INFORMASI.COM, Jakarta - Gubenur DKI Jakarta, Pramono Anung, membantah bahwa Jakarta merupakan kota terpadat di dunia yang disebut laporan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut Pramono, jumlah penduduk DKI Jakarta bukan 42 juta sebagaimana dilaporkan PBB. Ia menyebut angka tersebut masuk akal jika menghitung wilayah aglomerasi Jakarta dan wilayah sekitar.
“ Jadi, menurut saya sebenarnya kalau disampaikan Jakarta kota terpadat, salah. Karena Jakarta dalam kepadatan nomor 30 sebenarnya. Namun, karena aglomerasi itu, maka Jakarta dianggap penduduknya menjadi 42 juta mengalahkan Bangladesh, New Delhi, Tokyo, dan sebagainya. ”
— Pramono Anung Wibowo, Gubernur DKI Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Jakarta Kalahkan Tokyo
Jumlah penduduk urban dunia terus meningkat dan kini mencapai hampir separuh dari populasi global.
Laporan bertajuk World Urbanization Prospects 2025: Summary of Results yang diterbitkan 23 November 2025 oleh PBB menyebut Jakarta kini berada di posisi pertama kota terpadat dunia, mengungguli Dhaka dan Tokyo.
Fakta utama:
- •Laporan PBB menyebut kota kini menampung sekitar 45% dari populasi dunia.
- •Populasi global kini berada di angka 8,2 miliar jiwa.
- •Jakarta disebut memiliki sekitar 42 juta penduduk kawasan perkotaan.
- •Dhaka menyusul di posisi kedua dengan sekitar 40 juta penduduk.
- •Tokyo berada di posisi ketiga dengan sekitar 33 juta penduduk.
Baca Juga
PBB Sebut Jakarta Dihuni 42 Juta Orang, Pemprov DKI: Salah Data
Nasional
Pemprov: Populasi Jakarta hanya 11 Juta Jiwa
Pemerintah Jakarta mengatakan laporan tersebut bisa menjadi salah satu rujukan internasional, namun data yang disajikan bukanlah jumlah penduduk resmi.
- •Pemprov DKI menegaskan bahwa populasi resmi Jakarta hanya sekitar 11 juta jiwa, berdasarkan BPS.
- •Pemprov menilai laporan PBB memasukkan wilayah satelit dan penduduk komuter Jabodetabek.
- •Data tersebut dianggap sebagai bagian dari fenomena urban agglomeration.
- •Meski berbeda, Pemprov menyatakan laporan itu dapat menjadi acuan dalam pengembangan kebijakan tata kota, infrastruktur transportasi, dan pemerataan ekonomi.
Tanggapan Wakil Gubernur
Reaksi tidak percaya juga disampaikan Wakil Gubernur Rano Karno. Ia menyebut angka tersebut jauh dari data resmi.
- •Ia menilai perbedaan data disebabkan perhitungan lintas wilayah metropolitan.
- •Meski demikian, laporan itu Rano anggap sebagai indikator bahwa Jakarta masih menjadi magnet ekonomi dan urbanisasi di Indonesia.
“ Saya juga kaget karena angka itu jauh berbeda dari data BPS. Tapi ini menunjukkan bahwa Jakarta masih menjadi pusat pergerakan penduduk dan ekonomi kawasan Jabodetabek. ”
— Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Selasa.
(ANT)
Baca Juga
Jakarta Resmi Larang Jual Beli Daging Anjing dan Kucing untuk Dimakan
Nasional