Israel Serang Lebanon, Trump Sebut Lebanon Tak Masuk Gencatan Senjata AS-Iran

Israel Serang Lebanon, Trump Sebut Lebanon Tak Masuk Gencatan Senjata AS-Iran
Presiden AS, Donald Trump, mengunggah video serangan AS di Isfahan, Iran, Senin (30/3/2026). Ilustrasi: Informasi.com/Rizky Prayoga
Ikhtisar
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran.
  • Trump menyebut konflik yang melibatkan Hizbullah di Lebanon sebagai “pertempuran kecil yang terpisah” dari kesepakatan utama.
  • Di tengah pernyataan itu, Iran disebut membuka peluang keluar dari gencatan senjata jika Israel terus menyerang Lebanon.

INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan itu disampaikan saat konflik di kawasan belum benar-benar mereda, terutama setelah Israel meningkatkan serangannya terhadap target Hizbullah di Lebanon.

Pernyataan Trump muncul pada Rabu (8/4/2026), ketika perhatian dunia masih tertuju pada upaya meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Namun, di saat jalur diplomasi antara dua negara itu mulai dibuka, front lain di Lebanon justru tetap memanas.

Trump menyatakan bahwa situasi di Lebanon berdiri di luar kerangka kesepakatan penghentian permusuhan yang disepakati Amerika Serikat dan Iran. Ia menilai konflik yang melibatkan Hizbullah merupakan persoalan tersendiri.

“Ya, mereka (Lebanon) tidak termasuk dalam kesepakatan itu, karena ada Hizbullah. Mereka tidak termasuk dalam kesepakatan itu. Itu juga akan diurus,” kata Trump kepada PBS News saat menjawab pertanyaan mengenai alasan Lebanon masih menjadi sasaran serangan.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa gencatan senjata yang dibangun Washington dan Teheran tidak otomatis menghentikan seluruh ketegangan di kawasan. Dalam konteks ini, Lebanon tetap menjadi titik rawan karena keterlibatan Hizbullah, kelompok bersenjata yang selama ini menjadi salah satu aktor utama dalam konflik regional yang terkait dengan Iran dan Israel.

Thumbnail Gencatan Senjata AS-Iran Diabaikan: Israel Gempur Lebanon, 254 Tewas, Iran Ancam Balas
i

Baca Juga

Gencatan Senjata AS-Iran Diabaikan: Israel Gempur Lebanon, 254 Tewas, Iran Ancam Balas

Internasional

Trump Sebut Konflik Lebanon “Terpisah” dari Kesepakatan AS-Iran

Ketika ditanya lebih jauh apakah ia menyetujui Israel untuk terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah, Trump tidak memberikan penolakan langsung. Sebaliknya, ia menggambarkan situasi itu sebagai konflik lain yang tidak berada dalam satu paket dengan kesepakatan gencatan senjata.

Trump mengklaim bahwa serangan terhadap Hizbullah merupakan bagian dari “pertempuran kecil yang terpisah”.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintahan Trump membedakan konflik langsung antara Amerika Serikat dan Iran dengan eskalasi yang melibatkan Israel dan Hizbullah di Lebanon. Dengan kata lain, penghentian tembak-menembak antara Washington dan Teheran tidak serta-merta menahan operasi militer Israel di front utara.

Posisi itu juga memperkuat kesan bahwa gencatan senjata yang diumumkan belum menciptakan stabilitas menyeluruh di Timur Tengah, melainkan baru membatasi benturan langsung di jalur tertentu.

Israel Mulai Serangan Terbesar ke Target Hizbullah

Di lapangan, situasi justru bergerak ke arah sebaliknya.

Pasukan Pertahanan Israel mengumumkan dimulainya serangkaian serangan besar terhadap target-target Hizbullah di Lebanon. Serangan itu disebut sebagai yang terbesar sejak awal eskalasi konflik berlangsung.

Militer Israel melancarkan serangan udara masif ke Beirut, Lembah Bekaa, Gunung Lebanon, Sidon, dan desa-desa selatan, pada Rabu (8/4/2026).

