- • Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi serangan baru terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di sekitar Selat Hormuz.
- • Trump juga memperingatkan Iran bahwa serangan yang lebih besar masih menanti.
- • Ancaman Trump muncul hanya beberapa jam setelah mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian menawarkan kembalinya Iran ke meja perundingan.
INFORMASI.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan ancamannya terhadap Iran setelah militer AS melancarkan serangan baru terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di dekat Selat Hormuz.
Trump bahkan memperingatkan Tehran bahwa serangan terbaru tersebut bukan serangan terbesar yang disiapkan Washington. Ia menyebut serangan yang lebih dahsyat masih menunggu jika Iran membalas.
“Amerika Serikat, saat ini, sedang menyerang target-target Iran di dekat Selat Hormuz. Serangan tersebut besar dan kuat,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social, Selasa (1/9/2026).
Trump mengatakan serangan itu merupakan respons terhadap upaya Iran memasang ranjau laut di Selat Hormuz serta serangan delapan rudal yang menurutnya diarahkan ke pangkalan militer AS di Yordania.
Menurut Trump, seluruh rudal tersebut berhasil dicegat. Ia kemudian mengeluarkan peringatan langsung kepada Tehran.
“Jika Iran, negara yang gagal itu, membalas serangan yang sangat beralasan ini, mereka akan dihantam lagi dengan tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi,” kata Trump.
Namun, Trump mengatakan serangan berikutnya masih belum menjadi serangan terbesar yang disiapkan Washington.
“Serangan terbesar dari semuanya masih menunggu, dan ketika itu selesai, hanya akan tersisa sangat sedikit dari Republik Islam Iran,” ujarnya.
Baca Juga
Donald Trump: Iran Negara Gagal dan Sudah Mati, Inflasi 350 Persen
Internasional
Serangan AS Dimulai di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi operasi militer tersebut dimulai pada tengah hari waktu Amerika Serikat bagian timur.
“Hari ini pukul 12.00 ET, pasukan AS mulai menyerang target Korps Garda Revolusi Islam di Iran,” tulis CENTCOM melalui X.
CENTCOM menyebut serangan tersebut berkaitan dengan dugaan serangan IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel militer AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.
Ledakan kemudian dilaporkan terjadi di Qeshm, pulau yang berada di sisi utara Selat Hormuz. Media pemerintah Iran juga melaporkan ledakan di Bandar Abbas dan Chabahar di pesisir selatan Iran.
Serangan terbaru itu memperkecil peluang pertukaran serangan pada akhir pekan hanya menjadi insiden singkat. Washington dan Tehran kini kembali berada dalam siklus serangan dan ancaman balasan.
Situasi tersebut juga memberi tekanan baru kepada pasar energi global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia, sementara Iran telah membuat jalur tersebut efektif tertutup bagi pelayaran.
Tehran juga memperingatkan akan mencegah ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Baca Juga
Iran akan Terus Lawan AS meski Krisis Ekonomi Makin Menjepit
Internasional
Iran Tawarkan Negosiasi Saat Bom AS Jatuh
Eskalasi militer terjadi hanya beberapa jam setelah Pezeshkian menyatakan Iran masih membuka peluang untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat.
Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgizstan. Ia mengatakan Iran siap kembali memenuhi kesepakatan apabila Washington lebih dahulu menjalankan kewajibannya.
“Jika AS kembali memenuhi kewajibannya dalam nota kesepahaman tersebut, Republik Islam Iran akan segera membalas dengan langkah yang sama,” kata Pezeshkian, menurut kantor berita Iran, IRNA.
Menurut Pezeshkian, proses negosiasi selama sekitar tiga bulan yang melibatkan Pakistan dan Qatar sebelumnya menghasilkan nota kesepahaman sementara yang disebut Islamabad Memorandum of Understanding.
Namun, ia menilai komitmen Washington terhadap dokumen tersebut tidak berlangsung lama.
“Komitmen AS terhadap dokumen yang ditandatangani presiden negara itu berlangsung kurang dari dua minggu, kemudian tuntutan berlebihan negara tersebut dan pengingkaran terhadap komitmennya dimulai dan masih berlanjut,” kata Pezeshkian.
Pezeshkian juga mengatakan Iran telah memberikan respons yang sepadan terhadap pelanggaran yang dilakukan Amerika Serikat terhadap kesepakatan pada Juni.
Baca Juga
Presiden Iran Bertemu Vladimir Putin: Terima Kasih Sudah Dukung Iran Melawan AS
Internasional
Isi Kesepakatan yang Kini Terancam Gagal
Nota kesepahaman tersebut sebelumnya mengatur sejumlah langkah untuk meredakan ketegangan di sekitar Selat Hormuz.
Iran menyepakati penghapusan ranjau dari jalur pelayaran dan membuka akses bagi kapal untuk melintas di jalur strategis tersebut.
Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menyepakati penghentian blokade laut, pencabutan sanksi, pemberian pengecualian yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak, serta pembahasan paket rekonstruksi bagi Iran.
Namun, kesepakatan sementara itu tidak berkembang menjadi perjanjian perdamaian permanen.
Batas waktu 60 hari yang ditetapkan pada Juni untuk mencapai kesepakatan final mengenai sejumlah persoalan, termasuk program nuklir Iran, berakhir bulan lalu tanpa terobosan.
Upaya negara-negara kawasan untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi juga belum menghasilkan kesepakatan. Pakistan, Qatar, dan Oman mengirim delegasi ke Tehran pada pekan lalu untuk kembali membuka pembicaraan.
Persoalan mengenai masa depan Selat Hormuz tetap menjadi salah satu hambatan utama.
Baca Juga
China Kecam Blokade AS di Selat Hormuz, Sebut Bisa Perburuk Ketegangan
Internasional
Iran Perkuat Pertahanan Udara
Di tengah serangan terbaru AS, Iran juga menyiapkan pertahanan menghadapi kemungkinan operasi militer lanjutan.
Angkatan bersenjata Iran menyatakan unit pertahanan udara telah ditempatkan di lebih dari 3.800 lokasi di seluruh negeri.
Seorang jenderal Iran mengatakan sejumlah lokasi tersebut berada di wilayah yang sulit dijangkau.
“Banyak dari lokasi ini berada di daerah yang sulit diakses. Iran merupakan negara dengan kondisi geografis yang beragam, dan pasukan pertahanan udara ditempatkan di gurun, pesisir, pulau, serta wilayah pegunungan,” kata jenderal tersebut kepada televisi pemerintah Iran.
Brigadir Jenderal Kedua Mohammad Sadeghian mengatakan sekitar 160 personel pertahanan udara Iran telah tewas dalam konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak Oktober 2024.
Perkembangan terbaru ini membuat dua jalur penyelesaian konflik berjalan berlawanan. Iran masih menyatakan kesediaan kembali ke perundingan, tetapi Amerika Serikat justru melancarkan serangan baru dan Trump mengancam operasi yang lebih besar.
Pada saat yang sama, ancaman terhadap Selat Hormuz menambah risiko bagi pelayaran dan pasokan minyak global. Trump menyatakan serangan terbesar Washington masih berada “di balik layar”, sementara Tehran belum menunjukkan tanda akan menghentikan tekanannya terhadap ekspor minyak dari kawasan Teluk.