Sering Diledek Hobi Mancing saat Istri Jadi TKI, Apa Benar Lelaki Sunda Pemalas?

Sering Diledek Hobi Mancing saat Istri Jadi TKI, Apa Benar Lelaki Sunda Pemalas?
Foto Lawas Masyarakat Sunda, sumber: istimewa

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Stereotip "pemalas", "istri TKI", atau "bapak hobi mancing" yang melekat pada identitas orang Sunda bukanlah fakta budaya, melainkan produk sosial warisan narasi kolonialisme dan ketimpangan relasi kuasa.
  • • Media populer dan budaya humor secara terus-menerus mereproduksi pelabelan negatif tersebut, salah satunya melalui figur Kabayan, yang perlahan mengubah lelucon menjadi kebenaran yang dipercaya masyarakat.
  • • Secara sosiologis, stigma ini justru menutupi masalah sistemik yang nyata, seperti ketimpangan ekonomi antarwilayah, sekaligus mengukuhkan dominasi hegemoni budaya kelompok mayoritas di Indonesia.

INFORMASI.COM, Jakarta- Masyarakat Sunda seringkali menghadapi beban stereotip sosial yang digeneralisasi oleh banyak pihak di Indonesia.

Akhir-akhir ini, masyarakat Sunda, terutama kaum lelaki, kerap mendapat stigma pemalas. Beberapa cuitan di akun X yang kemudian viral, misalnya, menyebut lelaki Sunda sebagai lelaki yang kerap cuma mancing saat istrinya menjadi buruh migran atau TKI (tenaga kerja Indonesia) di luar negeri, dan anaknya dikirim ke pesantren.

Bukan sekali, dua kali, publik  melabeli kelompok ini dengan citra pemalas. Pandangan tersebut bukan sekadar lelucon ringan belaka. Pelabelan ini lahir sebagai produk sosial yang terbentuk dari sejarah panjang kolonialisme, relasi kelas, dan dinamika kekuasaan antarkelompok.

Akar dari stereotip negatif ini tidak muncul secara tiba-tiba di masyarakat. Konstruksi citra ini berawal dari narasi pemerintah kolonial yang selalu menilai masyarakat pribumi kurang disiplin dan tidak produktif.

Sistem penjajahan mengukur tingkat kerajinan seseorang murni berdasarkan kebutuhan target produksi ekonomi mereka. Pola kehidupan agraris masyarakat Sunda yang bertumpu pada ritme alam dan pergantian musim tentu tidak sejalan dengan mesin industri kolonial. Akibatnya, penjajah dengan mudah memberikan cap "malas" kepada penduduk lokal, yang kemudian menyatu menjadi citra permanen hingga kini.

Thumbnail Mengapa Indonesia dan Malaysia Ribut Terus meski Saudara Jiran?
i

Baca Juga

Mengapa Indonesia dan Malaysia Ribut Terus meski Saudara Jiran?

Internasional

Faktor Geografis dan Budaya Masyarakat Sunda

Ketimpangan relasi kuasa antarwilayah turut melanggengkan stigma tersebut pada masa modern. Kota Jakarta dan wilayah Jawa bagian tengah sering kali mendominasi panggung politik, ekonomi, hingga industri media nasional. Dominasi ini secara otomatis memosisikan daerah lain, termasuk tanah Sunda, sebagai wilayah pinggiran. Kelompok dominan akhirnya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar untuk mendikte dan mengonstruksi citra budaya kelompok pinggiran dari kacamata luar, bukan dari perspektif internal masyarakat itu sendiri.

Proses reproduksi citra ini berjalan semakin masif melalui instrumen budaya populer. Tokoh Kabayan dalam cerita rakyat Sunda sering menjadi alat pelabelan utama di ruang publik. Media kerap mengangkat karakter jenaka ini tanpa memberikan konteks budaya yang utuh, sehingga publik memproyeksikan sifat Kabayan sebagai wajah keseluruhan orang Sunda. Teori representasi media menjelaskan bahwa saluran komunikasi massa berfungsi memproduksi makna tentang kelompok sosial. Humor tentang kemalasan ini akhirnya berhenti menjadi hiburan dan berubah fungsi menjadi instrumen yang mereproduksi stigma.

Faktor Ekonomi dan Pola Hidup

Selain budaya pop, realitas ekonomi masyarakat juga sangat rentan mengalami reduksi makna. Banyaknya perempuan Sunda yang bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri sering kali disederhanakan menjadi ejekan sosial bagi para suami. Padahal, fenomena migrasi ini murni terjadi akibat desakan kemiskinan dan ketimpangan pembangunan daerah. Publik yang mereduksi realitas struktural ini menjadi sebuah lelucon justru secara tidak langsung menutupi akar permasalahan sistemik dan melimpahkan beban sosial kepada kelompok kelas pekerja yang paling rentan.

Standar bias kelas yang sama juga terlihat pada pandangan masyarakat modern terhadap aktivitas memancing. Antropologi ekonomi memandang aktivitas memancing di masyarakat pesisir dan agraris sebagai bentuk interaksi panjang yang harmonis antara manusia dengan alam. Namun, kacamata industri perkotaan menilai pola hidup ini dengan standar waktu yang berbeda, sehingga aktivitas tersebut direduksi sebagai simbol ketidakproduktifan.

Teori Pelabelan yang Akhirnya Melekat pada Masyarakat Sunda

Pelabelan yang berulang-ulang ini pada akhirnya menciptakan ekspektasi sosial yang merugikan. Teori pelabelan (labeling theory) membuktikan bahwa masyarakat luas perlahan akan menuntut orang Sunda untuk terus bersikap santai, kurang serius, dan tidak memiliki ambisi. Hal ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari interaksi sosial sehari-hari hingga peluang ekonomi di dunia nyata. Pemikir Antonio Gramsci melalui konsep hegemoni budayanya juga menegaskan bahwa kelompok dominan berhasil membuat citra negatif ini diterima sebagai sebuah kesadaran umum (common sense) tanpa ada yang mempertanyakannya.

Realitas sosiologis ini membuktikan bahwa masalah sesungguhnya sama sekali tidak terletak pada karakter esensial orang Sunda. Struktur sosial dan ketimpangan kekuasaanlah yang menjadi mesin utama pembuat stereotip ini. Masyarakat perlu memahami akar sejarah dan konteks sosiologis ini agar diskusi tentang identitas budaya dapat bergerak menuju pemahaman yang kritis dan tidak lagi berhenti pada ejekan semata.

Jadi, menurut kamu, apakah masyarakat Sunda pemalas?

Thumbnail Dari Bastille hingga Jalanan Paris: Membaca Kerusuhan Prancis 2026 sebagai Gerakan Sosial
i

Baca Juga

Dari Bastille hingga Jalanan Paris: Membaca Kerusuhan Prancis 2026 sebagai Gerakan Sosial

Internasional

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.