Riset Dampak Negatif AI: Orang Lebih Mudah Menyerah Gara-gara Jawaban Instan Chatbot AI

Riset Dampak Negatif AI: Orang Lebih Mudah Menyerah Gara-gara Jawaban Instan Chatbot AI
ilustrasi orang berinteraksi dengan chatbot AI.

Traktir Redaksi

Suka dengan artikel ini? Dukung jurnalisme Informasi.com dengan scan QRIS di bawah melalui m-banking atau e-wallet.

QRIS Media Informasi Dunia Simpan QRIS
Ikhtisar
  • • Penelitian terhadap 1.222 peserta menemukan bahwa orang yang terbiasa mengandalkan chatbot AI untuk menyelesaikan soal matematika dan memahami bacaan cenderung lebih sering menyerah ketika bantuan tersebut dihentikan.
  • • Dampak itu muncul dalam tiga eksperimen, terutama pada peserta yang menggunakan AI untuk memperoleh jawaban langsung, bukan sekadar petunjuk penyelesaian.
  • • Peneliti menyarankan chatbot dirancang seperti tutor yang membimbing pengguna menemukan jawaban, bukan selalu memberikan solusi jadi.

INFORMASI.COM, Jakarta - Orang yang terbiasa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan soal sederhana berpotensi lebih mudah menyerah ketika harus mengerjakan soal serupa tanpa bantuan teknologi tersebut. Temuan penelitian terhadap 1.222 peserta ini menunjukkan bahwa kemudahan memperoleh jawaban dari chatbot dapat diikuti penurunan ketekunan saat pengguna harus berpikir sendiri.

Penelitian yang dipresentasikan dalam Conference on Language Modeling 2026 di San Francisco itu menguji dampak penggunaan chatbot terhadap kemampuan menyelesaikan soal pecahan dan memahami bacaan. Studi tersebut pertama kali diterbitkan sebagai naskah pracetak pada awal 2026 sebelum menjalani penelaahan sejawat.

Tim peneliti melakukan tiga eksperimen terkontrol secara acak. Dua eksperimen menguji kemampuan matematika, sedangkan eksperimen ketiga mengukur pemahaman bacaan. Dalam setiap percobaan, peneliti memberikan tugas kepada kelompok yang dapat mengakses chatbot dan kelompok pembanding yang tidak memperoleh bantuan AI.

Hasilnya menunjukkan pola serupa: akses AI membantu peserta menyelesaikan soal ketika chatbot tersedia. Namun, setelah bantuan itu dihentikan, peserta yang sebelumnya menggunakan AI menunjukkan penurunan kinerja dan lebih sering melewatkan soal atau gagal menyelesaikannya.

Grace Liu, penulis utama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral bidang pembelajaran mesin di Carnegie Mellon University, menjelaskan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar apakah seseorang memperoleh jawaban yang benar.

“Kekhawatirannya berkaitan dengan apa yang oleh ilmuwan kognitif disebut sebagai ‘kesulitan yang bermanfaat’, yakni perjuangan produktif yang membangun keterampilan seiring waktu,” kata Liu kepada Live Science, dikutip Senin (26/10/2026).

Menurut dia, jika AI terus-menerus menghilangkan proses perjuangan tersebut, pengguna mungkin mendapatkan jawaban yang benar saat itu juga, tetapi kemampuan mereka untuk menyelesaikan persoalan secara mandiri menjadi kurang kuat.

Thumbnail Bos Perusahaan Robot China Prediksi AI Bisa Kuasai 80 Persen Tugas dalam 2 Tahun ke Depan
i

Baca Juga

Bos Perusahaan Robot China Prediksi AI Bisa Kuasai 80 Persen Tugas dalam 2 Tahun ke Depan

Teknologi

Peserta Lebih Sering Melewatkan Soal Setelah AI Dihentikan

Dalam eksperimen pertama, peneliti melibatkan 354 peserta yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Satu kelompok memperoleh akses ke chatbot AI, sedangkan kelompok lainnya mengerjakan soal tanpa bantuan tersebut.

Kedua kelompok menerima 12 soal pecahan yang sama. Peserta yang menggunakan AI dapat meminta jawaban secara langsung atau meminta petunjuk untuk menyelesaikan soal.

Setelah tahap itu, peneliti menghentikan akses chatbot tanpa pemberitahuan sebelumnya. Seluruh peserta kemudian harus mengerjakan tiga soal pecahan tambahan tanpa bantuan AI.

Peneliti juga memberi peserta pilihan untuk melewatkan soal. Mereka menegaskan bahwa jawaban salah tidak menimbulkan hukuman. Karena itu, keputusan untuk melewatkan soal dapat digunakan sebagai indikator apakah peserta memilih untuk tidak melanjutkan usaha.

Peserta yang menjawab salah juga menerima jawaban yang benar agar dapat mempelajari kesalahannya.

Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kelompok pengguna AI lebih mudah menyelesaikan soal dan lebih jarang menyerah ketika chatbot masih tersedia. Namun, setelah akses dihentikan, kinerja kelompok tersebut menurun. Mereka lebih sering melewatkan soal atau gagal menyelesaikannya dibandingkan ketika bantuan AI masih tersedia.

Peneliti kemudian mengulangi eksperimen serupa dengan melibatkan 667 peserta. Mereka menambahkan tahap tes awal untuk menyaring peserta yang belum mampu mengerjakan soal paling dasar serta melakukan sejumlah penyesuaian kecil pada rancangan percobaan.

