- • AS dan Iran menyetujui penghentian perang selama dua minggu yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Rabu (8/4/2025) pagi waktu Indonesia.
- • Dalam kesepakatan itu, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur maritim vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia.
- • Proses negosiasi untuk memfinalisasi perjanjian damai akan dimulai di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2025).
INFORMASI.COM, Jakarta – Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan itu pada Rabu (8/4/2025) WIB.
Menurut Trump, Iran telah mengirim surat dengan 10 poin syarat yang mencakup komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial tempat seperlima pasokan minyak dunia melintas.
Rencananya, perundingan untuk memfinalisasi kesepakatan damai akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (11/4/2025).
Pengumuman mendadak ini langsung menuai sambutan dari berbagai negara dan organisasi internasional. Berikut ini reaksi lengkap yang berhasil dihimpun.
Baca Juga
Donald Trump Sebut AS Setujui Gencatan Senjata 14 Hari dengan Iran
Internasional
Indonesia
Indonesia, melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa Jakarta menyambut baik kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Dalam maklumatnya, Indonesia menyerukan kepada Iran dan AS untuk saling menghormati “kedaulatan, integritas wilayah, dan diplomasi” masing-masing pihak.
Indonesia juga mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh atas tewasnya tiga tentara penjaga perdamaian PBB asal Indonesia yang gugur akibat ledakan di Lebanon, akhir Maret lalu di tengah pertempuran antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah.
Irak
Kementerian Luar Negeri Irak menyambut gembira kabar gencatan senjata itu AS-Iran. Namun, Irak menegaskan bahwa baik AS maupun Iran harus berkomitmen penuh terhadap kesepakatan demi mencapai resolusi yang langgeng.
“Irak menegaskan dukungannya terhadap upaya regional dan internasional untuk mengendalikan krisis serta mengutamakan bahasa dialog dan diplomasi. Kementerian juga menekankan perlunya komitmen penuh terhadap gencatan senjata dan menghindari segala bentuk eskalasi,” dalam laporan Kementerian Luar Negeri Irak, Rabu.
Sebagai informasi, Irak sebelumnya terseret ke dalam perang AS-Israel melawan Iran, di mana kelompok bersenjata yang didukung Tehran dan pasukan AS saling tembak dalam siklus kekerasan yang terus meningkat.
Mesir
Kementerian Luar Negeri Mesir menyebut gencatan senjata itu “mewakili peluang yang sangat penting yang harus dimanfaatkan untuk memberi ruang bagi negosiasi, diplomasi, dan dialog konstruktif.”
Dalam sebuah unggahan di Facebook, Mesir menyatakan bahwa gencatan senjata harus dibangun dengan komitmen penuh terhadap “penghentian operasi militer dan penghormatan terhadap kebebasan navigasi internasional.”
Mesir juga berjanji akan terus berupaya bersama Pakistan dan Turki “untuk mendorong keamanan dan stabilitas di kawasan”, seraya menambahkan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran “harus mempertimbangkan keprihatinan keamanan yang sah” dari negara-negara Teluk.
Baca Juga
Ini 10 Syarat Iran untuk Gencatan Senjata dengan AS yang Disepakati Donald Trump
Internasional
Oman
Kementerian Luar Negeri Oman menyambut pengumuman tersebut dan mengapresiasi “upaya Pakistan dan semua pihak yang menyerukan pengakhiran perang.”
“Kami menegaskan pentingnya mengintensifkan upaya sekarang untuk menemukan solusi yang dapat mengakhiri krisis dari akarnya dan mencapai penghentian permanen keadaan perang dan permusuhan di kawasan,” bunyi pernyataan Kemenlu Oman via akun resmi X, Rabu.
PBB
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, menyerukan kepada semua pihak untuk mematuhi ketentuan gencatan senjata “demi membuka jalan menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan.”
“Bahwa penghentian permusuhan sangat mendesak untuk melindungi nyawa warga sipil dan mengurangi penderitaan kemanusiaan," kata Guterres, Rabu.
Ia juga berterima kasih kepada Pakistan dan negara-negara lain yang memfasilitasi tercapainya gencatan senjata.
Jepang
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan negaranya menyambut baik kabar gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran.
"Gencatan senjata AS-Iran sebagai langkah positif sambil menunggu kesepakatan final,” kata Minoru Kihara, dilansir dari Kyodo News Agency.
Minoru menyatakan bahwa de-eskalasi permusuhan di Timur Tengah tetap menjadi prioritas utama.
Baca Juga
Trump Dilaporkan Sepakat Cabut Sanksi Ekonomi dan Bayar Kompensasi kepada Iran
Internasional
Malaysia
Kementerian Luar Negeri Malaysia menilai gencatan senjata itu sebagai perkembangan signifikan.
"Sebagai langkah krusial menuju pengurangan ketegangan serta pemulihan perdamaian dan stabilitas yang sangat dibutuhkan di Timur Tengah."
Malaysia juga mendesak semua pihak untuk sepenuhnya menghormati dan melaksanakan semua ketentuan gencatan senjata dengan itikad baik untuk mencegah kembalinya permusuhan.
Selain itu, semua negara diharapkan menghindari tindakan provokatif yang dapat berdampak negatif terhadap stabilitas kawasan atau membahayakan keamanan dan energi ekonomi global.
Australia
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dan Menteri Luar Negeri, Penny Wong, mengeluarkan pernyataan bersama. Mereka menyambut baik kabar tersebut dan menyatakan harapan agar kesepakatan itu mengarah pada resolusi jangka panjang.
“Penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran, ditambah dengan serangannya terhadap kapal-kapal dagang, infrastruktur sipil, serta fasilitas minyak dan gas, telah menyebabkan guncangan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berdampak pada harga minyak dan bahan bakar,” demikian bunyi pernyataan mereka.
“Kami telah menyatakan dengan jelas bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap perekonomian global, dan semakin besar pula korban jiwa yang ditimbulkan,” pernyataan pemerintah Australia.
Baca Juga
Bengalnya Netanyahu! Dukung Gencatan Senjata AS dengan Iran, tapi Tetap Mau Perang di Lebanon
Internasional
Selandia Baru
Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menyambut baik gencatan senjata, tetapi mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
“Meskipun kabar ini menggembirakan, masih ada pekerjaan penting yang signifikan harus dilakukan dalam beberapa hari ke depan untuk mengamankan gencatan senjata yang langgeng,” tulisnya di X.
Jerman
Terakhir, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyambut baik gencatan senjata itu dan berterima kasih kepada Pakistan atas perannya sebagai mediator. Ia menyatakan bahwa tujuan dalam beberapa hari ke depan adalah menegosiasikan “pengakhiran perang yang langgeng” melalui jalur diplomatik.
Baca Juga
Alhamdulillah, Harga Minyak Turun usai Trump Umumkan Gencatan Senjata AS-Iran
Ekonomi