORMASI.COM, Jakarta - Amerika Serikat (AS) menawarkan hadiah hingga US$20 juta atau sekitar Rp362,6 miliar kepada siapa pun yang memiliki informasi mengenai program nuklir Iran. Pemerintah AS bahkan menjanjikan kemungkinan relokasi bagi pemberi informasi yang bersedia membantu mengungkap jaringan fasilitas dan personel di balik program tersebut.

Tawaran itu diumumkan Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) melalui akun media sosial X pada Jumat malam waktu setempat. Program bernama Rewards for Justice tersebut berada di bawah Departemen Luar Negeri AS.

Dalam pengumumannya, CENTCOM menyebut hadiah itu diberikan untuk informasi mengenai fasilitas, peralatan, serta orang-orang yang berkaitan dengan program nuklir Iran, termasuk kalangan ilmuwan.

"Rewards for Justice menawarkan hadiah hingga US$20 juta dan kemungkinan relokasi bagi informasi mengenai program nuklir Iran, termasuk fasilitas, peralatan, dan personel terkait, seperti mereka yang berada dalam komunitas ilmiah, atau pergerakan salah satu dari hal-hal tersebut," demikian pernyataan yang dikutip dari pengumuman tersebut dikutip dari situs resminya Sabtu (7/11/2026).

Tawaran ini menarik perhatian karena muncul di tengah klaim berulang Presiden AS Donald Trump bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan.

Jika seluruh fasilitas nuklir Iran memang sudah dilumpuhkan seperti yang diklaim Trump, Washington kini justru masih mencari informasi mengenai keberadaan fasilitas, peralatan, dan orang-orang yang terlibat dalam program tersebut.

Thumbnail Iran Tolak Tuntutan AS, Dialog Perdamaian Buntu!
i

Baca Juga

Iran Tolak Tuntutan AS, Dialog Perdamaian Buntu!

Internasional

IAEA Tuduh Iran Perkaya Uranium hingga 60 Persen

Persoalan nuklir Iran bukan sekadar dugaan mengenai keberadaan fasilitas pengayaan uranium. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya mencatat aktivitas pengayaan uranium Iran yang mencapai tingkat kemurnian 60 persen pada 2025.

Angka tersebut menjadi perhatian karena uranium dengan kemurnian 60 persen hanya membutuhkan satu tahapan teknis pengayaan lagi untuk mencapai tingkat 90 persen, yang umumnya dibutuhkan dalam pembuatan senjata nuklir.

Iran juga menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki senjata nuklir, tetapi memproduksi uranium dengan tingkat pengayaan setinggi itu.

Para ahli memperkirakan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya tersebut, jika diproses lebih lanjut hingga mencapai tingkat kemurnian yang dibutuhkan, berpotensi mencukupi kebutuhan bahan untuk membuat beberapa senjata nuklir.

Selain persoalan tingkat pengayaan, IAEA menghadapi kendala dalam mengawasi aktivitas nuklir Iran.

Departemen Luar Negeri AS menyebut ketidakpatuhan Iran terhadap kewajiban pengamanan (safeguards) IAEA telah menyebabkan badan tersebut kehilangan apa yang disebut sebagai continuity of knowledge atau kesinambungan pengetahuan mengenai produksi dan persediaan sejumlah komponen penting.

Komponen yang dimaksud termasuk sentrifugal, yakni peralatan yang digunakan dalam proses pengayaan uranium.

Hilangnya kesinambungan pemantauan tersebut membuat IAEA tidak lagi memiliki informasi yang utuh mengenai produksi dan inventaris komponen-komponen penting dalam program nuklir Iran.

Thumbnail Netanyahu Desak Trump Serang Iran dengan Nuklir? Perang Dunia III Pecah?
i

Baca Juga

Netanyahu Desak Trump Serang Iran dengan Nuklir? Perang Dunia III Pecah?

Internasional

Program Hadiah AS Sudah Ada Sejak 1984

Program Rewards for Justice bukan kebijakan yang baru dibentuk untuk menghadapi Iran. Departemen Luar Negeri AS mendirikannya pada 1984 sebagai bagian dari program penghargaan keamanan nasional.

Sejak awal, program tersebut dirancang untuk memberikan imbalan finansial kepada orang-orang yang menyampaikan informasi yang dapat melindungi warga negara maupun kepentingan Amerika Serikat.

Dalam kasus Iran, Washington kini menggunakan mekanisme tersebut untuk memperoleh informasi yang lebih luas mengenai infrastruktur nuklir negara itu.

Cakupan informasi yang dicari tidak hanya menyangkut lokasi fasilitas pengayaan uranium, tetapi juga peralatan, ilmuwan, personel, serta pergerakan berbagai unsur yang berkaitan dengan program nuklir Iran.

Nilai hadiah yang ditawarkan mencapai US$20 juta. Dengan menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp18.130 per dolar AS pada 6 November 2026, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp362,6 miliar.

Selain uang, pemerintah AS juga membuka kemungkinan relokasi bagi orang yang memberikan informasi.

Besarnya imbalan tersebut memperlihatkan upaya Washington untuk mendapatkan informasi dari dalam jaringan program nuklir Iran, termasuk dari orang-orang yang mengetahui aktivitas dan pergerakan fasilitas maupun komponen pentingnya.

Thumbnail Jepang dan Korsel Was-was Lagi, Korea Utara Tembakkan 10 Rudal Balistik ke Laut Jepang
i

Baca Juga

Jepang dan Korsel Was-was Lagi, Korea Utara Tembakkan 10 Rudal Balistik ke Laut Jepang

Internasional

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.