- • China mengamankan dua jenderal senior Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) karen diduga melanggar sistem komando yang ditetapkan Xi Jinping, Presiden Republik Rakyat China.
- • Keduanya yakni Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli. Menurut militer China, keduanya disebut diduga melakukan korupsi dan pergerakan politik.
- • Sementara itu, media dan analis Barat menduga keduanya tergabung dalam gerakan untuk mendongkel kekuasaan Xi Jinping.
INFORMASI.COM, Jakarta - Militer China, atau Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), mengamankan dua jenderal senior yang diduga melakukan pelanggaran disiplin dan pelanggaran hukum, Sabtu (24/1/2026).
Keduanya yakni Jenderal Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC) serta anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis China (CPC), dan jenderal Liu Zhenli, anggota CMC dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan CMC.
Keduanya diamankan karena dituduh telah melemahkan otoritas komando Presiden RRC, Xi Jinping.
Dalam editorial yang akan diterbitkan pada Minggu (25/1/2026), surat kabar resmi militer China, PLA Daily, menyatakan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab tertinggi yang berada di tangan ketua CMC”.
Berdasarkan konstitusi China, pemimpin negara dan Partai Komunis China menjabat sebagai ketua CMC dan memegang kewenangan pengambilan keputusan tertinggi atas militer. Sistem tanggung jawab ketua CMC dirancang untuk memastikan kendali absolut partai atas angkatan bersenjata.
PLA Daily juga menyebut bahwa Zhang dan Liu diduga terlibat kasus korupsi. Penyelidikan terhadap Zhang dan Liu dilakukan juga demi menunjukkan sikap tegas partai bahwa dalam pemberantasan korupsi “tidak ada wilayah terlarang, tidak ada sudut yang dibiarkan, dan tidak ada toleransi”.
“ Hal ini menunjukkan tekad Partai untuk terus melanjutkan perjuangan melawan korupsi dan sikap tegas bahwa siapa pun mereka dan apa pun posisi mereka, siapa saja yang terlibat korupsi akan ditangani tanpa keringanan. ”
— Ungkap militer China dalam PLA Daily.
Selain korupsi, militer China juga menegaskan bahwa Zhang dan Liu telah membantu dan memicu munculnya masalah politik.
“ (Zhang dan Liu) secara serius membantu dan memicu masalah politik dan korupsi yang mengancam kepemimpinan absolut Partai atas angkatan bersenjata serta merusak fondasi kekuasaan Partai. ”
— Tulis PLA Daily seperti dikutip dari Xinhua, Senin (26/1/2026).
Baca Juga
Donald Trump Ancam Tarif 100 Persen untuk Kanada yang Kian Mesra dengan China
Internasional
Apakah Ada Percobaan Kudeta terhadap Xi Jinping?
Pengumuman ini mengejutkan banyak pengamat karena Zhang selama ini dipandang sebagai figur dekat Xi Jinping. Pengalaman tempur dan senioritasnya dinilai berperan penting dalam agenda reformasi untuk menjadikan PLA sebagai kekuatan militer kelas dunia.
Wall Street Journal, media AS, menyebut ada dugaan Zhang membocorkan data teknis inti tentang senjata nuklir China kepada AS.
Dugaan itu ditemukan setelah Presiden Xi dilaporkan telah mengirimkan gugus tugas khusus ke Shenyang di timur laut Tiongkok, tempat Zhang sebelumnya ditempatkan.
Gugus tugas Xi itu menginap di hotel-hotel lokal, bukan di pangkalan militer, tempat Zhang mungkin memiliki jaringan pendukung, menurut laporan Journal seperti dikutip dari New York Post.
Selain membocorkan rahasia senjata nuklir, Zhang dituduh menerima suap sebagai imbalan atas promosi jabatan, sebelum membocorkan informasi teknis tersebut kepada CIA untuk keuntungan pribadi.
Baca Juga
China Catat Surplus Perdagangan Rp20 Ribu Triliun meski Ditekan AS
Ekonomi
Menurut Dennis Wilder, pengamat militer China dan mantan kepala analisis China di CIA, patut diketahui juga bahwa militer merupakan satu-satunya organisasi di China yang memiliki sejarah menentang pemimpin Partai.
Salah satu contohnya kritik antara Peng Dehuai dan Mao Zedong pada 1959. Peng saat itu menulis surat pribadi kepada Mao untuk mengkritik program "Lompatan Jauh ke Depan." Mao menganggap kritik ini sebagai serangan pribadi dan pengkhianatan, yang berujung pada pemecatan Peng sebagai Menteri Pertahanan.