Korban tewas mencapai 254 orang, dan 1.165 orang alami luka-luka hanya dalam beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan.

PM Israel, Benjamin Netanyahu, berkilah Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran.

"Kami akan terus menyerang Lebanon," ujar Netanyahu dalam konferensi pers, menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak berlaku bagi Hizbullah.

Pernyataan Netanyahu itu langsung berbenturan dengan klaim mediator utama perundingan AS-Iran, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Sebelumnya, Sharif mengumumkan bahwa AS dan Iran beserta sekutu-sekutunya "telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lainnya."

Dengan kondisi itu, Lebanon kembali menjadi titik sensitif dalam peta konflik regional. Ketegangan tidak lagi hanya menyangkut hubungan Washington dan Teheran, tetapi juga melibatkan poros yang lebih luas antara Israel, Hizbullah, dan pihak-pihak yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Iran.

Thumbnail Bengalnya Netanyahu! Dukung Gencatan Senjata AS dengan Iran, tapi Tetap Mau Perang di Lebanon
i

Baca Juga

Bengalnya Netanyahu! Dukung Gencatan Senjata AS dengan Iran, tapi Tetap Mau Perang di Lebanon

Internasional

Iran Buka Peluang Tinggalkan Gencatan Senjata

Dari pihak Iran, perkembangan di Lebanon disebut berpotensi memengaruhi kelangsungan kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa Iran dapat menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan Amerika Serikat apabila Israel terus melanjutkan serangannya terhadap Lebanon.

Laporan itu menunjukkan bahwa Teheran tidak melihat konflik Lebanon sebagai isu yang sepenuhnya terpisah. Bagi Iran, tekanan militer terhadap Hizbullah dapat dibaca sebagai bagian dari eskalasi yang tetap berkaitan dengan keseimbangan konflik di kawasan.

Jika posisi itu benar-benar diambil, maka gencatan senjata yang baru dibangun bisa kembali goyah dalam waktu singkat. Artinya, jalur diplomasi yang saat ini dibuka masih sangat rapuh dan bergantung pada perkembangan di luar arena utama Amerika Serikat-Iran.

Selat Hormuz Ikut Terdampak, Lalu Lintas Tanker Dilaporkan Ditangguhkan

Ketegangan yang merembet dari Lebanon juga mulai menimbulkan dampak strategis di jalur energi global.

Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz menyusul serangan tersebut.

Langkah itu berpotensi menambah kekhawatiran pasar internasional, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Gangguan di kawasan ini kerap memicu kecemasan terhadap pasokan minyak dan stabilitas harga energi global.

Jika penangguhan itu berlangsung lebih lama, efeknya tidak hanya bersifat militer atau diplomatik, tetapi juga dapat menjalar ke sektor perdagangan, logistik, dan pasar energi internasional.

Thumbnail Ini 10 Syarat Iran untuk Gencatan Senjata dengan AS yang Disepakati Donald Trump
i

Baca Juga

Ini 10 Syarat Iran untuk Gencatan Senjata dengan AS yang Disepakati Donald Trump

Internasional

Gencatan Senjata Belum Menjamin Kawasan Benar-Benar Tenang

Pernyataan Trump dan perkembangan terbaru di Lebanon memperlihatkan satu hal penting: gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum otomatis menutup seluruh titik konflik di Timur Tengah.

Di satu sisi, Washington dan Teheran memang sedang mencoba menghentikan benturan langsung. Namun di sisi lain, serangan Israel ke Lebanon, ancaman respons Iran, dan gangguan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa eskalasi tetap bisa bergerak lewat jalur lain.

Dengan demikian, konflik kawasan kini tampak memasuki fase yang lebih rumit. Bukan lagi sekadar soal perang terbuka antara dua negara, tetapi juga soal bagaimana perang itu menjalar melalui sekutu, milisi, dan jalur strategis yang saling terhubung.

BAGIKAN
Anda harus login untuk memberikan komentar.