Eksperimen kedua menghasilkan pola yang serupa. Penggunaan AI untuk memperoleh solusi langsung berkaitan dengan berkurangnya ketekunan ketika peserta harus mengerjakan soal tanpa bantuan.

Liu mengakui bahwa kalkulator juga memungkinkan seseorang menyerahkan sebagian pekerjaan berhitung kepada alat. Namun, menurut dia, AI perlu diteliti secara khusus karena kemampuannya melampaui perhitungan numerik.

“Alasan kami secara khusus meneliti AI adalah karena teknologi ini memungkinkan orang menyerahkan proses penalaran dalam berbagai tugas dan bidang,” kata Liu.

Thumbnail Grok Rilis Film The Odyssey 7 Menit Hasil AI, Aksi Elon Musk yang Kesal kepada Christopher Nolan Dikritik
i

Baca Juga

Grok Rilis Film The Odyssey 7 Menit Hasil AI, Aksi Elon Musk yang Kesal kepada Christopher Nolan Dikritik

Hiburan

Dampaknya Bukan Hanya pada Kemampuan Matematika

Untuk mengetahui apakah penurunan ketekunan hanya terjadi pada soal matematika, peneliti menjalankan eksperimen ketiga yang berfokus pada pemahaman bacaan.

Sebanyak 201 peserta dibagi menjadi kelompok yang mendapat akses AI dan kelompok pembanding. Mereka terlebih dahulu mengerjakan lima pertanyaan pemahaman bacaan. Setelah itu, peneliti menonaktifkan chatbot dan memberikan tiga pertanyaan tambahan yang harus dijawab secara mandiri.

Hasil eksperimen ini memperlihatkan pola yang sejalan dengan dua percobaan sebelumnya. Peserta yang sebelumnya mendapat bantuan AI juga menunjukkan kecenderungan lebih rendah untuk terus berusaha ketika harus menjawab pertanyaan tanpa chatbot.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa penurunan ketekunan tidak terbatas pada soal pecahan. Pola serupa juga muncul dalam tugas membaca yang membutuhkan kemampuan memahami makna dan membangun gambaran mental mengenai informasi yang diterima.

“Temuan paling penting adalah bahwa orang yang lebih banyak menyerahkan proses berpikir kepada AI mengalami penurunan ketekunan yang lebih besar, yang terlihat dari meningkatnya tingkat soal yang dilewatkan,” kata Liu.

Ia menilai ketekunan merupakan keterampilan penting karena dibutuhkan dalam berbagai bidang, bukan hanya matematika atau membaca.

Thumbnail Google Gemini 4 Argon Dirilis, Bisa Bantu Pemula Bikin Website dan Aplikasi Tanpa Jago Coding?
i

Baca Juga

Google Gemini 4 Argon Dirilis, Bisa Bantu Pemula Bikin Website dan Aplikasi Tanpa Jago Coding?

Teknologi

Jawaban Instan Bisa Membuat Proses Berpikir Terasa Tidak Efisien

Peneliti mengajukan satu kemungkinan penjelasan atas perilaku tersebut. Setelah terbiasa memperoleh jawaban secara instan dari AI, seseorang mungkin menganggap metode yang membutuhkan waktu lebih lama sebagai cara yang tidak efisien.

Pandangan itu dapat membuat pengguna enggan melanjutkan usaha ketika chatbot tidak lagi tersedia. Padahal, proses menghadapi kesulitan dan mencoba menyelesaikan masalah sendiri merupakan bagian penting dari pembelajaran dan pembentukan keterampilan.

Meski demikian, penelitian ini belum memberikan gambaran lengkap mengenai dampak jangka panjang penggunaan AI terhadap kemampuan berpikir mandiri. Untuk mengetahuinya, peneliti perlu mengikuti orang yang sama selama periode panjang dan mengukur perkembangan kemampuan mereka secara berkala dalam berbagai jenis tugas.

Karena itu, hasil penelitian ini lebih tepat dibaca sebagai indikasi risiko ketergantungan pada AI, bukan bukti bahwa setiap penggunaan chatbot pasti menurunkan kecerdasan atau kemampuan berpikir seseorang.

Peneliti menilai desain AI dapat berperan dalam mengurangi risiko tersebut. Chatbot tidak harus selalu memberikan jawaban akhir, tetapi dapat membantu pengguna memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai solusi.

Pendekatan itu menempatkan AI sebagai pendamping belajar yang memberi arahan, bukan pengganti seluruh proses berpikir manusia.

“Kita perlu mengupayakan masa depan ketika kemampuan manusia, sejauh mungkin, diperkuat dan dikembangkan, bukan digantikan,” kata Brian Christian, salah satu penulis penelitian yang merupakan ilmuwan komputer dan peneliti di Center for Human-Compatible AI, University of California, Berkeley.

Dengan desain seperti itu, AI tetap dapat membantu menyelesaikan persoalan tanpa sepenuhnya menghilangkan kesempatan pengguna untuk berlatih, menghadapi kesulitan, dan membangun kemampuan secara mandiri.

Thumbnail 10 Pekerjaan Ini Bisa Digantikan Artificial Intelligence di Masa Depan
i

Baca Juga

10 Pekerjaan Ini Bisa Digantikan Artificial Intelligence di Masa Depan

Teknologi

BAGIKAN
Add preferred source on Google
Anda harus login untuk memberikan komentar.