- • Harga minyak kembali naik pada Senin, 28 September 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
- • Harga Brent sempat naik lebih dari 3 persen, sementara WTI juga menguat karena pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
- • Kenaikan harga terjadi meski ekspor minyak negara-negara utama Timur Tengah mulai pulih pada September 2026, menunjukkan pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
INFORMASI.COM, Jakarta - Harga minyak dunia kembali naik pada Senin, 28 September 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal Iran yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Brent crude futures sempat naik lebih dari 3 persen dalam perdagangan Senin. Pada salah satu posisi perdagangan yang dilaporkan Reuters, Brent naik US$1,32 atau 1,27 persen menjadi US$105,64 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,70 atau 0,76 persen menjadi US$93,11 per barel.
Dalam perkembangan perdagangan berikutnya, Reuters mencatat Brent naik US$1,82 atau 1,74 persen menjadi US$106,14 per barel, sedangkan WTI naik US$1,14 atau 1,23 persen menjadi US$93,55 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana pasar merespons perubahan ekspektasi terhadap penyelesaian konflik AS-Iran.
Trump Tolak Proposal Iran
Iran sebelumnya menawarkan rencana untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari melalui jalur diplomatik yang melibatkan Qatar.
Trump mengatakan pada Sabtu, 26 September 2026, bahwa ia menolak proposal tersebut. Namun, pada Minggu, Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Iran kemungkinan kembali berlangsung pada pekan ini.
Situasi tersebut membuat pasar menghadapi dua sinyal yang berlawanan: penolakan terhadap proposal Iran meningkatkan risiko konflik berlanjut, sementara rencana melanjutkan pembicaraan masih membuka kemungkinan adanya terobosan diplomatik.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Buka Hormuz, Diplomasi Kembali Menemui Jalan Buntu
Internasional
Hormuz Menjadi Pusat Perhatian Pasar
Selat Hormuz menjadi faktor utama di balik pergerakan harga minyak.
Jalur laut yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan salah satu koridor utama pengiriman minyak dan produk energi dari kawasan Teluk ke pasar internasional.
Reuters melaporkan bahwa ekspor minyak negara-negara utama Timur Tengah meningkat kembali pada September menjadi sekitar 12,8 juta barel per hari, sementara arus minyak melalui Hormuz diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari bulan ini.
Namun, pasar tetap memperhitungkan risiko karena akses melalui jalur tersebut masih bergantung pada perkembangan konflik dan keamanan pelayaran.
Harga Minyak Kembali ke Atas US$100
Kenaikan pada 28 September 2026 membawa Brent kembali ke atas level US$100 per barel.
Sebelum perkembangan terbaru, harga minyak sempat tertekan ketika Iran menyatakan kesediaannya membuka kembali Hormuz jika Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pada 22 September 2026, Reuters melaporkan Brent berada di sekitar US$99,94 per barel, sementara WTI sekitar US$95,43. Pasar ketika itu merespons kemungkinan pembicaraan baru antara Washington dan Teheran serta meningkatnya arus minyak melalui Hormuz.
Penolakan Trump kemudian mengubah ekspektasi pasar.
Baca Juga
Rusia Gencarkan Serangan ke Ukraina, Hampir 4.000 Drone dan Rudal dalam Sepekan
Internasional
Bukan Hanya Hormuz
Risiko terhadap pasokan energi juga datang dari kawasan lain.
Pada akhir pekan, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua drone yang diluncurkan kelompok Houthi menuju wilayah Saudi.
Serangan tersebut terjadi ketika kawasan masih menghadapi ketegangan akibat konflik Iran-AS dan gangguan terhadap jalur pelayaran regional.
Analis ANZ yang dikutip Reuters mengatakan risiko geopolitik tetap tinggi karena serangan Houthi dan Iran terhadap Saudi membuat arus pasokan kawasan tetap rentan.
Kondisi tersebut membuat pasar tidak hanya memperhatikan Selat Hormuz, tetapi juga keamanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Laut Merah.
EIA: Gangguan Hormuz Sudah Mengubah Pasar
Dampak gangguan Hormuz bukan persoalan baru.
Dalam laporan resmi Juni 2026, U.S. Energy Information Administration (EIA) menyatakan produsen minyak Timur Tengah telah memangkas produksi lebih dari 11 juta barel per hari akibat gangguan produksi dan pengiriman.
EIA juga mencatat persediaan minyak negara-negara OECD turun ke level terendah sejak 2003. Lembaga tersebut memperkirakan harga Brent rata-rata sekitar US$105 per barel pada Juni dan Juli 2026 ketika pengiriman masih terbatas dan produksi serta persediaan menurun.
EIA pada saat itu memperkirakan harga dapat turun apabila arus pasokan dan produksi kembali normal. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan normalisasi tersebut masih sangat bergantung pada kondisi geopolitik.
Pasar Menghadapi Dua Risiko
Pergerakan minyak pada 28 September 2026 memperlihatkan dua risiko yang sedang dihitung investor.
Pertama, risiko geopolitik. Jika konflik AS-Iran kembali meningkat, gangguan terhadap Hormuz dapat bertahan lebih lama dan membatasi pasokan energi.
Kedua, risiko diplomatik. Jika pembicaraan Washington-Teheran kembali berlangsung dan menghasilkan kesepakatan, pembukaan Hormuz dapat meningkatkan pasokan dan mengurangi premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Karena itu, setiap pernyataan Trump, pemerintah Iran, maupun mediator seperti Qatar berpotensi memengaruhi harga minyak.
Diplomasi dan Minyak Bergerak Bersamaan
Kenaikan harga minyak pada 28 September 2026 tidak semata-mata disebabkan oleh perubahan produksi. Pasar sedang merespons ketidakpastian mengenai masa depan konflik dan jalur pelayaran.
Penolakan Trump terhadap proposal Iran meningkatkan kekhawatiran bahwa pembukaan Hormuz belum segera terjadi. Namun, pernyataan Trump mengenai kemungkinan pembicaraan baru membuat jalur diplomasi tetap terbuka.
Dengan demikian, pasar minyak global kini berada di antara dua kemungkinan: eskalasi yang dapat memperketat pasokan atau diplomasi yang dapat membuka kembali arus energi.
Hingga 28 September 2026, belum ada kesepakatan baru yang menjamin pembukaan kembali Selat Hormuz. Selama ketidakpastian tersebut bertahan, perkembangan politik di Washington dan Teheran akan terus menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga minyak dunia.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Tembus US$107, Dampaknya Mulai Terasa di Indonesia
Internasional