- • IHSG anjlok 27,88% sepanjang tujuh bulan 2026 ke level 6.236.
- • Investor asing membukukan net sell Rp71,99 triliun hingga akhir Juli.
- • RLCO memimpin penguatan 197,45%, sementara FILM turun 92,69% ytd.
INFORMASI.COM, Jakarta – Kinerja pasar saham Indonesia sepanjang tujuh bulan pertama 2026 masih berada di bawah tekanan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga perdagangan Jumat, (31/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat di level 6.236,126 atau melemah 27,88% secara year to date (ytd).
Pada perdagangan terakhir Juli 2026, IHSG sebenarnya mampu menguat 0,80% atau 49,763 poin ke level 6.236,126. Namun, penguatan tersebut belum mampu menghapus tekanan yang terjadi sepanjang tahun berjalan.
Tekanan IHSG juga tercermin dari pergerakan sejumlah indeks utama. Hingga akhir Juli, indeks LQ45 turun 26,62% ytd, IDX30 melemah 20,01%, sedangkan IDX80 terkoreksi 29,62%. Sementara itu, indeks sektor energi menjadi salah satu yang mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 33,32% ytd.
Di tengah pelemahan IHSG, kapitalisasi pasar BEI pada 31 Juli 2026 tercatat sebesar Rp10.923 triliun atau sekitar US$605 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG yang telah disesuaikan dengan free float tercatat Rp2.713 triliun atau sekitar US$150 miliar.
Baca Juga
IHSG Berfluktuasi, Ini Strategi Saham Dividen yang Cocok untuk Investor Pemula
Ekonomi
Dari sisi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar, BBCA masih berada di posisi teratas dengan market cap sekitar Rp772 triliun. Selanjutnya terdapat BBRI dan DCII yang masing-masing sekitar Rp456 triliun, BREN Rp448 triliun, serta BYAN sekitar Rp401 triliun.
Tekanan pasar juga terlihat dari aktivitas investor asing. Sepanjang 2026 hingga akhir Juli, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp71,99 triliun, jauh lebih besar dibandingkan net sell pada perdagangan 31 Juli 2026 yang mencapai Rp250,58 miliar.
Adapun rata-rata transaksi harian sepanjang tahun berjalan tercatat mencapai 39,465 miliar saham dengan nilai transaksi Rp22,511 triliun dan frekuensi 2,533 juta kali.
Meski IHSG tertekan hampir 28%, sejumlah saham justru mampu mencatatkan pertumbuhan positif signifikan sepanjang tahun berjalan.
Berdasarkan data BEI, SMMA menjadi salah satu saham dengan kenaikan ytd terbesar, yakni 39,14%. Selanjutnya ADRO menguat 35,91%, MDKA naik 19,30%, CASA tumbuh 13,66%, dan EMAS meningkat 18,92%.
Baca Juga
Meski Asing Masih Net Sell, IHSG Buka Harapan Baru di Awal Semester II-2026
Ekonomi
Beberapa saham lainnya juga mencatatkan kenaikan signifikan, seperti AADI sebesar 32,26%, MEGA 19,88%, MAPI 33,48%, RLCO 197,45%, dan TINS 22,19%.
RLCO bahkan mencatat kenaikan harga saham paling tinggi dalam daftar top leaders ytd dengan pertumbuhan 197,45%, meskipun kontribusinya terhadap kenaikan IHSG tercatat 4,97 poin.
Di sisi lain, sejumlah saham mengalami koreksi sangat tajam sepanjang tujuh bulan pertama 2026. DSSA tercatat sebagai salah satu saham dengan penurunan terdalam, yakni mencapai 78,96% ytd.
Penurunan lebih dalam terjadi pada FILM yang merosot 92,69%, sedangkan BREN turun 65,46%, TPIA melemah 69,14%, BRPT turun 43,58%, dan BRMS terkoreksi 49,09%.
Saham berkapitalisasi besar juga tidak luput dari tekanan. BBCA turun 21,67%, BBRI melemah 16,94%, TLKM terkoreksi 24,43%, dan BMRI turun 17,84% sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga
Pasar Saham Semester I-2026, Net Sell Asing Rp73,61 Triliun Bikin IHSG Anjlok 34,74 Persen
Ekonomi
Kinerja IHSG yang turun 27,88% juga membuat pasar saham Indonesia menjadi salah satu yang berkinerja terburuk dibandingkan sejumlah bursa di kawasan.
Di ASEAN, Thailand SET Index mencatat kenaikan 28,89% ytd, Singapura 21,14%, Filipina 3,03%, dan Malaysia 2,67%. Sementara Vietnam VN-Index hanya turun 2,23%.
Dengan penurunan 27,88%, IHSG berada di peringkat keenam dalam kawasan ASEAN berdasarkan perbandingan ytd yang disajikan BEI.