- • Perbedaan pendidikan Indonesia, Singapura, Australia, dan Malaysia tidak hanya terlihat dari skor PISA, tetapi juga dari kurikulum, sistem asesmen, jalur pendidikan, dan tingkat fleksibilitas belajar.
- • Singapura memiliki sistem yang kuat dalam matematika, sains, dan literasi, tetapi kini juga memperluas jalur belajar agar siswa tidak terlalu berorientasi pada nilai akademik.
- • Australia memberikan ruang lebih besar bagi sekolah dan guru untuk menyesuaikan pembelajaran, sedangkan Malaysia memiliki sistem nasional dengan jalur sekolah kebangsaan dan sekolah jenis kebangsaan.
INFORMASI.COM, Jakarta — Ketika membicarakan kualitas pendidikan suatu negara, peringkat internasional sering menjadi angka pertama yang muncul. Salah satu yang paling sering digunakan adalah Programme for International Student Assessment (PISA) dari OECD.
Dalam PISA 2022, Singapura berada di posisi teratas dalam matematika, membaca, dan sains dengan skor masing-masing 575, 543, dan 561. Australia juga berada di atas rata-rata OECD dalam ketiga bidang tersebut. Sementara Indonesia mencatat penurunan skor dibandingkan 2018 dan hasil 2022 termasuk yang terendah dalam sejarah partisipasinya. Malaysia mencatat skor 409 untuk matematika, 388 untuk membaca, dan 416 untuk sains.
Namun, membandingkan pendidikan hanya berdasarkan ranking tidak cukup. Di balik angka tersebut terdapat sistem yang berbeda dalam menentukan apa yang dipelajari siswa, bagaimana kemampuan mereka dinilai, seberapa besar kewenangan guru, hingga bagaimana siswa diarahkan setelah menyelesaikan sekolah.
Indonesia: Masih Mengejar Pemerataan dan Penguatan Fondasi
Indonesia memiliki tantangan yang sangat berbeda karena ukuran dan kondisi geografisnya.
Pemerintah saat ini mendorong Wajib Belajar 13 Tahun, yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah sebagai bagian dari upaya memperluas akses sekaligus memperkuat fondasi pendidikan anak. Kebijakan tersebut menjadi salah satu prioritas pendidikan nasional pada 2026.
Di sisi pembelajaran, Indonesia juga terus mengembangkan pendekatan yang memberikan ruang lebih besar bagi asesmen formatif dan pembelajaran sesuai tahap kemampuan peserta didik.
Baca Juga
Komentar Netizen usai Sidang MK soal Ijazah Gibran: Jadi Gibran Gak Bisa Ikut Capres-Cawapres 2029?
Nasional
Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, misalnya, asesmen formatif digunakan untuk mengetahui kebutuhan belajar siswa dan menjadi dasar bagi guru untuk merancang pembelajaran berikutnya. Pada tahap implementasi yang lebih maju, pembelajaran dapat disesuaikan dengan capaian masing-masing peserta didik.
Tantangannya adalah memastikan pendekatan tersebut dapat berjalan secara konsisten di sekolah dengan kondisi yang sangat beragam.
Data PISA 2022 menunjukkan persoalan tersebut masih besar. OECD mencatat hanya 85 persen siswa Indonesia yang mengikuti pendidikan prasekolah setidaknya satu tahun, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 94 persen. Sebanyak 18 persen siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan kapasitas pembelajaran terhambat kekurangan tenaga pengajar.
Karena itu, persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya bagaimana meningkatkan nilai akademik, tetapi juga bagaimana memastikan akses, kualitas guru, fasilitas, dan fondasi belajar lebih merata.
Baca Juga
MK Tolak Permohonan Denny Indrayana Cs soal Ijazah dan Diskualifikasi Gibran
Nasional
Singapura: Sistem Ketat, tetapi Mulai Lebih Fleksibel
Singapura menjadi contoh menarik karena sistemnya terkenal sangat terstruktur dan kompetitif, tetapi pemerintahnya juga melakukan perubahan untuk mengurangi tekanan akademik.
Di tingkat dasar, siswa mendapatkan fondasi kuat dalam Bahasa Inggris, matematika, dan bahasa ibu, disertai mata pelajaran seperti sains, seni, musik, pendidikan karakter, ilmu sosial, dan pendidikan jasmani. Setelah enam tahun pendidikan dasar, siswa mengikuti Primary School Leaving Examination (PSLE).
Namun, sistem Singapura tidak berhenti pada satu jalur akademik.
Sejak 2024, Full Subject-Based Banding diterapkan di sekolah menengah. Siswa dapat mengambil mata pelajaran pada tingkat yang berbeda berdasarkan kemampuan dan kebutuhannya, sehingga jalur belajar tidak sepenuhnya ditentukan oleh satu kategori kemampuan.
Singapura juga mengurangi sejumlah bentuk evaluasi yang dianggap menambah tekanan. Ujian tengah tahun telah dihapus di seluruh jenjang dasar, menengah, dan junior college sejak 2025. Sistem pendidikan juga semakin menekankan kompetensi abad ke-21 dan perkembangan siswa secara menyeluruh.
Menariknya, perubahan tersebut berjalan bersamaan dengan capaian akademik yang tetap tinggi. Dalam PISA 2022, Singapura mencatat skor tertinggi di antara seluruh peserta dalam matematika, membaca, dan sains.
Artinya, sistem yang kuat secara akademik tidak selalu harus berhenti pada kompetisi nilai. Singapura kini mencoba mencari keseimbangan antara prestasi, fleksibilitas, dan perkembangan individu.