Selain itu ada juga upaya kudeta Tiongkok tahun 1971, yang sering dikenal sebagai "Insiden Lin Biao" yang melibatkan rencana gagal Wakil Ketua Partai Komunis China, Lin Biao, untuk menggulingkan Ketua Mao pada September 1971.
“ Xi kemungkinan besar khawatir bahwa Zhang sangat berkuasa di militer. Dengan asumsi Xi menginginkan masa jabatan keempat, ia harus takut bahwa Zhang dapat memimpin upaya di dalam Partai untuk menyingkirkannya. ”
— Dennis Wilder, pengamat militer China dan mantan kepala analisis China di CIA, seperti dikutip dari Financial Times.
Baca Juga
China Tolak Tarif AS terhadap Mitra Iran 25 Persen
Internasional
Apalagi, kata Wilder, setelah Zhang memenangkan persaingan dengan He Weidong, Wakil Ketua CMC kedua dari faksi rival yang disingkirkan tahun lalu.
Penyelidikan terhadap Zhang dan Liu juga berdampak langsung pada struktur CMC. Saat ini, hanya Zhang Shengmin, komisaris politik yang bertugas mengawasi investigasi korupsi, yang tersisa sebagai anggota aktif selain Xi Jinping.
Setali tiga uang, Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute menilai bahwa Zhang sudah memiliki kekuasaan yang terlalu besar di luar kendali langsung Xi. Pun, visi Zhang sudah tidak sejalan dengan Xi Jinping.
“ PLA dan Xi dalam beberapa tahun terakhir menekankan sistem tanggung jawab ketua sebagai prinsip utama disiplin PLA. Jadi, penekanan pada pelanggaran ini menunjukkan bahwa Zhang tidak sejalan dengan rantai komando Xi Jinping. ”
— Morris menerangkan.
Baca Juga
Xi Jinping: AS dan China Beda Pendapat itu Wajar
Internasional
Pembersihan Faksi-faksi di Militer oleh Xi Jinping?
James Char dari S Rajaratnam School of International Studies Singapura, justru meragukan adanya perbedaan visi Zhang terhadap Xi. Baginya, tidak mungkin Zhang berani membuka konfrontasi dengan Xi yang kekuasannya begitu besar.
“ Saya sangat meragukan bahwa Zhang Youxia atau siapa pun dalam rezim akan memiliki keberanian untuk terlibat dalam konfrontasi terbuka terhadap Xi Jinping. ”
— James Char menyatakan.
Namun, Char menambahkan bahwa kejatuhan Zhang dapat berkaitan dengan politik faksi dan praktik “mountaintop-ism”, yaitu kecenderungan pemimpin regional membangun basis kekuasaan sendiri di militer China.
Ia menyebut adanya rivalitas antara “Geng Shaanxi” yang dipimpin Zhang dan “Fujian Click” yang sebelumnya diwakili oleh He Weidong serta sejumlah pejabat yang telah disingkirkan.
“ Tidak masuk akal jika Xi hanya menyingkirkan pemimpin satu kelompok dan tidak yang lain. Apa yang telah ia lakukan sekarang membantu memastikan tidak ada faksi tertentu yang tumbuh terlalu kuat. ”
— Char menambahkan.
Baca Juga
Donald Trump dan Xi Jinping Bertemu di Korea Selatan
Internasional
Sementara itu, Ja Ian Chong dari National University of Singapore, agak ragu dengan rumor adanya gerakan kudeta terjadap Xi Jinping. Meskipun Zhang ditahan, kata Chong, tak ada ancaman langsung terhadap Xi Jinping saat ini.
“ Jelas bahwa Xi terus memiliki jangkauan kekuasaan yang signifikan dan tetap tidak tertandingi atau setidaknya mustahil untuk ditentang dalam sistem. Hal ini juga berlaku bagi para bangsawan Partai yang sebelumnya dianggap tidak tersentuh dan orang-orang yang dikenal dekat dengannya. ”
— Ja Ian Chong menerangkan.
Di sisi lain, PLA Daily menutup editorialnya dengan menegaskan bahwa penyelidikan terhadap Zhang dan Liu akan membantu militer menjalani pembaruan menyeluruh serta memberikan dorongan kuat bagi pembangunan kekuatan militer China.
Di bawah kepemimpinan Komite Sentral Partai dengan Xi Jinping sebagai inti, PLA menyatakan akan terus membersihkan segala bentuk penyimpangan dan korupsi serta tetap menjadi angkatan bersenjata yang sepenuhnya dapat dipercaya oleh Partai dan rakyat.
Baca Juga
Di China, Prabowo Sejajar dengan Putin, Xi Jinping, Kim Jong Un
Video