Baca Juga
MK Klaim Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Milik Gibran, Certificate of Attendance Dipersoalkan
Nasional
Australia: Kurikulum Nasional, Pelaksanaan Lebih Fleksibel
Australia memiliki pendekatan yang cukup berbeda.
Negara tersebut memiliki Australian Curriculum yang menetapkan apa yang perlu dipelajari siswa, tetapi pelaksanaannya menjadi tanggung jawab negara bagian, teritori, dan otoritas pendidikan nonpemerintah. Sekolah dan guru memiliki ruang untuk menentukan waktu pelaksanaan, praktik pembelajaran, serta sumber belajar.
Kurikulum Australia juga tidak hanya berisi mata pelajaran akademik.
Ada delapan area pembelajaran, termasuk bahasa Inggris, matematika, sains, humaniora dan ilmu sosial, kesehatan dan pendidikan jasmani, bahasa, teknologi, serta seni. Di dalamnya terdapat pula kemampuan seperti literasi, numerasi, literasi digital, berpikir kritis dan kreatif, kemampuan sosial, pemahaman lintas budaya, serta kemampuan etis.
Pendekatan tersebut membuat kurikulum tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan yang dapat digunakan siswa dalam kehidupan dan pekerjaan.
Hasil PISA 2022 menunjukkan siswa Australia berada di atas rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Namun, OECD juga mencatat adanya penurunan performa jangka panjang dibandingkan awal 2000-an.
Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang memiliki capaian relatif tinggi pun tetap menghadapi tantangan dan harus terus beradaptasi.
Malaysia: Sistem Nasional dengan Jalur Sekolah yang Beragam
Malaysia memiliki sistem pendidikan nasional yang terstruktur mulai dari prasekolah, pendidikan rendah, menengah, hingga pendidikan selepas menengah.
Pada tingkat pendidikan rendah, pemerintah mengelola sekolah kebangsaan serta sekolah jenis kebangsaan, termasuk sekolah jenis kebangsaan Cina dan Tamil. Pendidikan menengah kemudian mencakup jalur akademik, teknik dan vokasional, serta sekolah kebangsaan agama.
Kurikulum nasional Malaysia sendiri tidak hanya ditujukan untuk transfer pengetahuan. Pemerintah mendefinisikannya sebagai program yang mencakup pengetahuan, keterampilan, norma, nilai, unsur kebudayaan, dan kepercayaan untuk mengembangkan siswa secara jasmani, rohani, mental, dan emosional.
Malaysia juga sedang menyiapkan Kurikulum Persekolahan 2027 sebagai bagian dari perubahan sistem pendidikan. Pemerintah menyebut kurikulum baru tersebut diarahkan agar lebih fleksibel, relevan, dan kontekstual.
Pada 2026, Malaysia juga meluncurkan Rancangan Pendidikan Negara 2026–2035 yang mencakup agenda peningkatan mutu, pemerataan, profesionalisme pendidik, infrastruktur, kurikulum, dan kesiapan menghadapi teknologi serta AI.
Perbedaannya Bukan Sekadar Nilai Ujian
Jika dibandingkan, keempat negara memiliki titik tekan yang berbeda.
Indonesia sedang menghadapi pekerjaan besar untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemerataan mutu. Singapura memiliki sistem yang sangat terstruktur dengan standar akademik tinggi, tetapi kini memperbesar fleksibilitas jalur belajar. Australia memberikan ruang lebih besar kepada negara bagian, sekolah, dan guru dalam menerjemahkan kurikulum nasional. Sementara Malaysia mempertahankan kerangka pendidikan nasional dengan beberapa jenis sekolah dan jalur pendidikan.
Perbedaan tersebut juga terlihat dalam cara sistem memandang siswa.
Di Singapura, perubahan menuju Full Subject-Based Banding menunjukkan upaya memberi ruang bagi siswa untuk mengambil mata pelajaran sesuai kekuatan masing-masing. Di Australia, kurikulum secara eksplisit memasukkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, dan kemampuan sosial. Indonesia melalui pendekatan pembelajaran berdiferensiasi juga mengarah pada penyesuaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik. Malaysia, melalui reformasi kurikulum 2027, tengah mendorong sistem yang lebih fleksibel dan relevan.
Jadi, Mana yang Paling Bagus?
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak bisa dijawab hanya dengan melihat satu ranking.
Setiap negara menghadapi persoalan berbeda. Indonesia harus mengelola sistem pendidikan dalam wilayah yang sangat luas dan jumlah peserta didik yang besar. Singapura memiliki skala negara yang jauh lebih kecil dengan sistem pendidikan yang sangat terpusat. Australia memberikan kewenangan besar kepada negara bagian dan teritori, sedangkan Malaysia memiliki karakter masyarakat dan struktur sekolah yang berbeda.
Karena itu, angka PISA lebih tepat digunakan sebagai indikator capaian tertentu, bukan sebagai satu-satunya ukuran kualitas pendidikan.
Yang lebih menarik justru melihat bagaimana masing-masing negara merespons tantangan: bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa dinilai, bagaimana sekolah diberi kewenangan, bagaimana pendidikan vokasi dibangun, serta bagaimana sistem mempersiapkan anak menghadapi perubahan teknologi dan dunia kerja.
Pada akhirnya, perbedaan pendidikan Indonesia dengan Singapura, Australia, dan Malaysia bukan sekadar soal siapa yang memiliki ranking lebih tinggi. Perbedaannya terletak pada cara masing-masing negara merancang pengalaman belajar dan menyiapkan generasi mudanya menghadapi masa depan.